Autopsi Ungkap Kekerasan pada Kasus Pembunuhan Staf Bawaslu OKU Selatan

- Hasil autopsi memastikan staf Bawaslu OKU Selatan, Maria Simaremare, meninggal akibat mati lemas dan luka sayatan di leher yang memutus pembuluh darah besar.
- Pemeriksaan forensik menemukan banyak luka memar, lecet, serta tanda kekerasan di wajah dan tubuh korban yang diduga disebabkan oleh senjata tajam.
- Tim medis juga menemukan patah tulang leher, kerusakan saluran pernapasan, serta pendarahan pada organ vital yang menegaskan adanya tindak kekerasan penyebab kematian.
Palembang, ID Times - Pembunuhan terhadap staf Bawaslu OKU Selatan, Maria Simaremare (39), perlahan menunjukkan titik terang dari hasil autopsi kepolisian. Korban dipastikan meninggal dunia akibat kekerasan yang berujung pada pembunuhan di kontrakannya di Perumahan Bukit Berlian, Desa Pelangki, Kecamatan Muaradua.
"Dari hasil autopsi, penyebab kematian korban adalah mati lemas akibat terhalangnya saluran pernapasan yang disertai luka sayatan pada leher yang menyebabkan putusnya pembuluh darah besar," ungkap Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Nandang Mu'min Wijaya, Kamis (27/3/2026).
1. Hasil pemeriksaan luka luar di tubuh korban

Jenazah korban yang dibawa ke RS Bhayangkara Palembang dilakukan pemeriksaan medis. Dari pemeriksaan luar, tim forensik menemukan sejumlah luka pada tubuh korban. Luka tersebut tersebar di beberapa bagian, mulai dari kepala hingga anggota tubuh lainnya.
"Terdapat luka memar di dahi serta bahu kanan dan kiri, kemudian luka lecet di dagu, lengan kanan bawah, serta pada bibir atas dan bawah dengan pola cetakan gigi," ungkapnya.
2. Tim forensik pastikan ada dugaan kekerasan dengan sajam

Nandang menjelaskan, hasil pemeriksaan forensik menemukan tanda kekerasan di area wajah dan mata. Dari pemeriksaan ini, ditemukan bintik pendarahan dan perubahan warna pada bagian tubuh tertentu.
"Ada bintik pendarahan pada kelopak mata dan seluruh wajah, juga kebiruan pada ujung jari tangan serta pucat pada ujung jari kaki," bebernya.
Untuk luka fatal di leher, tim forensik menemukan ada luka terbuka yang setelah dilakukan tindakan, terdapat 33 jahitan. Dugaan sementara, luka tersebut dipicu oleh kekerasan dengan senjata tajam.
"Luka terbuka di leher korban menunjukkan adanya tindakan kekerasan dengan benda tajam," tegas Nandang.
3. Korban alami patah tulang leher

Nandang mengungkapkan, hasil pemeriksaan selanjutnya pada tubuh bagian dalam. Tim forensik kembali menemukan kerusakan serius di kepala dan leher korban yang memperkuat adanya tindak kekerasan.
"Terdapat resapan darah pada kulit kepala bagian dalam, serta kerusakan pada saluran pernapasan hingga patah tulang leher," bebernya.
Tak hanya itu, tim medis juga menemukan bintik pendarahan pada sejumlah organ dalam korban.
"Bintik pendarahan ditemukan pada paru-paru, jantung, dan hati," katanya.
Dari pemeriksaan tersebut, tim forensik memastikan kematian korban bukanlah hal yang wajar. Hasil pemeriksaan tersebut diserahkan kepada tim Reskrim untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
"Temuan ini mengarah pada adanya unsur kekerasan yang menyebabkan kematian korban." jelasnya.


















