Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kondisi Udara Palembang Bertahan Dalam Kondisi Tidak Sehat Berhari-hari

Kota Palembang
Kondisi Udara Palembang Bertahan Dalam Kondisi Tidak Sehat Berhari-hari
Kabut asap menyelimuti Palembang, Minggu 23 Agustus 2026. Jembatan Ampera tampak samar dari kejauhan. (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Kualitas udara Palembang masih tidak sehat; PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 180,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 04.00 WIB dan 81,6 pada pagi hari.
  • BMKG mengingatkan PM2.5 berpotensi meningkat pada malam hingga pagi akibat akumulasi asap, serta menyarankan masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan.
  • Anak TK dan SD disarankan belajar daring. Pemprov Sumsel menyiapkan modifikasi cuaca pada 27-28 Agustus jika awan hujan tersedia untuk penyemaian garam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Kualitas udara di Palembang, Sumatra Selatan, masih berada dalam kategori tidak sehat. Berdasarkan hasil pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi partikulat halus masih berada pada level yang perlu diwaspadai hingga pagi hari.

Kondisi terburuk terjadi pada dini hari. Konsentrasi PM2.5 mencapai 180,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 04.00 WIB, masuk dalam kategori merah atau sangat tidak sehat. Kondisi ini sudah terjadi sejak Sabtu, 22 Agustus 2026 lalu, dan yang terparah terjadi pada Minggu 23 Agustus.

"Berdasarkan data di Stasiun PM2.5 di Musi 2 Palembang, terpantau kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Hingga pagi ini tercatat tidak sehat dengan nilai 81,6 mikrogram per meter kubik," ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatra Selatan, Wandayantolis, Rabu (26/8/2026).

  1. 1. Anak TK dan SD disarankan belajar daring

    Kabut asap menyelimuti Palembang, Minggu 23 Agustus 2026. Jembatan Ampera tampak samar dari kejauhan.
    Kabut asap menyelimuti Palembang, Minggu 23 Agustus 2026. Jembatan Ampera tampak samar dari kejauhan. (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Dayan menjelaskan, kualitas udara di Palembang dapat berubah seiring dengan pergerakan dan penyebaran asap. Konsentrasi PM2.5 juga berpotensi meningkat pada malam hingga pagi hari saat kondisi atmosfer membuat asap lebih mudah terakumulasi.

    Dirinya mengingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan karena kondisi udara yang buruk. Termasuk anak TK dan SD yang rentan terpapar udara buruk.

    "Kami menyarankan baiknya anak sekolah tingkat TK dan SD melakukan pembelajaran daring dari rumah, karena tingkat paparan PM2.5 pada level tidak sehat hingga sangat tidak sehat," jelasnya.

  2. 2. OMC akan dilakukan saat ada potensi awan hujan

    Kabut asap pekat menyelimuti kawasan Keramasan di Palembang, mengaburkan jalan akses menuju Tol Palembang-Indralaya.
    Kabut asap di kawasan Keramasan, akses menuju Tol Palembang-Indralaya. (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Pemerintah Sumatra Selatan (Sumsel) kembali mempersiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah untuk membasahi lahan yang mengalami kekeringan. Pelaksanaan OMC akan melihat perkembangan cuaca dalam beberapa hari ke depan.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iqbal Alisyahbana, menyebut awan hujan kembali muncul di Sumsel pada 27-28 Agustus mendatang. Kondisi ini akan dimanfaatkan untuk menyemai garam di langit Sumsel.

    "Informasi dari BMKG, tanggal 27 atau 28 Agustus ini ada potensi awan. Mudah-mudahan apa yang disampaikan BMKG ini memang tumbuh awan hujan dan bisa digunakan untuk penyemaian OMC," ungkap Iqbal.

  3. 3. Pesawat disiapkan untuk semai garam

    Kabut asap menyelimuti kawasan Keramasan di akses menuju Tol Palembang-Indralaya, membuat jarak pandang di jalan berkurang.
    Kabut asap di kawasan Keramasan, akses menuju Tol Palembang-Indralaya. (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Iqbal menjelaskan, pesawat bantuan BNPB yang berada di Sumsel tidak hanya dipersiapkan untuk mendukung pelaksanaan OMC. Pesawat tersebut juga dapat digunakan untuk memantau kondisi atmosfer apabila tidak ditemukan awan yang sesuai untuk disemai.

    "Ketika ada potensi awan, dia menjadi pesawat untuk OMC. Tapi ketika potensi awan hujan tidak ada, dia menjadi kontrol," jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More