Ubi Bombing Disiapkan Jadi Senjata Baru Lawan Karhutla di Sumsel

- Sumsel mendorong pengembangan ubi bombing, inovasi pemadam berbahan singkong berbentuk jeli dari Babinsa Lubuk Linggau, sebagai alternatif penanganan karhutla selain pemadaman udara.
- Penggunaan ubi bombing masih terbatas karena memerlukan sarana pendukung, sementara asap karhutla masih terpantau di Palembang dan dapat terkonsentrasi akibat kondisi wilayah rendah serta arah angin.
- Presiden Prabowo meminta produksi dan uji coba skala besar bahan pemadam tepung ubi, serta menugaskan BNPB dan BRIN mengkaji material alternatif untuk pemadaman lapangan.
Palembang, IDN Times - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan tak hanya mengandalkan pemadaman dari udara. Inovasi berbahan dasar singkong yang disebut "ubi bombing" mulai didorong untuk dikembangkan dalam skala lebih besar sebagai alternatif membantu pemadaman api di lapangan.
Inovasi tersebut merupakan temuan Babinsa di Lubuk Linggau yang sebelumnya telah diperagakan dalam apel Karhutla di Griya Agung Mei silam. Bentuknya menyerupai alat pemadam api ringan (APAR), namun bahan pemadam yang digunakan berbentuk seperti jeli.
"Presiden sudah meminta inovasi ini diperbesar kepada TNI," jelas Gubernur Sumsel Herman Deru, Selasa (25/8/2026).
1. Penggunaan ubi bombing masih terbatas

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Meski inovasi ubi bombing sudah mulai diuji, penggunaannya saat ini masih terbatas. Pengembangan lebih lanjut masih membutuhkan media atau sarana pendukung agar inovasi tersebut dapat diterapkan secara efektif ketika pemadaman karhutla berlangsung.
"Sudah dilakukan tapi masih sebagian kecil kan karena kita butuh media untuk menerapkannya di lapangan," kata Deru.
Pengembangan ubi bombing menjadi perhatian di tengah kondisi karhutla yang masih berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah Sumsel. Salah satunya Palembang yang hingga kini masih terdapat asap.
Asap dari wilayah yang mengalami kebakaran dapat terbawa angin dan bergerak menuju Palembang. Kondisi geografis Palembang yang berada di wilayah rendah juga disebut membuat asap dapat terkonsentrasi di kawasan tersebut.
"Benar masih ada asap di Palembang dimana Palembang adalah tempat terendah tempat bermuaranya sungai dan angin bertiup dia akan ikut," katanya.
2. Ada inovasi bahan pemadam dari tepung ubi

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Diketahui, Presiden Prabowo mendorong jajaran pemerintah untuk melakukan terobosan baru dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satu yang diutarakan Prabowo, adalah mengembangkan bahan pemadam alternatif berbahan baku ubi dan singkong.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya inovasi bahan pemadam berbahan baku tepung ubi atau singkong. Bahan tersebut dinilai berpotensi mencegah penyebaran api dengan memisahkan unsur-unsur yang mendukung proses pembakaran, sekaligus dapat digunakan untuk memadamkan api pada tahap awal.
Pangdam II Sriwijaya, Mayjen TNI Ujang Darwis, melaporkan inovasi itu sudah dipaparkan kepada jajaran terkait dan disampaikan kepada BNPB. Meski kapasitas produksinya masih terbatas, bahan tersebut dinilai efektif dan berpotensi dikembangkan dalam skala lebih besar.
Menanggapi laporan itu, Presiden Prabowo meminta agar inovasi berbahan baku ubi atau singkong tersebut segera dikembangkan dan diuji coba dalam skala lebih besar. Ia juga meminta agar kebutuhan anggaran produksinya segera diajukan agar pemerintah bisa mendukung proses riset, produksi, dan pengujian efektivitasnya.
"Menarik sekali. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar. Ajukan biaya untuk produksinya. Kita usahakan semua upaya. Berarti yang kita water bomb bukan water bomb, ubi bombing. Ubi bombing," ucap Presiden Prabowo.
3. BNPB dan BRIN diminta kaji bahan kimia alternatif

Kondisi kabut asap menyelimuti perairan Sungai Musi kota Palembang, Rabu 12 Agustus 2026. ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI Prabowo meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji kemungkinan penggunaan bahan kimia atau material tertentu yang bisa digunakan untuk memadamkan sekaligus mencegah penyebaran api secara lebih efektif.
Menurut dia, inovasi tersebut dapat digunakan oleh tim pemadam di lapangan dalam bentuk tabung semprot maupun metode lain yang lebih praktis.
"Seperti alat pemadam kebakaran, ya, yang kita bayangkan, itu kan yang keluar kan zat kimia. Benar gak? Ya, coba dicek ya. Mungkin BRIN, coba dicek BRIN ya. BRIN, apakah bisa produksi atau kita sourcing. Kan dijual untuk alat-alat, ya, isinya. Kita mau isinya, cari sourcing dari mana sehingga mungkin lebih efektif untuk tim-tim yang terjun. Dia sudah bawa tabung-tabung itu. Mungkin lebih cepat," kata Presiden Prabowo.















