Serunya "Berebut' Bubur Asyura di Lorong Pedatuan Darat Palembang

- Ratusan warga Palembang memadati Lorong Pedatuan Darat untuk berebut Bubur Asyura, tradisi tahunan yang digelar setiap 10 Muharam dengan suasana penuh antusiasme sejak pagi.
- Tradisi ini dipelopori Agustini dan kerabatnya, menggunakan dana sukarela dari warga serta donatur, termasuk sumbangan dari Malaysia, demi melestarikan budaya berbagi khas Palembang.
- Bubur Asyura atau bubur gemuk dibuat dari beras bersantan dan rempah-rempah, lalu setelah pembagian bubur, panitia juga menyalurkan sedekah uang tunai kepada anak yatim.
Palembang, IDN Times - Suasana di Lorong Pedatuan Darat, Kelurahan 12 Ulu, Palembang, Kamis 25 Juni 2026 pagi itu ramai. Ratusan warga Palembang mengantre agar bisa menyantap bubur spesial yang ada hanya setahun sekali ini. Sejak pukul 06.00, Agustini dan kerabatnya sudah sibuk memasak bubur Asyura, bubur yang khusus dibagikan pada 10 Muharam.
Budaya berbagi bubur yang sudah dilakukan sejak lama, kini masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat di Palembang, khususnya di Jalan KH Azhari Lorong Pedatuan Darat. Pada pukul 10.00, bubur tersebut sudah siap disantap.
Ratusan warga yang sudah mengantre sejak pagi hari, segera menyerbu. Antrean yang tadinya tertib, berubah menjadi saling menyodorkan mangkuk yang dibawa masing-masing dari rumah, demi bisa menyantap 'bubur gemuk' tersebut.
Tidak sampai setengah jam, puluhan kilogram bubur yang dimasak menggunakan dua panci dulang besar ludes tak bersisa.
1. Tradisi yang sudah dilestarikan sejak lama

Koordinator Sedekah Asyura 12 Ulu, Agustini, mengatakan kegiatan tersebut merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan setiap tahun, tepatnya pada 10 Muharram penanggalan Hijriah.
"Ini sudah sejak lama dilestarikan. Mungkin ada banyak warga Palembang yang tidak tahu, tapi di sini setiap tahun kami selalu melakukan tradisi ini," kata Agustini.
Dana yang digunakan oleh Agustini, merupakan himpunan dana sukarela dari kerabat, tetangga, serta donatur yang memang sengaja bersedekah demi bisa melestarikan budaya berbagi tersebut.
"Hari Asyura adalah hari yang barokah, kita juga mendapatkan donasi dari kerabat dari Malaysia untuk acara ini," ujar dia.
2. Bubur gemuk, bubur khusus Asyura

Tekstur buburnya pun tidak seperti bubur ayam. Warga Palembang menyebutnya bubur gemuk.
Beras yang dicampur dengan santan, dan ditambah rempah-rempah lain, serta disajikan dengan kacang-kacangan serta sayur seperti wortel. Namun, ada pula yang membuat bubur kacang dan bubur lainnya di Hari Asyura ini.
3. Berbagi kepada anak yatim

Tak hanya itu, usai membagikan Bubur Asyura, Agustini pun membagikan sedekah berupa uang tunai kepada anak yatim yang berusia di bawah 10 tahun.
"Kita berbagi dengan sesama, sedekah kepada orang terdekat terlebih dahulu yang kita utamakan," ujar Agustini.
















