Budayawan Harap Revitalisasi BKB Dikembalikan ke Bentuk Awal

- Budayawan Sumatra Selatan mengapresiasi rencana Benteng Kuto Besak Palembang menjadi Cagar Budaya Nasional untuk menjaga bangunan bersejarah dan memperkuat wisata heritage.
- Revitalisasi BKB diminta mempertahankan bagian tersisa, mengacu bentuk awal dan teknik konservasi era 1780-an, tanpa membangun ulang bagian hilang secara spekulatif.
- Pengelolaan BKB perlu promosi serta kegiatan konsisten pascaperesmian agar wisata heritage berkembang, meningkatkan PAD, dan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Palembang, IDN Times - Penetapan Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang yang bakal jadi Cagar Budaya Nasional mendapat apresiasi positif dari kalangan budayawan. Status tersebut diharapkan menjadi langkah penting dalam upaya menjaga keberadaan bangunan bersejarah sekaligus memperkuat potensi wisata heritage di Kota Pempek.
"Apresiasi yang besar kepada pihak-pihak yang mewujudkan Kuto Besak menjadi cagar budaya," ujar Budayawan Sumatra Selatan Robi Sunata, Minggu (13/9/2026).
1. Penataan BKB sebaiknya tidak menghilangkan karakter sejarah

Suasana kota Palembang di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Robi menilai, jika BKB resmi menjadi Cagar Budaya Nasional dan dilakukan revitalisasi menyeluruh, sebaiknya bentuk BKB yang masih tersisa harus dijaga dan tidak boleh diubah, dihilangkan, atau ditambahkan tanpa memperhatikan prinsip pelestarian.
"Kalau sudah menjadi cagar budaya, tidak boleh lagi ada bagian Kuto Besak yang diubah, dihilangkan atau ditambahkan," katanya.
Menurut dia, penataan BKB sebagai destinasi wisata sebaiknya tidak menghilangkan karakter sejarah yang melekat pada bangunan. Apalagi, bagian-bagian Kuto Besak yang masih tersisa perlu direnovasi agar mengacu pada bentuk awal ketika bangunan pertama kali didirikan.
Renovasi idealnya menggunakan pendekatan konservasi dan sedapat mungkin mendekati teknik pembangunan yang digunakan pada era 1780-an. Hal itu, jelas dia, memungkinkan dilakukan apabila proses renovasi melibatkan arsitek yang memiliki keahlian dalam konservasi bangunan bersejarah.
2. Minta pemerintah jaga kawasan bagian dalam dan tak dipenuhi bangunan baru

Kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Sementara pada bagian bangunan yang sudah hilang, lanjut Robi, tidak harus dibangun kembali secara spekulatif. Kemudian, informasi mengenai bagian bangunan dapat disajikan melalui infografis atau miniatur sehingga wisatawan tetap memperoleh gambaran mengenai bentuk dan fungsi BKB pada masa lampau.
"Sebaiknya juga harus ada tempat yang tinggi untuk memandang ke bagian dalam BKB, sehingga pemandu wisata bisa menjelaskan bagaimana tata letak bangunan di bagian dalam," katanya.
Robi menegaskan seluruh bagian BKB yang masih tersisa hingga saat ini harus dipertahankan. Revitalisasi yang dilakukan seharusnya bertujuan mengembalikan karakter dan bentuk BKB sedekat mungkin dengan kondisi awal saat pertama kali dibangun.
"Dari perspektif sejarah, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kawasan bagian dalam tidak dipenuhi bangunan baru, terutama bangunan bertingkat tinggi. Revitalisasi yang ideal dari sisi sejarah adalah mengembalikan ke bentuk semula, yaitu adanya bangunan keraton Sultan," jelas dia.
3. Pemerintah perlu menyiapkan promosi dan kegiatan konsisten

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat berkunjung ke Kawasan BKB Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Lebih lanjut, ia menyampaikan pengelolaan BKB sebagai cagar budaya juga memiliki peluang besar untuk mendorong sektor pariwisata dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Palembang. Namun, potensi itu tidak akan berkembang hanya dengan mengandalkan seremoni peresmian.
Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan program promosi dan kegiatan secara konsisten setelah BKB resmi menjadi destinasi wisata heritage. Bahkan, rangkaian kegiatan setidaknya sudah dirancang untuk satu tahun setelah peresmian.
Pengalaman pengembangan kawasan heritage Sekanak dapat menjadi salah satu contoh. Pada 2017, ia bersama sejumlah pihak menggelar Heritage Walk di kawasan tersebut. Salah satu kegiatannya adalah mengajak peserta masuk ke Gedung Jacobson van den Berg.
Kegiatan kemudian dilanjutkan secara berkala dengan mengajak wisatawan berjalan kaki menyusuri Jalan Depaten Baru, mulai dari Pasar Sekanak hingga Gudang Boen Tjiet.
"Setelah itu, mulai diikuti teman-teman yang lain dan akhirnya Sekanak yang tadinya dianggap tidak aman sekarang malah menjadi tempat nongkrong favorit anak muda Palembang," katanya.
Robi menilai, perubahan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kawasan heritage membutuhkan kegiatan yang konsisten. Kawasan yang sebelumnya sepi dan dipenuhi bangunan tua terlantar perlahan dapat menggeliat dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
















