Mengenang Jejak Alex Noerdin dalam Nama Besar Sriwijaya FC

- Alex Noerdin dikenang sebagai tokoh besar Sumsel yang membawa Sriwijaya FC mencapai masa kejayaan, sekaligus membangun citra olahraga daerah hingga dikenal di tingkat nasional dan internasional.
- Sriwijaya FC menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Alex, mengenangnya sebagai sosok pelopor yang menyalakan semangat klub, meski kini performa tim tengah merosot di kompetisi nasional.
- Selain membina Sriwijaya FC, Alex juga menggagas berbagai ajang olahraga seperti SEA Games 2011 dan akademi sepak bola muda, memperluas akses pembinaan atlet di Sumatera Selatan.
Palembang, IDN Times - Alex Noerdin, tokoh Sumatra Selatan yang tak pernah luput dari ingatan. Nama Alex akan tetap dikenang masyarakat. Ia adalah putra daerah yang membawa Sriwijaya FC, klub sepak bola legendaris, ke puncak kejayaan.
Tak saja Sriwijaya FC, namanya yang diingat sebagai Bapak Pembangunan, Pelopor, Visioner dan Inisiator, Alex dikenang sebagai sosok pembangun citra olahraga internasional di Sumsel. Mulai dari SEA Games 2011, Islamic Solidarity Games 2013, Asean Games 2018, hingga menjadi kreator pertama Road Race PON di Skyland Musi Banyuasin.
1. Sriwijaya FC, jejak kuat Alex Noerdin membangun olahraga Sumsel

Nama Alex kini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, masyarakat, serta dunia olahraga di Sumsel. Selama hidupnya, Alex dikenal bukan hanya sebagai tokoh politik, tetapi juga sebagai pemimpin yang berhasil membawa perubahan signifikan untuk Sumsel, dari segi infrastruktur, sosial dan olahraga.
Salah satu jejak yang paling kuat dari Alex Noerdin adalah perannya sebagai pembina Sriwijaya FC. Ketika Alex memimpin Sumsel, Sriwijaya FC berada dalam era kejayaan. Ia adalah sosok pembina dengan konsistensi tinggi. Di bawah pimpinan dan dukungannya, Sriwijaya FC meraih gelar Liga Indonesia pada 2008 dan 2012, serta menjadi salah satu klub papan atas nasional.
Meski pada tahun 2008 hingga 2018, Sriwijaya FC sudah mulai dibangun, namun pada masa kepemimpinan Alex Noerdin, klub benar-benar populer dan kompetitif secara konsisten. Alex berhasil mengukir kenangan di mata fans sepak bola dan warga sekitar Sumsel.
Bahkan kekuatan kejayaan Alex di Sriwijaya FC diakui para pendukung dan manajemen klub. Setelah kabar wafatnya Alex tersebar, akun resmi Sriwijaya FC juga memposting ucapan belasungkawa di media sosial, diikuti komentar dari para fans yang mengenang masa kejayaan klub saat Noerdin menjadi pembina.
Banyak netizen menyebutnya sebagai tokoh yang peduli terhadap kebangkitan Sriwijaya FC dalam kompetisi nasional dan turnamen Asia.
2. Ucapan bela sungkawa Sriwijaya FC terhadap wafatnya Alex Noerdin
Bukti kuat bahwa Alex Noerdin mampu membangun olahraga, terutama kebesaran nama Sriwijaya FC. Namanya kini menjadi memori bagi klub Elang Andalas. Dalam akun Instagram Sriwijaya FC, Alex bukan sekadar seorang tokoh, tapi menjadi sosok yang pernah menenun harapan menjadi kenyataan.
Tertulis dalam keterangan Instagram resmi Sriwijaya FC, Alex adalah sosok kuat yang hidup dalam nadi klub dan tubuh manajemen.
"Di bawah langkah dan keyakinan Bapak, mimpi tentang kejayaan olahraga Sumatera Selatan pernah berdenyut begitu hidup. Dan bagi Sriwijaya FC, jejak itu bukan hanya sejarah. Ia adalah kenangan yang terus berbisik di setiap tribun yang kini terasa lebih sunyi.
Kepergian ini seperti senja yang datang terlalu cepat, meninggalkan langit penuh warna kenangan. Terima kasih atas dedikasi, atas keyakinan, dan atas mimpi yang pernah engkau titipkan pada tanah ini.
Selamat jalan Bapak Pelopor!
Namamu akan tetap hidup—dalam doa, dalam cerita, dan dalam setiap harapan yang kami jaga dengan hati yang lebih hening," katanya, tertulis dalam akun.
Sriwijaya FC memang benar-benar hidup di bawah arahan Alex Noerdin. Mereka rutin menjadi penantang di kompetisi domestik dan kerap menjadi wakil Indonesia di Asia. Sepeninggal dirinya, pamor klub kebanggaan Sumsel ini perlahan meredup.
Sejak 2019, mereka bahkan hanya mampu berkutat di kasta kedua sepak bola Indonesia. Saat ini, problem belum selesai, bahkan tampak kian runyam. Sriwijaya FC mengalami kesulitan finansial, performa di lapangan anjlok, dan hampir dipastikan bakal terdegradasi ke kasta ketiga alias Liga Nusantara.
Sriwijaya FC mendekam di dasar klasemen Grup 1 Championship 2025-2026, belum sekalipun menang dalam 20 pertandingan yang sudah dilalui - 18 di antaranya kalah, termasuk dipermalukan Adhyaksa FC 0-15, beberapa waktu lalu.
3. Alex Noerdin mampu membuka akses olahraga nasional dan internasional di Sumsel

Selain Sriwijaya FC dengan julukan Laskar Wong Kito, Alex Noerdin sukses membuka akses internasional dan promosi olahraga. Di luar prestasi membesarkan nama Sriwijaya FC, Alex Noerdin juga membuat gebrakan mengangkat nama Sumsel di kancah sepak bola internasional.
Alex pernah berencana mendatangkan Ronaldinho pada tahun 2019. Ia berinisiatif mengundang legenda sepak bola Brasil itu untuk hadir di Palembang sebagai tamu spesial acara Alex Noerdin Cup 2019, turnamen yang diselenggarakan sebagai ajang pembinaan talenta muda.
Namun, karena izin penggunaan fasilitas olahraga belum selesai, kehadiran Ronaldinho terpaksa batal. Di dunia sepak bola, Alex juga mampu membina generasi muda. Ia pernah melahirkan Alex Noerdin Foorball Academy pada Maret 2019.
Akademi tersebut merupakan sekolah sepak bola gratis yang diharapkan menjadi wadah bagi generasi muda berbakat di Sumsel untuk diasah dan dikembangkan sebagai calon pemain profesional.
Akademi ini merupakan kelanjutan dari program turnamen Alex Noerdin Cup yang juga menjadi ajang seleksi untuk mengidentifikasi talenta muda potensial dalam dunia kulit bundar.
4. Alex Noerdin wafat 25 Februari 2026 di Jakarta

Alex Noerdin kekal dalam memori warga Sumsel. Begitu kalimat yang bisa menggambarkan sosoknya selama menjabat sebagai Gubernur Sumsel selama 2 periode pada 2008-2018. Meski sebelum menghembuskan napas terakhir, Alex terjerat dalam kasus, ia tetap memberi kesan positif di masyarakat.
Alex tersandung kasus korupsi. Namanya ditetapkan sebagai tersangka pembelian gas PDPDE, korupsi dana hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Palembang, dan korupsi revitalisasi Pasar Cinde. Sebelum wafat, ia pun masih tercatat menjalani sidang perkara Pasar Cinde di Pengadilan Negeri Palembang. Seiring ajal menjemput, kini kasus pidana Alex ditutup.
Diketahui, eks Gubernur Sumsel itu meninggal dunia di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta, pukul 13.30 WIB pada 25 Februari 2026. Sebelum almarhum tutup usia, ia sempat menjalani perawatan intensif dan melakukan operasi empedu.















