Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Ambruk hingga Saham Anjlok, Bagaimana Nasib Ekonomi Sumsel?

Rupiah Ambruk hingga Saham Anjlok, Bagaimana Nasib Ekonomi Sumsel?
Ilustrasi rupiah (IDN Times/Ita Malau)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Nilai Rupiah melemah hingga Rp17.514 per dolar AS akibat inflasi Amerika Serikat, memicu penurunan pasar saham dan membuat investor lebih berhati-hati menempatkan dana di aset Rupiah.
  • Bank Indonesia Sumsel memperkirakan tekanan inflasi meningkat karena pelemahan Rupiah, kenaikan tarif angkutan udara, serta awal musim kemarau yang memengaruhi harga komoditas seperti cabai dan bawang.
  • Pelemahan Rupiah berdampak besar pada industri karet Sumsel; biaya produksi naik lebih dari 10 persen meski harga karet dunia meningkat, sehingga keuntungan produsen tetap tertekan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Nilai Rupiah pada 14 Mei 2026 terpantau kian melemah. Ambruknya rupiah dipicu berbagai faktor, salah satunya karena Amerika Serikat mengalami inflasi mencapai 3,8 persen. Berdasarkan nilai terbaru, rupiah kini menembus Rp17.514 per 1 Dollar AS.

"Akibatnya (rupiah tumbang) berdampak dan memengaruhi pasar saham Indonesia perlahan anjlok. Nilai ini (pelemahan nilai tukar rupiah) lebih tinggi dari perkiraan pasar," ujar Kepala Wilayah Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sumatra Selatan, Hari Mulyono.

1. Investor beralih investasi ke Dollar AS

Ilustrasi investor
Ilustrasi investor (pexels.com/Kaushal Moradiya)

Apabila saham ikut tumbang, kata Hari, secara tak langsung berdampak pada pergerakan investasi termasuk di Sumsel. Rupiah yang melemah, memaksa investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset-aset berdenominasi rupiah.

Bahkan, akibat nilai rupiah yang kian melemah dari dolar Amerika Serikat, ke depan, tekanan inflasi pada Mei 2026 diprakirakan meningkat terbatas dan tidak terprediksi.

"Karena pelemahan pasar terjadi, maka inflasi meningkat dan membuat pelaku pasar terancam merugi karena bank sentra menaikkan suku bunga," jelasnya.

Apabila suku bunga Amerika Serikat naik, lanjutnya, investor global cenderung memindahkan dananya ke aset dolar AS yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil lebih tinggi. Imbasnya, negara berkembang seperti Indonesia bisa mengalami arus keluar modal asing atau capital outflow.

2. Proyeksi tekanan inflasi signifikan

Ilustrasi pedagang cabai, bawang, dan sembako lainnya (IDN Times/Yuko Utami)
Ilustrasi pedagang cabai, bawang, dan sembako lainnya (IDN Times/Yuko Utami)

Sementara kata Kepala Bank Indonesia Sumsel, Bambang Pramono, kondisi ekonomi pada bulan ini diproyeksi mengalami tekanan inflasi signifikan. Selain karena pengaruh nilai rupiah, kenaikan harga sejumlah komoditas pun dipengaruhi oleh beberapa kondisi.

Pertama efek kenaikan tarif angkutan udara yang dipengaruhi kebaikan harga avtur yang dipicu dinamika harga minyak global. Kedua, awal musim kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi komoditas hortikultura.

"Terutama ada potensi kenaikan tinggi dari komoditas cabai dan bawang," kata Bambang.

3. Biaya produksi karet Sumsel diperkirakan tak dapat menutupi pendapatan petani

ilustrasi kebun karet (Unsplash/Cecelia Chang)
ilustrasi kebun karet (Unsplash/Cecelia Chang)

Menurut Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K. Eddy, secara khusus, dampak pelemahan rupiah yang terjadi saat ini sangat berimbas terhadap ekspor komoditas unggulan khususnya karet.

Rupiah yang tumbang, berdampak pada lonjakan harga minyak dunia dan efeknya terasa langsung terhadap kenaikan harga bahan baku penolong, terutama plastik yang digunakan dalam proses produksi karet.

Kondisi tersebut kata Alex, diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang ikut mengerek biaya operasional industri. Ia pesismis meski harga karet naik, pendapatan tak akan bisa menutupi biaya pengolahan. Sebab rupiah yang melemah memengaruhi kkenaikan biaya produksi yang bisa menembus lebih dari 10 persen.

"Walaupun harga karet alam dunia naik, situasi ini belum sepenuhnya menguntungkan produsen karena biaya ikut melonjak," kata dia.

Lebih lanjut jelas Alex, tekanan tidak hanya dirasakan di sektor hilir. Dari sisi hulu, petani juga mulai terdampak. Persaingan antar pabrik dalam memperoleh bahan baku mendorong harga beli getah karet naik dan akhirnya berdampak kenaikan biaya produksi secara keseluruhan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More