Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kala Nyali Jadi Urat Nadi di Balik Denyut Arus Dagang Sumsel
Aktivitas bongkar muat pupuk NPK milik Pusri di PTP Nonpetikemas Pelabuhan Boom Baru Palembang dari distribusi pengiriman Vietnam (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
  • Hidayatullah, operator crane di Pelabuhan Boom Baru Palembang, berperan penting menjaga kelancaran bongkar muat logistik meski menghadapi risiko tinggi dan jam kerja panjang demi menopang ekonomi keluarganya.
  • PTP Nonpetikemas Palembang menuntaskan bongkar muat 4.509 ton pupuk MOP dari Vietnam untuk PT Pusri, memastikan pasokan bahan baku industri pupuk nasional tetap lancar di Sumatra Selatan.
  • Melalui sistem digital PTOS-M dan sinergi Pelindo Group, produktivitas PTP Nonpetikemas meningkat pada triwulan I 2026 dengan throughput nasional mencapai 12,4 juta ton atau tumbuh 3,84 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Seorang bapak namanya Hidayatullah kerja di pelabuhan Palembang. Dia naik crane tinggi sekali buat angkat karung pupuk dari kapal besar dari Vietnam ke truk. Panas banget tapi dia tetap semangat karena mau cari uang buat keluarga. Banyak orang kerja bantu pindahin pupuk itu supaya pabrik bisa bikin pupuk lagi untuk petani di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Sinar matahari begitu menyengat siang itu. Para operator crane yang berada di ketinggian 25 meter dari permukaan tanah di Pelabuhan Boom Baru Palembang, Sumatra Selatan, nampak begitu fokus mengendalikan 'tangan raksasa', memindahkan peti kemas meski suhu mencapai 32 derajat.

Saat itu, komoditas pupuk dari Vietnam baru saja sampai untuk segera didistribusikan ke Gudang Pupuk Sriwijaya (Pusri).

Dari balik bilik operator crane berukuran sekitar 2,5 meter × 1,8 meter, Hidayatullah terlihat duduk dalam kabin. Jari-jemarinya piawai memainkan panel kontrol, memindahkan ribuan ton pupuk dari kapal ke dalam 22 unit mobil truk yang telah menunggu.

Perlahan namun pasti, lengan crane raksasa bergerak mengikuti arahan tangannya. Kait baja berukuran besar, turun ke punggung kapal untuk mencengkeram karung-karung putih berukuran besar sebelum terangkat perlahan ke udara. 

"Harus hati-hati saat mengoperasionalkan alat ini, karena taruhannya nyawa buruh juga saya. Harus safety, risiko tinggi," kata pria berusia 30 tahun itu.

Sekitar medio April 2026, Hidayatullah berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan distribusi logistik sesuai jadwal. Sebab, ada 4.509 ton muriate of potash (MOP) yang harus dipindahkan dari kontainer menuju kapal MV Gold Spring yang berdiri kokoh di tepian Sungai Musi.

Secara presisi, ia menurunkan muatan satu per satu tepat ke bak kendaraan truk  yang telah antre bak kelompok semut bila dilihat dari ketinggian.

Perhitungan arah angin, ditambah bobot beban, hingga komunikasi dengan petugas rigger yang ada di bawah harus dipahami oleh Hidayatullah. Agar keamanan saat proses pemindahan tetap terjaga. Tak jarang, mata bapak tiga anak ini pun harus tetap terjaga di tengah malam demi proses bongkar muat sesuai target.

"Kadang bisa sampai jam 2 dini hari. Tergantung seberapa banyak barang dan petugas yang bekerja," jelasnya.

Sebagai operator crane, Hidayatullah menjadi pilar krusial dalam kelancaran arus dagang dan aktivitas ekspor-impor Sumatra Selatan. Barang-barang kebutuhan masyarakat, bahan industri, hingga komoditas unggulan daerah melewati tangannya sebelum dikirim ke berbagai tujuan.

Walau memegang risiko besar dalam pekerjaannya, Hidayatullah bangga bisa bertahan menepis rasa gelisah. Ia pun kini sudah 11 tahun setia dalam kabin, ruang yang hanya cukup untuk dua orang, demi bisa menghidupi 5 orang.

"Demi keluarga, tiga anak dan istri saya bertahan melawan perasaan (takut) saat pertama kali jadi operator crane," kata dia.

Perjalanan Karir Operator

Hidayatullah sejak lulus SMA memang langsung magang di Pelindo. Semula ia tidak ditempatkan sebagai operator crane. Tetapi sebagai karyawan kantor.  Ketekunan dan keseriusannya dalam bekerja, membuat Hidayatullah mendapatkan kesempatan untuk menjadi operator.

Ia kemudian mengikuti tes sertifikasi agar bisa mengendalikan alat berat. Butuh waktu tiga bulan, hingga akhirnya dia lolos dan dipercaya untuk menjaga nadi distribusi logistik dari ketinggian.

Kata Hidayatullah, operator crane bukan hanya tenaga kerja, melainkan nadi pelabuhan. Tanpa operator crane, pelabuhan hanyalah kumpulan baja dan mesin yang membisu.

"Kalau kapal cepat selesai bongkar muat, distribusi barang juga cepat. Itu yang penting,” ujarnya.

Dia bercerita, hal yang membuatnya betah bekerja adalah suara-suara dari buruh pengangkut karung. Mereka tak pernah terlihat lelah, meski terhimpit rasa letih.

Walau tak mengenal hari libur dan tanggal merah, usaha juang para pekerja berhasil menghidupkan neraca perdagangan. Baginya, setiap kontainer yang berhasil dipindahkan adalah bagian dari roda ekonomi yang terus bergerak.

"Sistem kerja shift, sehari 12 jam kerja. Ada dua shift. Kalau tanggal merah lagi ada, shift gak libur. Kadang Lebaran, Idul Adha ya, pas liburan nasional juga masih kerja. Syukurnya, anak istri sudah paham dengan pekerjaan ini," kata Hidayatullah, tersenyum tipis.

Mengaku sempat jenuh karena beberapa waktu bekerja tanpa batas, Hidayatullah berterima kasih karena dari pelabuhan ia bisa bertahan dan kuat memikul tanggung jawab besar.

Kata dia, pekerjaan tak selalu ramah, namun di setiap kerasnya lelah ada kenangan dan jejak tangan operator crane yang menopang distribusi logistik tetap mengalir.

PTP Nonpetikemas Palembang Jaga Rantai Pasok Nasional lewat 4.509 Ton Pupuk

Menurut Branch Manager PTP Nonpetikemas Palembang, Ade Affandi (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Menurut Branch Manager PTP Nonpetikemas Palembang, Ade Affandi, kegiatan bongkar muat pupuk MOP menjadi bagian penting dalam menjaga rantai pasok industri pupuk nasional, khususnya di Sumatra Selatan.

Aktivitas bongkar muat tersebut berlangsung sejak kapal MV Gold Spring sandar pada 14 April 2026 hingga 19 April 2026. Ade mengatakan PT Pelabuhan Tanjung Priok Nonpetikemas Cabang Palembang melakukan proses operasional bongkar muat bersama PT Kharisma Bahari dengan memanfaatkan fasilitas pelabuhan seperti jib crane, hopper, dan grab.

"Aktivitas bongkar muat pupuk total 4.509 ton yang diangkut kapal MV Gold Spring dari Pelabuhan Cuo Lo, Vietnam," katanya.

PTP Nonpetikemas Palembang, lanjut Ade Affandi, terus berkomitmen mendukung kelancaran distribusi logistik, khususnya untuk komoditas strategis seperti pupuk.

"Kami terus memperkuat perannya dalam mendukung kelancaran rantai pasok industri pupuk nasional melalui layanan bongkar muat yang andal dan terintegrasi di Sumsel," jelas dia.

Ade menyampaikan, pupuk MOP yang dibongkar merupakan bahan baku impor milik PT Pusri yang akan digunakan dalam proses produksi pupuk majemuk NPK (Nitrogen, Fosfat, dan Kalium). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan bahan baku industri pupuk nasional serta mendukung sektor pertanian di Indonesia.

PTP Nonpetikemas Wujudkan Transformasi Digital

Aktivitas bongkar muat pupuk NPK milik Pusri di PTP Nonpetikemas Pelabuhan Boom Baru Palembang dari distribusi pengiriman Vietnam (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Tak hanya mengandalkan infrastruktur, PTP Nonpetikemas juga memperkuat sistem operasional melalui transformasi digital berbasis PTOS-M (Pelindo Terminal Operating System Multipurpose).  

PTOS-M merupakan sistem operasi terminal terintegrasi milik Pelindo yang digunakan untuk mengelola berbagai jenis kargo, termasuk nonpetikemas secara digital, mencakup seluruh proses mulai dari perencanaan, operasi, pemantauan, hingga pelaporan untuk meningkatkan efisiensi dan standardisasi layanan  pelabuhan di Indonesia.

General Manager Pelindo Regional 2 Palembang, Nunu Husnul Khitam, menekankan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menjaga kelancaran operasional pelabuhan. 

"Sinergi Pelindo Group dan regulator dilakukan untuk memastikan distribusi logistik berjalan optimal," kata dia.

Sementara berdasarkan kinerja operasional PTP Nonpetikemas Cabang Palembang, perusahaan menunjukkan tren positif. Pada triwulan pertama 2026, produktivitas bongkar muat mengalami peningkatan dengan general cargo naik 3 persen dari 1.500 TSD menjadi 1.544 TSD, serta curah cair tumbuh 1 persen dari 2.815 TSD menjadi 2.842 TSD. Sementara, bag cargo tercatat sebesar 876 TSD dan curah kering mencapai 1.297 TSD.

Secara konsolidasi nasional, throughput PTP Nonpetikemas pada triwulan I 2026 mencapai 12,4 juta ton atau tumbuh 3,84 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Kemudian, untuk komposisi terbesar masih didominasi curah kering sebesar 46 persen, diikuti curah cair 25 persen, general cargo 24 persen dan bag cargo 5 persen.

SM Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami, menambahkan bahwa capaian tersebut merupakan bukti konsistensi perusahaan dalam menghadirkan layanan terminal nonpetikemas yang andal dan terintegrasi di berbagai wilayah pelabuhan Indonesia.

"PTP Nonpetikemas Cabang Palembang terus memperkuat posisinya sebagai simpul penting distribusi logistik nasional, khususnya dalam menjamin kelancaran pasokan bahan baku pupuk demi keberlanjutan sektor pertanian Indonesia," jelasnya.

Editorial Team

Related Article