Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hotspot Sumsel Tersisa 3 Titik, Karhutla Kini Tinggal 18 Kejadian

Kab. Musi Rawas
3 min read
Hotspot Sumsel Tersisa 3 Titik, Karhutla Kini Tinggal 18 Kejadian
Satgas udara saat semai 9 ton dry ice dan NaCl dalam modifikasi cuaca di Palembang. (Dok. Puspen TNI)
  • Hotspot Sumsel tersisa tiga titik per 29 Oktober 2026 pagi, seluruhnya di Musi Rawas, turun tajam dari 109 titik sehari sebelumnya.
  • Kualitas udara masih tidak sehat di Palembang dan enam wilayah lain; ISPU PM2,5 tertinggi tercatat di PALI 199, sementara Muba dan Muara Enim berkategori sedang.
  • Patroli 28 Oktober mencatat 18 karhutla, terbanyak di OKI; sekitar 100 hektare terbakar, sementara operasi modifikasi cuaca tetap berjalan dengan tujuh sorti penerbangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Musi Rawas, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel melaporkan jumlah hotspot atau titik panas dalam 24 jam terakhir hingga Kamis (29/10/2026) pukul 05.00 WIB tersisa hanya 3 titik. Angka tersebut turun drastis dari sehari sebelumnya, Rabu (28/10/2026), yang masih mencatat angka 109 titik.

Satu-satunya daerah yang masih terdeteksi hotspot tersebut adalah Kabupaten Musi Rawas. Kendari demikian, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih ada 18 kejadian, dengan sebaran paling banyak di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yakni 10 firespot (titik api).

  1. 1. Kualitas udara 7 wilayah masuk kategori tidak sehat

    Laporan ISPU Sumsel pada Kamis (29/10/2026)
    Laporan ISPU Sumsel pada Kamis (29/10/2026). (Dok. DLHP Sumsel)

    Meski jumlah titik panas atau hotspot terpantau menurun, kualitas udara di Palembang dan enam daerah lainnya masih berada dalam kategori tidak sehat. Berdasarkan pembaruan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) PM2,5 pada Kamis (29/10/2026) pukul 06.38 WIB, Palembang mencatat nilai 170 atau masuk kategori tidak sehat.

    Enam daerah lainnya, yakni Ogan Ilir mencatat nilai ISPU 188, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 199, Musi Rawas 161, Prabumulih 152, Lahat 118, serta Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan 103. Sementara itu, kualitas udara di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tercatat pada angka 69 dan di Muara Enim 72. Kedua wilayah tersebut masuk kategori sedang.

  2. 2. Tren hotspot dalam tujuh hari mengalami penurunan

    Sebaran hotspot Sumsel pada Kamis (29/10/2026)
    Sebaran hotspot Sumsel pada Kamis (29/10/2026). (Dok. BPBD Sumsel)

    Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan meski jumlah titik panas dalam 24 jam terakhir relatif sedikit, akumulasi hotspot di Sumsel sepanjang Januari hingga Oktober 2026 telah mencapai 120.284 titik berdasarkan data BPBD Sumsel.

    Kemudian tren hotspot selama tujuh hari terakhir juga menunjukkan penurunan. Jumlahnya tercatat 2.332 titik pada 22 Oktober, kemudian turun menjadi 1.874 titik pada 23 Oktober dan 1.452 titik pada 24 Oktober.

    "Penurunan berlanjut menjadi 336 titik pada 25 Oktober dan 75 titik pada 26 Oktober. Kenaikan kembali terjadi pada 27 Oktober sebelum jumlahnya turun lagi pada 28 Oktober," ujarnya.

  3. 3. Tercatat masih ada 18 kejadian karhutla di Sumsel

    Proses pemadaman karhutla di Sumsel
    Proses pemadaman karhutla di Sumsel (Dok: Manggala Agni)

    Sudirman menambahkan, berdasarkan hasil patroli tim udara dan darat pada 28 Oktober 2026, tercatat 18 kejadian karhutla di Sumsel. Sebarannya meliputi OKI sebanyak 10 kejadian, Muba tiga kejadian, Ogan Ilir tiga kejadian, OKU Timur satu kejadian, dan Kota Palembang satu kejadian.

    "Estimasi luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 100 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 79,50 hektare tercatat dapat ditangani oleh satuan tugas darat, sedangkan 20,50 hektare lainnya belum tercatat berhasil ditangani," ungkapnya.

    Untuk mendukung penanganan karhutla sekaligus meningkatkan peluang terjadinya hujan, operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan masih dilaksanakan di Sumsel.

  4. 4. Tercatat tujuh sorti penerbangan dalam kegiatan operasi modifikasi cuaca

    Satgas udara saat semai 9 ton dry ice dan NaCl dalam modifikasi cuaca di Palembang
    Satgas udara saat semai 9 ton dry ice dan NaCl dalam modifikasi cuaca di Palembang. (Dok. Puspen TNI)

    Pada 27 Oktober 2026, tercatat tujuh sorti penerbangan dalam kegiatan operasi modifikasi cuaca dan uji coba penggunaan dry ice. Bahan semai yang digunakan meliputi 7.200 kilogram natrium klorida (NaCl) dan 1.700 kilogram dry ice.

    "Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Musi Banyuasin, Banyuasin, OKI, Muara Enim, PALI, Kota Palembang, serta kawasan Muara Enim dan Prabumulih," ucap Sudirman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More