Cerita Trader Palembang Andalkan Tri, Demi Sinyal Stabil saat Pantau Candlestick

- Setio Julian, trader crypto asal Palembang, menilai stabilitas jaringan internet sangat krusial karena keterlambatan data sekecil apa pun bisa memengaruhi keputusan dan hasil investasinya.
- Tyo telah setia menggunakan Tri sejak 2013 dan kini merasakan manfaat jaringan 5G yang memperlancar aktivitas trading berkat jangkauan luas serta koneksi lebih stabil di Palembang.
- Ia menghemat biaya paket data dengan memilih kuota besar sekaligus menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental agar tetap tenang dan rasional dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Palembang, IDN Times - Bagi Setio Julian (27), stabilitas jaringan internet bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan menyangkut untung dan rugi. Sebagai trader crypto yang aktif memantau pergerakan harga secara real-time, dirinya tahu betul bahwa satu detik keterlambatan data bisa berdampak besar pada keputusan investasinya.
Pemuda asal Palembang ini mengenal dunia trading dari lingkaran pertemanannya. Sekitar tahun 2021, saat pandemi COVID-19 membatasi banyak aktivitas, ia dan sejumlah teman yang sama-sama tertarik pada investasi mulai serius menjajal instrumen ini sebagai cara menambah pemasukan.
"Awalnya, saya mengenal pasar saham lebih dulu sebelum akhirnya beralih dan lebih aktif di crypto, khususnya di segmen spot trading," kata pemuda yang akrab disapa Tyo ini, kepada IDN Times.
Setelah beberapa tahun menjalaninya, dirinya memilih pendekatan yang lebih konservatif, yakni investasi jangka panjang dengan porsi yang sudah ia pertimbangkan matang-matang.
"Sekarang investasi saya sustain, stabil. Jatuhnya investasi saya juga jangka panjang, bukan jangka pendek. Jadi itung-itung nabung tapi lewat instrumen crypto," kata Tyo.
Sinyal lemot, indikator terlambat, keputusan bisa meleset

Dalam dunia trading, kecepatan dan keakuratan data menjadi segalanya. Setiap hari, Tyo memantau grafik candlestick secara real-time untuk membaca arah pergerakan pasar dan menentukan kapan harus masuk atau keluar dari sebuah posisi. Jika koneksi internet melambat, informasi yang ia terima pun ikut tertunda, dan dalam hitungan detik itu, peluang bisa terlewat atau kerugian bisa terjadi.
"Kalau jaringannya lemot, indikator candle yang kita pantau secara real-time pun bisa jadi terkendala. Itu menentukan kita untung atau rugi," ujar Tyo.
Karena itulah, stabilitas jaringan menjadi pertimbangan utama yang tidak bisa ia kompromikan dalam memilih operator seluler.
Selain memantau grafik harga, Tyo juga aktif mencari informasi pendukung setiap harinya, mulai dari kondisi makroekonomi global, sentimen pasar, hingga perkembangan aset-aset koin terbaru. Ia pun memiliki porsi investasi di pasar saham, meski mengakui tidak seagresif di crypto.
Setia 13 tahun sejak era BlackBerry, kini nikmati jaringan 5G

Tyo mulai menggunakan Tri sejak 2013, ketika ia masih remaja dan operator tersebut dikenal murah untuk paket layanan BlackBerry. Hanya dengan Rp11.000 per minggu, semua kebutuhan internetnya saat itu sudah terpenuhi. Sejak saat itu, nomornya tidak pernah berganti.
"Pakai Tri sejak 2013, tidak pernah ganti nomor. 13 tahun setia," kata Tyo.
Kini, setelah lebih dari satu dekade, Tyo masih memegang nomor yang sama, dan merasa investasi loyalitasnya terbayar dengan hadirnya jaringan 5G yang ia nilai semakin memperlancar aktivitas trading-nya.
Berdasarkan keterangan resmi Tri, jaringannya kini menjangkau hampir 100 persen populasi Kota Palembang, dengan dukungan Indosat 5G di sekitar 75 persen wilayah kota, menjadikan koneksi untuk aktivitas data-intensif seperti trading lebih andal dari sebelumnya.
"Jaringan stabil, harga murah. Terbantu dengan jaringan 5G yang baru," ujarnya.
Hitung hemat paket data, efisiensi jadi prioritas

Sebagai pengguna aktif yang menghabiskan banyak waktu online, Tyo cukup cermat dalam memilih paket data. Ia mengaku sebelumnya menghabiskan sekitar Rp150 ribu per bulan untuk paket 150 GB, dengan pemakaian yang tidak selalu konsisten.
Kadang lebih, kadang kurang, tergantung aktivitas. Saat bulan Ramadan, misalnya, konsumsi datanya cenderung lebih tinggi karena kesehariannya berubah.
Kini, ia beralih ke paket berkapasitas lebih besar dan mengklaim penghematan yang cukup signifikan.
"Beli yang 1 tera itu lebih hemat Rp800 ribu per tahun," kata Tyo.
Dengan selisih penghematan tersebut, ia bisa mengalokasikan anggaran yang sebelumnya terpakai untuk paket data ke keperluan lain, termasuk menambah modal investasinya.
Pesan untuk sesama trader: jaga kesehatan mental

Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, termasuk tekanan dari situasi geopolitik global dan berbagai faktor makroekonomi, Tyo menekankan pentingnya menjaga kondisi psikologis bagi para trader.
Baginya, keputusan investasi yang baik tidak lahir dari kepanikan atau euforia sesaat, melainkan dari pikiran yang jernih dan strategi yang sudah matang dipikirkan.
"Kalau pakai Tri, sinyalnya lancar, jadi dalam beraktivitas trading pun aman dan lancar," ujar Tyo, yang menyebut koneksi internet yang stabil turut membantu dirinya memantau pasar dengan tenang tanpa gangguan teknis yang bisa mengganggu konsentrasi.
Bagi sesama trader yang tengah menghadapi periode sulit di pasar, Tyo hanya berpesan satu hal: utamakan kesehatan mental dan jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan.


















