Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Karet Kering Terkoreksi, Ini Harga Karet Pertengahan Pekan Ini

Harga Karet Kering Terkoreksi, Ini Harga Karet Pertengahan Pekan Ini
Perkebunan karet Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
Intinya Sih
  • Harga karet kadar kering 100 persen turun Rp396 per kilogram menjadi Rp38.578, mencerminkan koreksi pasar di pertengahan Juli 2026.
  • Rudi Arpian menyebut pasar masih dalam fase konsolidasi dengan fluktuasi antara tekanan jual dan minat beli, namun harga tetap stabil di kisaran Rp38 ribu.
  • Arah perdagangan Kamis dan Jumat diprediksi menentukan tren selanjutnya, sementara petani diimbau menjaga mutu bokar agar harga jual tetap optimal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Harga kadar karet kering (KKK) 100 persen kembali terkoreksi pada pertengahan Juli 2026. Berdasarkan kurs Rp17.819 per dolar AS, harga karet KKK 100 persen turun Rp396 per kilogram menjadi Rp38.578 per kilogram, dari sebelumnya Rp38.974 per kilogram pada Selasa, 21 Juli.

Sekretaris Jenderal Apkarindo Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan pelemahan tersebut merupakan bagian dari pergerakan pasar karena masih dalam fase konsolidasi. Meski mengalami penurunan, harga karet dinilai masih mampu bertahan di kisaran harga Rp38 ribu per kilogram.

"Setelah rebound kuat pada perdagangan Selasa, harga karet SGX–Sicom kembali mengalami koreksi di pertengahan pekan. Harga KKK 100 persen turun Rp396 per kilogram menjadi Rp38.578 per kilogram," katanya, Rabu (22/7/2026).

1. Harga karet dipercaya masih kuat

Seorang pengendara motor melintas di jalan aspal yang berada di tepi perkebunan karet di daerah Banyuasin dengan pepohonan rapat di latar belakang.
Perkebunan karet di daerah Banyuasin (IDN Times/Rangga Erfizal)

Menurut Rudi, pola pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kondisi pasar yang masih mengalami tarik-menarik antara tekanan jual dan minat beli. Hal itu membuat harga bergerak fluktuatif, namun belum keluar dari rentang yang relatif stabil.

"Koreksi ini menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi, dengan pergerakan yang bergantian antara penguatan dan pelemahan. Meski demikian, harga tetap bertahan di kisaran Rp38 ribu per kilogram, menandakan level tersebut masih cukup kuat," jelasnya.

2. Perdagangan Kamis-Jumat dianggap jadi penentu

Deretan pohon karet di perkebunan Sumatera Selatan dengan batang tinggi lurus dan dedaunan hijau di bagian bawah.
Perkebunan karet Sumsel (IDN Times/Istimewa)

Rudi menjelaskan, pergerakan harga sepanjang pekan ini membentuk pola koreksi, rebound, lalu kembali terkoreksi. Menurutnya, arah perdagangan pada Kamis dan Jumat akan menjadi penentu apakah harga kembali menguat atau masih melanjutkan fase konsolidasi.

"Pergerakan pekan ini membentuk pola koreksi–rebound–koreksi, yang mencerminkan adanya tarik-menarik antara tekanan jual dan minat beli. Arah perdagangan Kamis dan Jumat akan menjadi penentu apakah pasar kembali menguat atau melanjutkan fase konsolidasi," katanya.

3. Fluktuasi harga karet diperediksi masih akan terjadi

Petani karet di Sumatera Selatan mengenakan baju kuning sedang menyadap getah dari pohon karet di kebun yang rimbun.
Petani karet Sumsel tengah menyadap hasil kebunnya (IDN Times/Rangga Erfizal)

Rudi juga mengingatkan petani agar tetap menjaga kualitas bahan olah karet (bokar). Menurutnya, mutu bokar menjadi faktor penting agar petani memperoleh harga jual yang optimal di tingkat pabrik.

"Koreksi di pertengahan pekan membuat harga kembali bergerak di kisaran Rp38 ribu per kilogram. Meski fluktuasi masih terjadi, pasar relatif bertahan di level tinggi, sementara menjaga mutu bokar tetap menjadi kunci agar petani memperoleh harga jual yang optimal," tutupnya.

Harga karet berdasarkan kadar kering:

  • KKK 70 persen Rp27.005 per kilogram
  • KKK 60 persen Rp23.147 per kilogram
  • KKK 50 persen Rp19.289 per kilogram
  • KKK 40 persen Rp15.431 per kilogram
  • KKK 30 persen Rp11.573 per kilogram

Share Article
Editorial Team

Latest News Sumatera Selatan

See More