Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

9.313 Kasus ISPA di Palembang per Agustus, KLH Soroti Kualitas Udara

Kota Palembang
9.313 Kasus ISPA di Palembang per Agustus, KLH Soroti Kualitas Udara
Kabut asap menyelimuti Palembang, Minggu 23 Agustus 2026. Jembatan Ampera tampak samar dari kejauhan. (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • ISPA menjangkit masyarakat semua kelompok usia mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia

  • Saat ini Indonesia tengah menghadapi fenomena El-Nino kuat yang telah muncul sejak Juli 2026

  • Kepala daerah harus melakukan aksi pencegahan secara masif di titik-titik rawan dan meningkatkan intensitas patroli gabungan terpadu secara rutin

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Kasus penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Palembang menunjukkan kenaikan signifikan seiring dengan memburuknya kualitas udara akibat karhutla. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang melaporkan, hingga Juli 2026 telah menangani sebanyak 94.964 kasus ISPA yang menyerang masyarakat di wilayah setempat.

Angka tersebut merupakan periode Januari-Juli 2026, dan kembali mengalami kenaikan pada Agustus 2026. Terbaru, Dinkes mencatat kasus ISPA tembus 9.313 kasus sepanjang 1–21 Agustus 2026.

  1. 1. Sampai saat ini tidak ada pasien ISPA yang dilaporkan meninggal dunia

    Ilustrasi seseorang mengalami gejala ISPA dengan memegang tisu saat beristirahat di dalam ruangan.
    ilustrasi seseorang terkena ISPA (pexels.com/Polina Tankilevitch)

    Kendati demikian, dari jumlah tersebut tidak ditemukan adanya kasus pasien meninggal dunia akibat ISPA. Kepala Dinkes Kota Palembang, Fenty Aprina, mengatakan bahwa ISPA menjangkit masyarakat dari semua kelompok usia, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia.

    "Alhamdulillah, di Palembang tidak ada pasien meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Namun, yang harus diperhatikan adalah penyakit ini sangat mudah menular dan bisa dialami oleh semua kalangan, khususnya para lansia dan anak-anak. Apalagi saat musim kemarau, karena banyak debu beterbangan yang memicu ISPA mudah menyebar luas," ujarnya.

    Fenty menjelaskan bahwa penyakit ISPA merupakan infeksi akut yang menyerang satu komponen saluran pernapasan, tepatnya di bagian atas seperti hidung, sinus, faring, dan laring.

    Sebagai upaya pencegahan, saat ini pihaknya menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta selalu menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih.

    "Masyarakat juga kami minta menggunakan masker sebagai cara yang efektif agar terhindar dari penyebaran ISPA, terutama saat musim kemarau," ujarnya.

  2. 2. Banyak wilayah yang telah melewati Baku Mutu Udara Ambien

    Kabut asap di kawasan Keramasan, akses menuju Tol Palembang-Indralaya.
    Kabut asap di kawasan Keramasan, akses menuju Tol Palembang-Indralaya. (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Sementara itu, merespons penurunan kualitas udara dan ancaman karhutla di musim kemarau 2026, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) kini fokus melindungi keselamatan, khususnya di wilayah terdampak. Seperti Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan

    Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, dalam siaran pers yang diterima Minggu (23/8/2026) mengatakan saat ini Indonesia tengah menghadapi fenomena El Nino kuat yang telah muncul sejak Juli 2026. Kondisi ini memicu tingginya kerawanan karhutla.

    Berdasarkan pemantauan KLH/BPLH, terjadi penurunan kualitas udara yang signifikan di beberapa provinsi:

    1. Konsentrasi PM2.5 di Kampar (Riau) mencapai 48,84 µg/m³,
    2. Ogan Ilir (Sumatra Selatan) 47,39 µg/m³,
    3. Katingan (Kalimantan Tengah) 30,16 µg/m³,
    4. Pontianak (Kalimantan Barat) 26,41 µg/m³,
    5. Kota Jambi 26,18 µg/m³, dan
    6. Banjarmasin (Kalimantan Selatan) 17,40 µg/m³

    "Banyak dari wilayah tersebut telah melewati Baku Mutu Udara Ambien atau masuk dalam kategori tidak sehat," ujar Jumhur Hidayat.

  3. 3. Kepala daerah harus melakukan aksi pencegahan secara masif di titik-titik rawan

    Tim Manggala Agni Daops Sumatra XV/Muba saat mencari sumber air untuk pemadaman karhutla di Muara Medak.
    Tim Manggala Agni Daops Sumatra XV/Muba saat mencari sumber air untuk pemadaman karhutla di Muara Medak. (Dok. Manggala Agni)

    Pihaknya memahami sepenuhnya bahwa kondisi kabut asap ini sangat mengganggu kesehatan masyarakat, menghambat aktivitas sosial, dan berdampak negatif pada roda ekonomi. Sebagai mitigasi dan antisipasi kebakaran lahan yang lebih luas, Menteri LH/Kepala BPLH telah menerbitkan pedoman melalui dokumen SE 16 TAHUN 2026 Larangan Pembukaan Lahan Dengan Cara Membakar.

    Sejalan dengan surat edaran tersebut, Menteri LH/Kepala BPLH telah menyampaikan instruksi mendesak karhutla kepada Gubernur Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau dan Sumatra Selatan untuk segera melakukan langkah-langkah perbaikan dan pengamanan.

    "Kepala daerah harus melakukan aksi pencegahan secara masif di titik-titik rawan dan meningkatkan intensitas patroli gabungan terpadu secara rutin sebelum api meluas. Melakukan pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) gambut secara ketat dan segera melakukan pembasahan bila nilai TMAT berada pada level rawan dan sangat rawan," ucapnya.

    Selanjutnya, mengaktifkan serta memaksimalkan fungsi operasional Posko Pengendalian Kebakaran Lahan di setiap daerah, serta memastikan kesiapan personel satgas dan prasarana pemadaman. Termasuk mengevaluasi data pemantauan Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien (SPKUA) secara berkala sebagai basis pengambilan keputusan mitigasi kesehatan publik.

    "Kami mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk turut menjaga diri selama masa siaga ini. Kurangi aktivitas di luar ruangan bila kualitas udara memburuk, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan. Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, pastikan sirkulasi udara di dalam rumah tetap terjaga, dan segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami keluhan pernapasan," jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More