Palembang, IDN Times - Sinar matahari begitu menyengat siang itu. Para operator crane yang berada di ketinggian 25 meter dari permukaan tanah di Pelabuhan Boom Baru Palembang, Sumatra Selatan, nampak begitu fokus mengendalikan 'tangan raksasa', memindahkan peti kemas meski suhu mencapai 32 derajat.
Saat itu, komoditas pupuk dari Vietnam baru saja sampai untuk segera didistribusikan ke Gudang Pupuk Sriwijaya (Pusri).
Dari balik bilik operator crane berukuran sekitar 2,5 meter × 1,8 meter, Hidayatullah terlihat duduk dalam kabin. Jari-jemarinya piawai memainkan panel kontrol, memindahkan ribuan ton pupuk dari kapal ke dalam 22 unit mobil truk yang telah menunggu.
Perlahan namun pasti, lengan crane raksasa bergerak mengikuti arahan tangannya. Kait baja berukuran besar, turun ke punggung kapal untuk mencengkeram karung-karung putih berukuran besar sebelum terangkat perlahan ke udara.
"Harus hati-hati saat mengoperasionalkan alat ini, karena taruhannya nyawa buruh juga saya. Harus safety, risiko tinggi," kata pria berusia 30 tahun itu.
Sekitar medio April 2026, Hidayatullah berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan distribusi logistik sesuai jadwal. Sebab, ada 4.509 ton muriate of potash (MOP) yang harus dipindahkan dari kontainer menuju kapal MV Gold Spring yang berdiri kokoh di tepian Sungai Musi.
Secara presisi, ia menurunkan muatan satu per satu tepat ke bak kendaraan truk yang telah antre bak kelompok semut bila dilihat dari ketinggian.
Perhitungan arah angin, ditambah bobot beban, hingga komunikasi dengan petugas rigger yang ada di bawah harus dipahami oleh Hidayatullah. Agar keamanan saat proses pemindahan tetap terjaga. Tak jarang, mata bapak tiga anak ini pun harus tetap terjaga di tengah malam demi proses bongkar muat sesuai target.
"Kadang bisa sampai jam 2 dini hari. Tergantung seberapa banyak barang dan petugas yang bekerja," jelasnya.
Sebagai operator crane, Hidayatullah menjadi pilar krusial dalam kelancaran arus dagang dan aktivitas ekspor-impor Sumatra Selatan. Barang-barang kebutuhan masyarakat, bahan industri, hingga komoditas unggulan daerah melewati tangannya sebelum dikirim ke berbagai tujuan.
Walau memegang risiko besar dalam pekerjaannya, Hidayatullah bangga bisa bertahan menepis rasa gelisah. Ia pun kini sudah 11 tahun setia dalam kabin, ruang yang hanya cukup untuk dua orang, demi bisa menghidupi 5 orang.
"Demi keluarga, tiga anak dan istri saya bertahan melawan perasaan (takut) saat pertama kali jadi operator crane," kata dia.
Perjalanan Karir Operator
Hidayatullah sejak lulus SMA memang langsung magang di Pelindo. Semula ia tidak ditempatkan sebagai operator crane. Tetapi sebagai karyawan kantor. Ketekunan dan keseriusannya dalam bekerja, membuat Hidayatullah mendapatkan kesempatan untuk menjadi operator.
Ia kemudian mengikuti tes sertifikasi agar bisa mengendalikan alat berat. Butuh waktu tiga bulan, hingga akhirnya dia lolos dan dipercaya untuk menjaga nadi distribusi logistik dari ketinggian.
Kata Hidayatullah, operator crane bukan hanya tenaga kerja, melainkan nadi pelabuhan. Tanpa operator crane, pelabuhan hanyalah kumpulan baja dan mesin yang membisu.
"Kalau kapal cepat selesai bongkar muat, distribusi barang juga cepat. Itu yang penting,” ujarnya.
Dia bercerita, hal yang membuatnya betah bekerja adalah suara-suara dari buruh pengangkut karung. Mereka tak pernah terlihat lelah, meski terhimpit rasa letih.
Walau tak mengenal hari libur dan tanggal merah, usaha juang para pekerja berhasil menghidupkan neraca perdagangan. Baginya, setiap kontainer yang berhasil dipindahkan adalah bagian dari roda ekonomi yang terus bergerak.
"Sistem kerja shift, sehari 12 jam kerja. Ada dua shift. Kalau tanggal merah lagi ada, shift gak libur. Kadang Lebaran, Idul Adha ya, pas liburan nasional juga masih kerja. Syukurnya, anak istri sudah paham dengan pekerjaan ini," kata Hidayatullah, tersenyum tipis.
Mengaku sempat jenuh karena beberapa waktu bekerja tanpa batas, Hidayatullah berterima kasih karena dari pelabuhan ia bisa bertahan dan kuat memikul tanggung jawab besar.
Kata dia, pekerjaan tak selalu ramah, namun di setiap kerasnya lelah ada kenangan dan jejak tangan operator crane yang menopang distribusi logistik tetap mengalir.
