Prediksi Ekonom Rupiah Anjlok ke Level Terendah, Dampaknya Berkepanjangan

- Rupiah tercatat melemah ke Rp17.865 per Dolar AS, menjadi level terendah sepanjang masa dengan depresiasi 0,51 persen akibat tren koreksi lima hari beruntun.
- Ekonom Sumsel menilai pelemahan rupiah dipicu gejolak eksternal dan ketegangan geopolitik global yang menekan stabilitas ekonomi nasional serta memicu ketidakpastian berkepanjangan.
- Pemerintah diminta mengevaluasi kebijakan agar nilai tukar tidak terus jatuh, sementara rupiah kini dinilai berada pada fase overshooting melebihi kondisi fundamental jangka panjang Indonesia.
Palembang, IDN Times - Nilai tukar rupiah tercatat di angka Rp17.865 per dolar AS pada perdagangan terakhir, Jumat (29/5/2026). Merujuk pada data Refinitiv (kumpulan informasi pasar keuangan), rupiah kini dalam zona merah dan berada pada level terendah sepanjang masa.
Menurut ekonom Sumatra Selatan, kondisi rupiah yang kian anjlok bahkan terdepresiasi (berkurangnya nilai aset) hingga 0,51 persen, akibat tren koreksi rupiah dalam lima hari beruntun, potensi berlangsung berkepanjangan dan berdampak terhadap pergerakan ekonomi nasional.
"Pelemahan rupiah bukan fenomena baru. Tapi, pergerakan rupiah yang terus-menerus depresiasi karena gejolak eksternal di tingkat global dapat menekan ekonomi nasional hingga menimbulkan ketidakpastian ekonomi berkepanjangan," ujar pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Sriwijaya, Sukanto Sairuki.
1. Pemerintah diminta evaluasi kebijakan upaya tekan nilai rupiah

Dia menyampaikan bahwa penyebab nilai rupiah makin turun semestinya menjadi momen refleksivitas yang harus diperhatikan dan disoroti pemerintah. Secara umum, pemerintah perlu merenungi dan mengevaluasi tiap kebijakan agar mata uang nasional tidak jatuh berkelanjutan.
"Bukan sekali ini saja terjadi refleksivitas rupiah. Namun, harus ada gerakan menekan ambang batas asumsi mikro rupiah. Karena setiap terjadi gejolak di luar negeri, rupiah cenderung terpengaruh," kata Sukanto.
2. Rupiah yang lemah picu investor tunda tanam modal di Tanah Air

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa akibat rupiah melemah yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik global serta konflik antarnegara, imbasnya sangat besar terjadi pada pasar nasional.
Stabilitas perdagangan yang tak terprediksi dapat mendorong investor asing beralih mencari instrumen lebih aman ketimbang menanamkan modal di Tanah Air.
3. Harap nilai rupiah bisa kembali stabil

Ia menilai, rupiah kini dalam fase overshooting (dalam kondisi jatuh berlebihan atau melampaui batas). Artinya, rupiah berada pada pelemahan lebih dalam dibandingkan dengan kondisi yang dijustifikasi oleh fundamental jangka panjang Indonesia.
"Besar harapan, nilai tukar rupiah dapat kembali stabil di kisaran lebih sehat, sehingga mampu memberikan kepastian ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha," jelasnya.

















