Palembang, IDN Times — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali meluas pada 2026 terjadi ketika Indonesia sebenarnya telah memiliki sistem peringatan dini (early warning system) untuk memprediksi risiko kebakaran. Teknologi tersebut mampu membaca potensi karhutla hingga enam bulan sebelumnya, bahkan memetakan wilayah rawan sampai tingkat desa.
Temuan itu disampaikan dalam diskusi ilmiah Forum Intelektual Antar Disiplin (FIAD) yang menghadirkan akademisi dari IPB University, Universitas Indonesia, ITB, dan Kaleka. Para peneliti menilai tantangan utama bukan lagi pada kemampuan memprediksi kebakaran, melainkan pada pemanfaatan hasil prediksi sebagai dasar tindakan pencegahan.
