7 Dampak Kabut Asap Karhutla pada Hidung, Bisa Picu Mimisan

- Kabut asap karhutla di Sumatra Selatan mengiritasi hidung sebagai organ pertama yang terpapar partikel dan gas, memicu sumbatan, cairan bening, bersin, gatal, panas, atau perih.
- Paparan asap dapat mengeringkan mukosa hingga memicu mimisan ringan, menurunkan penciuman sementara, serta memperburuk rinitis, sinus, polip hidung, asma, dan PPOK.
- Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan pernapasan perlu mengurangi aktivitas luar; gunakan masker N95/KN95, saline, jaga hidrasi, dan lanjutkan pengobatan rutin.
Palembang, IDN Times - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra Selatan (Sumsel). Kondisi ini tak hanya membuat jarak pandang terganggu atau memicu keluhan sesak napas, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan hidung.
Dikutip dari unggahan Instagram resmi RSUP Moehammad Hoesin Palembang, kabut asap tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan hidung dan sinus. Hidung menjadi organ pertama yang berhadapan langsung dengan partikel dan gas iritan dari asap.
Berikut sejumlah dampak kabut asap terhadap hidung yang perlu diwaspadai.
1. Hidung bisa tersumbat dan terus mengeluarkan cairan

Ilustrasi anak pilek (pexels.com/cottonbro studio) Paparan asap dapat mengiritasi lapisan mukosa hidung. Kondisi ini bisa membuat hidung terasa tersumbat dan memicu keluarnya sekret atau cairan bening.
Keluhan tersebut dapat muncul selama seseorang berada di lingkungan dengan konsentrasi asap yang tinggi.
2. Bersin terus-menerus hingga hidung terasa panas

ilustrasi gejala pilek atau flu (pexels.com/Andrea Piacquadio) Asap mengandung partikel dan gas yang dapat mengiritasi saluran pernapasan bagian atas. Akibatnya, seseorang bisa mengalami bersin berulang, hidung terasa gatal hingga sensasi panas atau perih.
Keluhan ini dapat terasa lebih berat pada orang yang sebelumnya memiliki rinitis alergi.
3. Mukosa hidung kering hingga menyebabkan mimisan

ilustrasi lansia menderita batuk pilek (pexels.com/ Vlada Karpovich) Paparan asap juga dapat membuat lapisan mukosa hidung menjadi kering dan lebih mudah mengalami iritasi.
Dalam kondisi tertentu, pembuluh darah kecil di dalam hidung dapat lebih mudah pecah sehingga menyebabkan mimisan ringan.
4. Kemampuan mencium bau bisa menurun

ilustrasi wanita pilek (pexels.com/Andrea Piacquadio) Kabut asap juga dapat memengaruhi kemampuan penciuman.
Paparan asap dapat menyebabkan penurunan kemampuan mencium bau atau hiposmia untuk sementara waktu, terutama ketika hidung mengalami iritasi atau tersumbat.
5. Bisa memperburuk rinitis dan masalah sinus

ilustrasi seseorang anak sedang pilek (freepik.com/freepik) Bagi masyarakat yang memiliki rinitis alergi, paparan asap dapat membuat gejala lebih mudah kambuh dan terasa lebih berat.
Paparan dalam jangka menengah hingga panjang juga dapat berkontribusi terhadap gangguan sinus, termasuk rinosinusitis akut hingga kronis. Penyumbatan pada saluran sinus dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bagi penderita polip hidung maupun rinosinusitis kronis karena gejalanya bisa semakin memburuk.
6. Anak-anak hingga penderita asma lebih perlu waspada

ilustrasi pilek atau flu (freepik.com/katemangostar) Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap kabut asap. Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian karena saluran pernapasan mereka masih berkembang dan frekuensi pernapasannya relatif lebih tinggi.
Lansia juga lebih rentan mengalami komplikasi karena fungsi paru dan sistem imun dapat menurun seiring bertambahnya usia. Sementara itu, penderita rinitis alergi, rinosinusitis, polip hidung, asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) juga perlu lebih berhati-hati.
Ibu hamil serta pasien yang memiliki riwayat operasi hidung dan sinus juga disarankan mengurangi paparan asap.
7. Gunakan masker dan kurangi aktivitas di luar rumah

ilustrasi pilek (freepik.com/pressfoto) Untuk mengurangi risiko paparan, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi asap sedang tinggi, terutama pada malam hingga dini hari.
Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker N95 atau KN95 yang menutup hidung dan mulut secara rapat.
RSMH juga menyarankan masyarakat menjaga kelembapan hidung dengan mencuci hidung menggunakan cairan saline. Cara ini dapat membantu membersihkan partikel sekaligus menjaga kelembapan mukosa.
Kualitas udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan. Jika memungkinkan, masyarakat dapat menggunakan air purifier dengan filter HEPA. Selain itu, pastikan kebutuhan cairan tubuh tercukupi agar mukosa hidung tetap lembap dan dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Bagi masyarakat yang memiliki penyakit saluran pernapasan, pengobatan rutin juga tetap perlu dilanjutkan sesuai anjuran dokter.


















