Ekspor Komoditas Unggul Sumsel Merosot saat Rupiah 18 Ribu

- Ekspor unggulan Sumatra Selatan turun tajam saat rupiah melemah ke Rp18 ribu per dolar AS, terutama dari komoditas batu bara dan lignit.
- Data BPS mencatat nilai ekspor Januari–April 2026 hanya mencapai 1,69 miliar dolar AS, turun 23,82 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
- Sektor pertambangan nonmigas anjlok hingga 45,92 persen, sementara industri pengolahan masih menyumbang ekspor terbesar dengan nilai 1,05 miliar dolar AS.
Palembang, IDN Times - Ekspor komoditas unggulan Sumatra Selatan mengalami penurunan seiring nilai tukar rupiah yang kian lemah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Sumsel khususnya dari komoditas batu bara dan lignit merosot cukup tajam saat rupiah tembus Rp18 ribu per dolar AS.
"Penurunan ekspor Sumsel terutama dipengaruhi oleh turunnya ekspor nonmigas, khususnya komoditas pertambangan dan lainnya yang mengalami kontraksi cukup dalam," ujar kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, Jumat (5/6/2026).
1. Batu bara dan lignit yang menopang nilai ekspor ambruk

Tercatat sepanjang caturwulan pertama 2026 dari Januari hingga April, nilai ekspor kumulatif mencapai 1,69 miliar dolar AS atau turun hingga 23,82 persen dibandingkan periode sama tahun 2025 sebesar 2,23 miliar dolar AS.
"Pelemahan ekspor terutama dipicu merosotnya kinerja komoditas batu bara dan lignit yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekspor daerah," jelas Wahyu.
2. Ekspor sektor tambang Sumsel turun hingga 45 persen

Penurunan nilai ekspor Sumsel secara menyeluruh, lanjutnya, dipengaruhi oleh kelompok nonmigas yang masih mendominasi struktur perdagangan luar negeri. Berdasarkan data, mayoritas ekspor nonmigas cukup tinggi sejak tahun 2024.
"Kelompok nonmigas, khususnya dari sektor pertambangan, juga mengalami kemerosotan nilai ekspor, yakni turun 45,92 persen menjadi 462,64 juta dolar AS dari sebelumnya 855,42 juta dolar AS," kata dia.
3. Batu bara dan lignit sumbang nilai ekspor hingga 29 persen

Lebih lanjut, Wahyu merinci meski sektor pertambangan menurun, dari sisi industri pengolahan, nilai ekspor juga masih menyumbang cukup tinggi. Yakni, tembus 1,05 miliar dolar AS.
"Walaupun secara pergerakan turun, tetapi masih sedikit mendorong nilai ekspor. Tapi memang, dari sisi komoditas unggulan, batu bara dan lignit masih menjadi kontributor terbesar dengan pangsa 29,96 persen terhadap total ekspor nonmigas Sumsel," jelasnya.
















