Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

GAPKI Sumsel Berharap Tarif Ekspor 0 Persen ke AS Perbesar Pasar Indonesia

GAPKI Sumsel Berharap Tarif Ekspor 0 Persen ke AS Perbesar Pasar Indonesia
Kebun sawit (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Intinya Sih
  • Amerika Serikat menetapkan tarif ekspor nol persen untuk produk minyak sawit Indonesia, membuka peluang pergeseran jalur perdagangan dari Eropa ke pasar AS secara langsung.
  • Kebijakan ini diprediksi meningkatkan efisiensi distribusi dan memperkuat daya saing CPO Indonesia di pasar global, terutama di tengah tekanan regulasi anti-deforestasi Uni Eropa.
  • GAPKI Sumsel menilai momentum ini penting bagi pelaku industri sawit nasional untuk memperluas pangsa pasar dan menjaga stabilitas harga Tandan Buah Segar (TBS).
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Tarif nol persen dari Amerika Serikat terhadap produk minyak sawit Indonesia dinilai menjadi momentum strategis yang berpotensi menggeser jalur perdagangan global. Ekspor yang selama ini banyak melalui Eropa diperkirakan akan beralih ke pengiriman langsung ke pasar AS, membuka peluang efisiensi distribusi dan peningkatan keuntungan industri sawit nasional.

"Akan terjadi efisiensi jalur distribusi, sehingga tarif nol persen AS ini berpotensi mengubah peta perdagangan minyak sawit global," ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) Sumsel, Alex Sugiarto kepada IDN Times, Selasa (24/2/2026).

1. Produk sawit Indonesia dire-ekspor dari negara Eropa

Julhadi Siregar, Ketua Gapoktan Sawit Maju Bersama Kecamatan Muara Batangtoru, Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Julhadi Siregar, Ketua Gapoktan Sawit Maju Bersama Kecamatan Muara Batangtoru, Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Alex menjelaskan, selama ini produk minyak sawit Indonesia yang masuk langsung ke pasar Amerika Serikat hanya sekitar 30 persen. Sebagian besar produk diekspor terlebih dahulu melalui negara Eropa, untuk kemudian dire-ekspor ke AS, sehingga Indonesia belum sepenuhnya memperoleh posisi langsung di pasar tersebut.

"Dengan kebijakan ini tentu akan berdampak pada peta perdagangan sekaligus menekan posisi negara-negara Eropa," jelas dia.

2. Regulasi ekspor akan untungkan posisi Indonesia

Pekerja di pabrik kelapa sawit milik PTPN III Hapesong, Batangtoru, Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Pekerja di pabrik kelapa sawit milik PTPN III Hapesong, Batangtoru, Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Alex meyakini kebijakan tersebut akan memperkuat daya saing Crude Palm Oil (CPO) Indonesia di pasar minyak nabati global. Momentum ini juga dinilai menjadi langkah strategis di tengah tekanan regulasi EUDR atau kebijakan anti-deforestasi yang diterapkan oleh European Union, yang selama ini menjadi tantangan bagi ekspor sawit Indonesia ke kawasan Eropa.

"Tentu akan terjadi peningkatan ekspor CPO serta turunannya, dan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah tantangan regulasi EUDR," jelasnya.

3. Harga TBS diperkirakan terdongkrak

Petani sawit menanam bibit durian di Desa Binasari Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Petani sawit menanam bibit durian di Desa Binasari Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

GAPKI Sumsel menilai, hal ini menjadi momentum yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku industri sawit dalam negeri termasuk di Sumsel, agar dapat memperbesar pangsa pasar di tengah dinamika perdagangan internasional.

"Dengan kemudahan ekspor CPO dan turunannya masuk ke AS, diharapkan membawa angin segar bagi harga Tandan Buah Segar (TBS) dan keberlangsungan industri sawit Indonesia," jelas dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More