Kenaikan Harga Cabai Akibat Cuaca Panas Ekstrem Sumbang Inflasi Sumsel

- Cuaca panas ekstrem di Palembang menghambat produksi cabai merah keriting lokal, menyebabkan pasokan terganggu dan harga naik sehingga memicu inflasi di Sumatra Selatan pada Mei 2026.
- BPS Sumsel mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau termasuk cabai menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,44 persen, disertai kenaikan harga emas perhiasan dan BBM.
- BMKG menjelaskan minimnya pembentukan awan membuat radiasi matahari langsung menyengat Palembang, dan kondisi panas ekstrem diprediksi berlangsung hingga akhir tahun selama musim kemarau.
Palembang, IDN Times - Komoditas cabai di Sumatra Selatan terutama hortikultura cabai merah keriting lokal menyumbang nilai inflasi cukup tinggi pada Mei 2026. Kondisi tersebut disebabkan karena suhu udara dan cuaca panas ekstrem yang terjadi berkelanjutan.
"Akibatnya (cuaca ekstrem) ini, komoditas lokal, terutama hortikultura seperti cabai proses produksinya terhambat dan dan panen tidak menentu berdampak pada pasokan dan harga di pasar, sehingga menyumbang nilai inflasi," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Sumsel, Moh. Wahyu Yulianto, Minggu (7/6/2026).
1. Komoditas makanan termasuk cabai sumbang inflasi Sumsel 0,44 persen

Berdasarkan laporan yang diterima BPS Sumsel, komoditas cabai mengalami lonjakan harga jual signifikan sepanjang Mei 2026. Dari data inflasi bulanan, nilai kenaikan harga tercatat sebesar 0,61 persen yang berbanding terbalik dari April 2026 yang mengalami deflasi 0,04 persen.
"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau termasuk komoditas lokal cabai, jadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,44 persen," kata dia.
2. Emas perhiasan dan harga BBM juga mendorong inflasi

Sementara dari statistik nilai inflasi pada bulan kelima tahun ini, kata Wahyu, tak hanya komoditas hortikultura cabai yang memberi dampak kenaikan inflasi wilayah. Kelompok perawatan pribadi dari emas perhiasan pun mendorong inflasi tinggi.
"Termasuk dari kenaikan harga BBM yang terjadi sejak April 2026," jelasnya.
3. Cuaca panas ekstrem Palembang diprediksi berlangsung hingga akhir tahun

Diketahui, kondisi cuaca Palembang pada sebulan terakhir berada pada suhu udara panas menyengat bahkan memasuki puncak panas ekstrem di pertengahan Mei 2026. Berdasarkan informasi dari BMKG, kondisi yang terjadi karena Kota Palembang minim pembentiukan awan.
Menurut Kepala BMKG Sumsel, Wandayantolis, panas menyengat yang berlangsung di Palembang karena awan yang biasanya melindungi daerah dari radiasi matahari langsung, kini tak terbentuk.
"Sehingga, cuaca terasa panas. Selain awan yang minim terbentuk dan tak mampu melindungi radiasi matahari, Palembang juga dalam kondisi peralihan masa pancaroba. Prediksi BMKG, panas Palembang akan berlangsung selama kemarau panjang hingga akhir tahun," jelas dia.

















