- Sumatra Selatan: 181
- Kalimantan Tengah: 170
- Banten: 115
- Sumatra Utara: 113
- DKI Jakarta: 109
- Riau: 87
- Sumatra Barat: 86
- Kalimantan Barat: 85
- Jambi: 83
- Lampung: 80
Kualitas Udara Palembang Tidak Sehat Akibat Asap Karhutla

Meski sebagian titik kebakaran telah berhasil dipadamkan, masih terdapat sejumlah lokasi yang mengeluarkan asap
BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara terlihat berkabut atau tercium aroma asap
Kualitas udara di Sumsel menjadi terburuk di Indonesia, dengan indeks kualitas udara sebesar 181
Palembang, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kualitas udara di Palembang turun ke kategori tidak sehat imbas peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Sumsel.
Berdasarkan hasil pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) mencapai 57,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Rabu (5/8/2026) pukul 18.00 WIB. Angka tersebut telah melampaui ambang batas 55 µg/m³ yang digunakan BMKG sebagai indikator kualitas udara tidak sehat.
1. Penurunan kualitas udara diduga kuat dipengaruhi sebaran asap dari karhutla

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengatakan penurunan kualitas udara diduga kuat dipengaruhi oleh sebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah daerah. Hal ini memicu meningkatnya paparan polusi akibat asap kebakaran di ibu kota provinsi itu.
"Meski sebagian titik kebakaran telah berhasil dipadamkan, masih terdapat sejumlah lokasi yang mengeluarkan asap sehingga partikel halus terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di Palembang. Bisa jadi penurunan kualitas udara ini akibat asap karhutla," ujarnya.
2. BMKG imbau masyarakat mulai batasi aktivitas di luar ruangan

Meningkatnya konsentrasi PM2.5 menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk hingga ke paru-paru dan memicu gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit saluran pernapasan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara terlihat berkabut atau tercium aroma asap. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan sebagai langkah untuk mengurangi paparan partikel berbahaya.
"Jika secara visual udara terlihat kabur atau tercium bau asap, sebaiknya melindungi diri dengan menggunakan masker atau mengurangi aktivitas di luar ruangan," jelas Wandayantolis.
3. Kualitas udara di Sumsel menjadi terburuk di Indonesia

Sementara itu, melansir halaman Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Kamis (6/8/2026) pukul 08.00 WIB, kualitas udara di Sumsel menjadi terburuk di Indonesia, dengan indeks kualitas udara di Sumsel sebesar 181.
ISPU merupakan angka tanpa satuan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi mutu udara ambien di lokasi tertentu dan didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika, dan makhluk hidup lainnya. Perhitungan ISPU berdasarkan hasil pengukuran tujuh parameter pencemar udara, yakni PM10, PM2.5, NO2, SO2, CO, O3, dan HC. Pengukuran parameter pencemar udara tersebar di 72 stasiun di berbagai daerah.
Berdasarkan Permen LHK No. 14 Tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara, ISPU pada rentang 0-50 memiliki kualitas udara baik, rentang 51-100 berarti kualitas udara sedang, dan rentang 101-200 berarti kualitas udara tidak sehat yang bersifat merugikan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Berikutnya, kualitas udara sangat tidak sehat pada rentang 201-300 dapat meningkatkan risiko kesehatan pada kelompok sensitif. Sementara, kualitas udara berbahaya pada rentang lebih dari 300 dapat merugikan kesehatan secara serius dan perlu penanganan cepat.
Berikut daftar 10 provinsi dengan indeks kualitas udara terburuk di Indonesia pada Kamis (6/8/2026) pukul 08.00 WIB.


















