Inflasi Sumsel Potensi Naik saat Lebaran, Ini Strategi TPID

- Bank Indonesia Sumsel memprediksi inflasi berpotensi naik saat Lebaran, terutama dari sektor volatile food, meski angka pastinya belum dapat dipastikan.
- TPID menyiapkan strategi cepat dan jangka panjang seperti operasi pasar murah serta program pengendalian inflasi pangan untuk menjaga stabilitas harga.
- Dukungan terhadap sektor pertanian diperkuat lewat bantuan sarana, pembentukan gapoktan, dan kemudahan akses KUR guna menjaga ketahanan pangan dan menekan inflasi.
Palembang, IDN Times - Bank Indonesia Sumatra Selatan memprediksi potensi kenaikan inflasi pada Lebaran 2026 atau Idul Fitri 1447 H. Namun, secara angka dan berapa persen kenaikan belum terprediksi. Sebab, tim pengendali inflasi daerah (TPID) masih perlu memantau pergerakan harga terutama volatile food.
"Naik tentu (inflasi) dilihat dari 2023-2025, prediksi 2026 juga (ada kenaikan inflasi). Pasti ada inflasi, utamanya volatile food, dan ini harus dijaga agar jangan tinggi," kata Kepala BI Sumsel Bambang Pramono, dikutip Rabu (25/2/2026).
1. Pengendalian inflasi juga dilakukan dalam jangka menengah dan panjang

Antisipasi TPID dalam menekan inflasi, kata dia, terbagi dalam dua strategi. Yakni berdasarkan langkah cepat maupun sistem jangka menengah dan panjang. Upaya awal dimulai dengan operasi pasar murah dan menjalankan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan serta Gerakan Pangan Pengendalian Inflasi Sejahtera.
"Ini sesuai asta cita ya, harapannya inflasi terjaga," kata Bambang.
2. Cabai dan bawang komoditas yang sering naik harga

Namun, lanjut dia, TPID penting memerhatikan penyebab inflasi, terutama faktor yang mendorong harga komoditas naik. Yakni, apakah memang permintaan tinggi atau ada permainan pasar seperti harga meningkat disengaja oleh pedagang.
"Ada yang memang pedagang sengaja menaikkan (harga), tapi kebanyakan dan standarnya karena permintaan masyarakat. Terutama untuk cabai dan bawang," jelas dia.
3. Pemberdayaan kelompok tani diyakini mampu tekan inflasi pangan

Bambang menyampaikan, langkah pengendalian inflasi dalam penyelenggaraan operasi pasar murah merupakan bentuk percepatan program menjaga harga jual. Tetapi untuk upaya menekan inflasi dalam jangka menengah dan panjang, kata dia, adalah konsistensi TPID dalam memberikan bantuan sarana dan prasarana terhadap sektor pertanian.
"Kita ingin memberdayakan kelompok tani, ada pendampingan. Buat ekosistem dalam mengendalikan inflasi ketahanan pangan. Agar pertumbuhan ekonomi bisa berjalan," katanya.
4. Bantuan kemudahan akses KUR jadi langkah jaga pangan sejahtera

Dia memberi contoh, pendampingan sektor pertanian sudah berjalan di Banyuasin. Ke depan, harapannya semua kabupaten di Sumsel bisa mengikuti jejak Banyuasin dalam pembentukan gabungan kelompok tani atau gapoktan yang efektif.
"Terbaru di Dinas Pertanian Banyuasin ada di sana sekitar 11-12 gapoktan (aktif). Dukungan agar menjaga ketahanan pangan dengan baik, BI memberi tambahan bantuan sarpras pertanian. Apabila dari perkembangan positif, selanjutnya kami juga akan mendorong program kelembagaan," jelasnya.
Program kelembagaan itu, lanjut Bambang, yakni memberikan kemudahan akses perbankan terhadap penyaluran dan pencairan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada pelaku usaha, khususnya dari sektor pertanian. Berharap dari kemudahan tersebut, ketahanan pangan dan produksi pertanian meningkat dan mendorong harga komoditas terjaga dengan baik.


















