Palembang Diselimuti Kabut Asap, Warga Keluhkan Udara Makin Sesak

Kualitas udara Palembang memburuk akibat asap karhutla, dengan konsentrasi PM2.5 menurut IQAir sempat mencapai 900–1.025 µg/m³ pada dini hari.
Topografi Palembang yang rendah dan pergerakan angin disebut membuat asap dari kebakaran sekitar kota berkumpul, sehingga kabut asap menyelimuti wilayah tersebut beberapa hari.
Warga mengeluhkan sesak napas dan mata perih, sementara Sumsel mencatat 3.059 titik panas hingga 2 Oktober 2026, tertinggi sepanjang tahun.
Palembang, IDN Times - Kualitas udara di Kota Palembang kembali memburuk di tengah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatra Selatan (Sumsel). Konsentrasi polutan PM2.5 bahkan sempat mencapai 900-1.025 mikrogram per meter kubik (µg/m³) berdasarkan data IQAir.
Kondisi tersebut membuat kabut asap menyelimuti Palembang dalam beberapa hari terakhir. Keluhan masyarakat pun bermunculan, mulai dari udara yang terasa menyesakkan hingga mata perih saat beraktivitas di luar rumah.
Berikut sejumlah catatan yang dirangkum IDN Times di tengah memburuknya kualitas udara Palembang:
1. PM2.5 Palembang tembus 1.025 mikrogram per meter kubik

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Konsentrasi PM2.5 di Palembang berdasarkan pemantauan IQAir mencapai 900-1.025 mikrogram per meter kubik pada dini hari. Angka tersebut menunjukkan kondisi pencemaran udara yang sangat tinggi dan berisiko bagi kesehatan.
Polusi udara terjadi ketika asap karhutla dari sejumlah wilayah di sekitar Palembang terbawa angin dan menyelimuti kota. Palembang menjadi salah satu wilayah yang terdampak asap dari kebakaran yang terjadi di sejumlah daerah di sekitarnya.
2. Asap disebut berkumpul di Palembang

Kabut asap yang menyelimuti kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal) Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan kondisi geografis Palembang turut memengaruhi penumpukan asap. Kota Palembang yang berada di wilayah dengan topografi rendah membuat asap lebih mudah berkumpul.
"Palembang ini memang tempatnya berkumpulnya asap dengan topografi rendah," kata Deru.
Pergerakan angin juga membawa asap karhutla menuju wilayah Palembang. Kondisi tersebut membuat polusi semakin terasa ketika kebakaran masih terjadi.
3. Warga mengaku sesak hingga terbangun saat tidur

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Memburuknya kualitas udara juga dirasakan langsung masyarakat. Salah satu warga Palembang, Yanti, mengaku udara pada Jumat, 2 Oktober 2026, terasa sangat menyesakkan.
Ia mengatakan asap bahkan terasa masuk ke dalam rumah pada dini hari meski pintu dan jendela telah ditutup rapat. Ventilasi dan pendingin ruangan pun dinilai tidak mampu sepenuhnya menahan kondisi udara di luar.
"Sangat menyesakkan dada, bahkan saat tertidur saya harus terbangun karena kondisi udara yang sangat buruk. Membuat saya sesak napas. Belum lagi saat keluar rumah mata terasa perih," ujar Yanti.
Menurutnya, kondisi udara mulai terasa semakin buruk dalam beberapa hari terakhir. Hujan yang sempat mengguyur Palembang sebelumnya memang membuat kualitas udara terasa lebih baik, meski hujan hanya terjadi secara lokal.
Namun, kondisi kembali memburuk sejak Jumat pagi. Kabut asap disebut membuat langit terlihat tertutup dan sinar matahari tidak lagi terasa seperti biasanya.
4. Warga minta pemerintah tidak hanya mengimbau

Kondisi kabut asap menyelimuti perairan Sungai Musi kota Palembang, Rabu 12 Agustus 2026. ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI Yanti berharap, pemerintah mengambil langkah nyata untuk menangani persoalan asap yang kembali menyelimuti Palembang.
"Kami harap ada langkah nyata pemerintah, jangan hanya mengimbau masyarakat," jelasnya.
Keluhan tersebut muncul ketika masyarakat harus kembali beraktivitas di tengah kondisi udara yang memburuk akibat kabut asap.
5. Hotspot Sumsel mencapai 3.059 titik

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Di sisi lain, tingginya polusi udara terjadi bersamaan dengan meningkatnya titik panas di Sumsel. Hingga Jumat, 2 Oktober, tercatat 3.059 titik panas terpantau di Sumsel. Sebanyak 2.062 titik berada di lahan gambut, sedangkan 907 titik lainnya berada di lahan mineral.
Kondisi lahan yang kering, terutama kawasan gambut di OKI, menjadi salah satu perhatian karena wilayah tersebut rentan mengalami kebakaran.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan pemantauan terhadap titik panas terus dilakukan, terutama di wilayah yang memiliki jumlah hotspot tinggi. "Pemantauan terus dilakukan terhadap titik-titik panas terutama di wilayah yang jumlah hotspotnya cukup tinggi," kata Sudirman.
Jumlah 3.059 titik panas tersebut menjadi catatan tertinggi di Sumsel sepanjang 2026. Sebelumnya, jumlah hotspot tertinggi tercatat pada 16 September dengan 3.039 titik.
"Ini merupakan angka tertinggi sepanjang 2026. Sebelumnya pada 16 September sempat 3.039 titik," ujarnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















