Orang muda Sumatra Selatan menyerukan penghentian pembiaran terhadap kerusakan ekosistem gambut dan krisis karhutla (Dok. pantau gambut-rawang)
Juru Kampanye Pantau Gambut Putra Saptian menambahkan, karhutla jadi warisan krisis yang terus dilanggengkan. Keuntungan dari eksploitasi lahan jelas dia, hanya dinikmati segelintir kelompok yang tidak tersentuh. Sementara biaya sosial dan ekologisnya ditanggung lebih lama oleh masyarakat luas.
"Anak-anak dan orang muda menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat asap, terganggunya proses pembelajaran, berkurangnya sumber penghidupan keluarga, serta masa depan lingkungan yang makin rentan terhadap kekeringan dan kebakaran," kata Putra.
Melalui aksi nyata, para pemuda mendesak pemerintah untuk memeriksa kepatuhan pemegang izin dan pengelola lahan di wilayah kritis serta menindak tegas pembakaran dan pelanggaran yang telah terbukti.
Pemerintah juga harus mengukur keberhasilan bukan hanya dari luas api yang berhasil dipadamkan, melainkan dari berkurangnya kejadian kebakaran berulang setiap tahun, pulihnya fungsi hidrologis gambut, dan meningkatnya perlindungan bagi warga.
“Kami tidak ingin setiap tahun hanya menghitung luas lahan terbakar, jumlah titik panas dan warga yang terdampak krisis, lalu mengulang respons yang sama. Dibutuhkan perubahan kebijakan dan keberanian untuk menindak sumber kerusakan," jelasnya.
Gambut lanjut Putra bukan lahan kosong yang menunggu dibakar, gambut adalah penyangga kehidupan. Jika kerusakannya terus dibiarkan, maka akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Tidak ada kemakmuran, melainkan krisis yang makin mahal untuk dipulihkan.