Dinkes Sumsel Waspadai Lonjakan ISPA di Puncak Musim Kemarau

- Dinkes Sumsel mengingatkan potensi lonjakan ISPA pada puncak kemarau dan karhutla, karena asap dapat menurunkan kualitas udara serta memicu gangguan pernapasan.
- Kasus ISPA Januari–Juni 2026 menurun dari 50.651 menjadi 33.582, tetapi risiko diperkirakan meningkat pada Agustus–September; Palembang mencatat 85.032 kasus terbanyak.
- Balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis rentan terdampak; warga diminta memakai masker saat udara memburuk dan segera berobat bila gejala berlanjut.
Palembang, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seiring dengan memasuki puncak musim kemarau, dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Asap akibat karhutla dinilai berpotensi menurunkan kualitas udara dan memicu gangguan saluran pernapasan.
"Biasanya setiap musim kemarau memang ada peningkatan kasus ISPA, apalagi jika disertai karhutla yang menyebabkan asap," ungkap Kadinkes Sumsel, Trisnawarman, Rabu (5/8/2026).
1. Semester 1 2026 ISPA alami penurunan di Sumsel

Di tengah antisipasi itu, jumlah kasus ISPA pada semester pertama 2026 tercatat mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selama Januari hingga Juni, tercatat kasus terus menurun dari 50.651 kasus pada Januari menjadi 33.582 kasus pada Juni. Sementara pada periode Januari–Juni 2025, jumlah kasus berkisar antara 45.131 dan 40.067 kasus.
Ia menjelaskan, ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, maupun jamur, tetapi paparan polusi udara, termasuk asap kendaraan dan asap kebakaran hutan, juga menjadi faktor yang memperbesar risiko seseorang mengalami gangguan tersebut.
"Keluhan yang paling sering dialami penderita antara lain batuk, pilek, hidung tersumbat, demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hingga badan terasa lemas," jelasnya.
2. Kasus ISPA terbesar ada di Palembang

Menurut Trisnawarman, tren tersebut belum dapat dijadikan patokan bahwa ancaman ISPA telah berakhir. Memasuki Agustus hingga September, risiko kembali meningkat seiring musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dan berpotensi memicu karhutla di sejumlah daerah.
"Kalau kualitas udara memburuk karena asap, tentu masyarakat harus lebih waspada karena itu bisa memicu gangguan saluran pernapasan," ujarnya.
Data Dinkes Sumsel menunjukkan Kota Palembang menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA terbanyak, yakni mencapai 85.032 kasus. Selanjutnya, Kabupaten Muara Enim mencatat 30.668 kasus, Musi Banyuasin 17.946 kasus, OKU Timur 15.109 kasus, Banyuasin 14.140 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, dan Lahat 13.523 kasus. Ribuan kasus juga masih ditemukan di sejumlah kabupaten dan kota lainnya di Sumsel.
"Untuk kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami sesak napas, nyeri dada, demam tinggi berkepanjangan, bahkan bibir membiru sehingga memerlukan penanganan medis segera," bebernya.
3. Anak dan orang tua jadi kelompok rentan

Kelompok yang dinilai paling rentan terdampak yakni balita, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis. Karena itu, masyarakat diminta mulai menerapkan langkah pencegahan sejak dini, seperti menggunakan masker saat kualitas udara menurun, menghindari paparan asap rokok maupun pembakaran sampah, menjaga sirkulasi udara di rumah, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Trisnawarman juga mengimbau warga agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan yang berlangsung dalam waktu lama. Apabila batuk, demam, atau sesak napas tidak kunjung membaik, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
"Jangan menunggu sampai kondisinya berat. Jika keluhan tidak membaik atau muncul sesak napas, segera datang ke fasilitas kesehatan agar bisa ditangani lebih cepat," katanya.

















