Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Konsep Mikro Finance Mampu Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Syariah

Konsep Mikro Finance Mampu Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Syariah
kegiatan Eksistensi Islamic Micro Finance Dalam Pembangunan Ekonomi Umat di Era Revolusi Industri 4.0, di Gedung Patra Ogan Pertamina Plaju, Senin (24/2) (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Share Article

Palembang, IDN Times - Pengamat Ekonomi Syariah dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Prof Dr Romli menyatakan, konsep micro finance bisa menjadi pilihan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi syariah guna bersaing dengan ekonomi konvensional.  

Melihat pangsa pasar di Indonesia yang dominan menerapkan ekonomi konvensional dalam kehidupan sehari-hari, maka satu bentuk dorongannya yakni mengenalkan ekonomi syariah ke masyarakat melalui keuangan pemberian jasa.

"Bisa dengan menjadikan praktik jasa murni, seperti kerja sama usaha, sistem penyewaan dan jasa simpan pinjam. Ini berpeluang mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah, serta bisa menjaga stabilisasi pertumbuhan. Jadi ada penyetaraan antara syariah dan konvensional," kata dia, pada acara Eksistensi Islamic Micro Finance Dalam Pembangunan Ekonomi Umat di Era Revolusi Industri 4.0, di Gedung Patra Ogan Pertamina Plaju, Senin (24/2).

1. Tanpa unsur riba, ekonomi syariah bisa ciptakan keuntungan

Ketua PW Muhammadiyah sekaligus pengamat ekonomi syariah, Prof Dr Romli (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Ketua PW Muhammadiyah sekaligus pengamat ekonomi syariah, Prof Dr Romli (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Romli menerangkan, walau ekonomi syariah tidak menggunakan riba (bunga), namun masih bisa mendapatkan keuntungan dari bagi hasil dan akad perjanjian di awal.

"Secara maslahat tetap menguntungkan, karena konsep keuangan jasa ini berupa penghimpunan dana dan pemberian pinjaman dalam jumlah kecil. Seperti koperasi yang pelaku ekonominya langsung terjun dalam bisnis," terang dia.

Sebab, sambung dia, tujuan micro finance ini lebih mengutamakan perkembangan ekonomi yang bersifat asuransi atau membangun pasar dengan modal lebih rendah. Jadi, keluar dan masuknya dana terkontrol dengan baik.

2. Faktor kepercayaan menjadi alasan ekonomi syariah belum tumbuh pesat

kegiatan Eksistensi Islamic Micro Finance Dalam Pembangunan Ekonomi Umat di Era Revolusi Industri 4.0, di Gedung Patra Ogan Pertamina Plaju, Senin (24/2) (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
kegiatan Eksistensi Islamic Micro Finance Dalam Pembangunan Ekonomi Umat di Era Revolusi Industri 4.0, di Gedung Patra Ogan Pertamina Plaju, Senin (24/2) (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Romli menjelaskan, meski rata-rata pertumbuhan ekonomi syariah masih di bawah konvensional, namun secara nasional sejauh ini sudah mulai ada peningkatan sedikitnya 10 persen.

"Saya tidak bisa mengatakan berapa angka pastinya, karena kita butuh data konkret. Namun secara analisis, ekonomi syariah sudah lumayan populer. Asal pengenalan di masyarakat terus disosialisasikan," jelasnya.

3. Anggota koperasi karyawan patra Pertamina banyak yang beralih dari konvensional ke syariah

Wakil Ketua Koperasi Karyawan Patra, Lilik riyanto (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Wakil Ketua Koperasi Karyawan Patra, Lilik riyanto (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Sementara, Wakil Ketua Koperasi Karyawan Patra, Lilik Riyanto menuturkan, saat ini pihaknya sudah tertarik membangun usaha jasa dengan konsep ekonomi syariah dengan membentuk unit SPPS (Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah).

"Unit SPPS ini masuk bagian usaha koperasi yang menerapkan sistem keuangan secara syariah. Tanpa riba ini kita lakukan, karena anggota dari koperasi karyawan patra banyak yang beralih ke syariah dari konvensional," tutur dia.

Atas dasar itu, diharapkan melalui unit SPPS karyawan patra bisa memanfaatkan kebutuhan dengan jasa syariah.

"Target kita dari sistem ini setahun menghasilkan omset Rp32 miliar dengan Rp7 miliar beras dari simpan pinjam syariah," tandas dia.

Share Article
Editorial Team

Latest News Sumatera Selatan

See More