Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jalan Panjang Eceng Gondok Plaju, Jadi Pengharum Ruangan Ramah Lingkungan Berkat Energi Pertamina

Kota Palembang
5 min read
Jalan Panjang Eceng Gondok Plaju, Jadi Pengharum Ruangan Ramah Lingkungan Berkat Energi Pertamina
Anggota Ankubas menunjukkan produk Ankubas Scents hasil inovasi eceng gondok yang merupakan program TJSL Pertamina (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
  • Ankubas Plaju mengolah eceng gondok dari anak Sungai Musi menjadi Ankubas Scents, pengharum ruangan berbentuk fiber block dengan aroma kopi, stroberi, dan buah-buahan.

  • Riset sejak 2022 sempat gagal pada briket dan bantal, lalu menghasilkan formula pengharum yang bertahan hingga 30 hari; BRIN masih mengurus pemeriksaan laboratorium dan ekolabel.

  • Pertamina memasang PLTS 6.500 watt untuk workshop berdaya 6.000 watt, menekan biaya produksi; setiap produk terjual juga disertai penyiapan benih patin untuk ditebar ke sungai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Mata Siti Nurul terpana, melihat sederet produk di Workshop Ankubas Pengolahan Eceng Gondok Kelurahan Talang Putri, Kecamatan Plaju, Palembang pada awal September 2026 lalu. Tangan kanannya sibuk memegang sambil memutarbalikkan kemasan kotak yang dikemas cantik. Produk tersebut adalah pengharum ruangan yang diolah dari eceng gondok. Bukan parfum impor, produk itu adalah hasil karya masyarakat sekitar.

Nurul, sapaan akrabnya, lalu mencoba mencium aroma dari luar kemasan. Kata dia, aroma kopinya khas sekali. Tak hanya kopi, beberapa aroma lain pun ia cium, seperti stroberi dan berbagai aroma buah-buahan.

"Ini (pengharum eceng gondok) adalah kebaruan inovasi di Indonesia, khususnya di Sumsel. Kita mengapresiasi Pertamina yang menjadi bagian dari TJSL dan membantu (CSR) dalam inovasi pemanfaatan eceng gondok. Energi seperti ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat," kata Nurul, perwakilan Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dari sisi penelitian, jelasnya, BRIN mendukung pemberdayaan eceng gondok yang selama ini dikenal sebagai gulma atau tanaman pengganggu. Riset ini, kata dia, dilakukan untuk mendorong dan memaksimalkan eceng gondok menjadi produk bernilai guna.

"Eceng gondok masih tergolong baru dan menjadi tantangan tersendiri. Selama ini, pola pandang terhadap eceng gondok adalah sebagai biomassa yang harus dibersihkan karena mengganggu ekosistem perairan. Melalui riset ini, paradigma tersebut diubah dari objek yang harus dibersihkan, menjadi subjek bernilai guna," kata dia.

Nurul menyampaikan, hingga saat ini BRIN masih terus melakukan pemeriksaan laboratorium untuk proses sertifikasi dan pengajuan ekolabel yang sedang berjalan. Sehingga, produk yang dihasilkan layak, ramah lingkungan, sehat, dan siap diproduksi secara massal agar bisa menjamin keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar.

  1. Proses pembuatan pengharum eceng gondok dari Workshop Ankubas

    Siang itu di bagian belakang Workshop Anak Kreatif untuk Bangsa (Ankubas), sang Ketua Kelompok, Rekso Triono, sibuk mencacah eceng gondok menggunakan mesin tradisional sederhana. Pencacahan dilakukan setelah eceng gondok kering dari hasil penjemuran. Sebelumnya, eceng gondok didapatkan dari anak Sungai Musi di kawasan Plaju dan sekitarnya.

    Eceng gondok itu dikumpulkan oleh anggota Ankubas dan warga setempat untuk bisa dimanfaatkan. Harapannya, selain mengurangi gulma di ekosistem perairan dan menjaga lingkungan, eceng gondok bisa berguna bagi siapa saja hingga menghasilkan produk bernilai ekonomi komersial.

    "Masalah eceng gondok ini tidak pernah selesai. Air terus datang membawa eceng gondok. Eceng gondok merupakan tumbuhan liar yang sering dianggap sampah. Kami mengubah ini jadi Ankubas Scents. Tujuannya untuk menjaga keramahan lingkungan yang disambut sebagai manifestasi nyata dari Kilang Pertamina Plaju," jelas dia.

    Rekso bercerita, setiap hari ia mendapatkan eceng gondok sekitar 20-30 kilogram. Sebelum jadi Ankubas Scents, eceng gondok dicacah, dijemur, diblender dan dicampur dengan perekat hingga memadat membentuk kepingan silinder (fiber block). Kepingan kemudian ditetesi beberapa cairan aroma sebagai pengharum ruangan ramah lingkungan.

    Keistimewaan dari Ankubas Scents, kata Rekso, adalah bahwa produk yang dihasilkan memegang prinsip ekosistem lestari.

    “Setiap satu produk yang terjual, kami menyiapkan satu benih ikan patin untuk ditebar kembali ke sungai," ujarnya.

    Pekerja mengolah eceng gondok menjadi produk Ankubas Scents dalam proses inovasi program TJSL Pertamina.
    Proses pembuatan produk Ankubas Scents hasil inovasi eceng gondok yang merupakan program TJSL Pertamina (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
  2. Perjalanan riset dan menghasilkan produk bernilai guna

    Sekretaris Ankubas Plaju, Prasojo Widodo, menambahkan bahwa perjalanan panjang riset eceng gondok mengalami lika-liku sejak 2022. Mereka sempat gagal bereksperimen. Tetapi, semangat dan keyakinan tinggi anggota Ankubas tak pernah padam.

    "Sempat gagal membuat briket hingga eksperimen bantal eceng gondok dan akhirnya menemukan formula tepat fiber block Ankubas Scents yang aromanya mampu bertahan hingga 30 hari," jelas dia.

    Prasojo mengatakan, pembuatan Ankubas Scents juga membutuhkan mesin penggiling berdaya besar dan pengering (oven). Tantangannya, Ankubas membutuhkan pasokan listrik konstan dan stabil.

    "Kebutuhan listrik workshop kami cukup besar, mencapai 6.000 watt," kata dia.

    Karena butuh daya tinggi, Ankubas dibantu Pertamina untuk menerapkan skema kolaborasi energi lewat bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6.500 watt yang dipasang di atap workshop Ankubas.

    “Penggunaan PLTS Pertamina dari energi surya ini menekan biaya operasional dan memastikan proses produksi fiber block, pengemasan, hingga bengkel las workshop berjalan lancar tanpa tergantung penuh pada energi fosil,” jelas dia.

  3. Pertamina berkomitmen dorong masyarakat mandiri lewat TJSL

    Area Manager Communication, Relations & CSR RU III PT Kilang Pertamina Internasional, Siti Fauzia mengatakan, dukungan Pertamina terhadap Ankubas dilakukan sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendorong masyarakat mandiri sekaligus peduli terhadap lingkungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL)

    Program TJSL Musiparian dan ERCC, Kilang Pertamina Plaju, lanjut Fauzia, mendukung pengembangan potensi eceng gondok yang selama ini menjadi persoalan di perairan sekitar Sungai Musi.

    “Ankubas merupakan contoh nyata keberhasilan sinergi antara masyarakat dan industri dalam mengelola potensi lokal secara berkelanjutan. Pemanfaatan eceng gondok yang dianggap gulma menjadi produk bernilai ekonomi menjadi inovasi positif,” katanya.

    Diketahui, Ankubas terbentuk pada 2022 sebagai komunitas sosial. Anggotanya adalah warga sekitar daerah aliran anak Sungai Musi, Kelurahan Talang Putri, Kecamatan Plaju. Seiring perjalanan, kelompok ini tak hanya fokus pada pembuatan produk, tetapi juga membangun keterampilan dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.

    “Ketersediaan energi menjadi salah satu kebutuhan penting. Dukungan PLTS membantu menyediakan daya untuk peralatan workshop, sekaligus memperkenalkan pemanfaatan energi bersih dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat,” jelas Fauzia.

    Sementara itu, kata Camat Plaju, Bambang Adrianto, kehadiran Ankubas Scents dan pemanfaatan panel surya dari Pertamina menjadi angin segar bagi penanganan masalah banjir dan kebersihan lingkungan di wilayahnya.

    “Sebelumnya, penumpukan eceng gondok kerap menyumbat aliran sungai dan memperburuk banjir saat musim hujan. Gotong royong pembersihan sungai sering dilakukan, namun eceng gondok selalu dibuang begitu saja. Sekarang, eceng gondok bernilai jual,” jelas dia.

    IMG_20260907_143754.jpg
    Proses pembuatan produk Ankubas Scents hasil inovasi eceng gondok yang merupakan program TJSL Pertamina (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More