Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga TBS Sawit Sumsel Naik, Dua Komponen Justru Melemah

Kota Palembang
Harga TBS Sawit Sumsel Naik, Dua Komponen Justru Melemah
ilustrasi perkebunan kelapa sawit (pexels.com/Pok Rie)
  • Harga TBS sawit Sumsel untuk tanaman umur 10-20 tahun naik menjadi Rp3.809,12 per kilogram pada periode 1-15 September 2026, ditopang kenaikan harga CPO.
  • Kenaikan CPO Rp91,54 per kilogram terjadi saat harga inti sawit turun Rp132,35 dan indeks K melemah 0,91 poin persentase, sehingga pergerakan komponennya tidak seragam.
  • Nilai TBS berbeda menurut umur tanaman dan turut dipengaruhi produktivitas, varietas, pemeliharaan, kualitas buah, rendemen, potongan, berat bersih, serta perubahan harga CPO dan inti sawit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatra Selatan (Sumsel) mengalami penguatan di awal September 2026. Namun, kenaikan tersebut terjadi ketika dua komponen pembentuk harganya justru melemah.

TBS untuk tanaman umur 10-20 tahun ditetapkan Rp3.809,12 per kilogram. Harga tersebut berlaku untuk produksi periode 1-15 September 2026 berdasarkan hasil rapat penetapan di Dinas Perkebunan Sumsel, Rabu (9/9/2026).

"Harga CPO yang menjadi salah satu komponen pembentukan TBS naik Rp91,54 per kilogram, dari Rp15.348,70 menjadi Rp15.440,24 per kilogram," ungkap Pemerhati Sawit Sumsel, Rudi Arpian, Jumat (11/9/2026).

  1. 1. Pergerakan harga tak sepenuhnya seragam

    Ilustrasi buah kelapa sawit hasil perkebunan rakyat
    Ilustrasi buah kelapa sawit sebagai hasil perkebunan rakyat. Gangguan pasokan solar di Sumatra mulai memengaruhi aktivitas pemanenan dan pengangkutan sawit. (dok. Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian/ditjenbun.pertanian.go.id)

    Kenaikan harga CPO menjadi penopang harga TBS meski komponen lainnya tidak bergerak seragam. Harga inti sawit justru turun Rp132,35 per kilogram, dari Rp12.830,55 menjadi Rp12.698,20 per kilogram.

    Selain itu, indeks K yang menjadi salah satu komponen dalam perhitungan harga TBS juga mengalami penurunan. Angkanya turun dari 93,38 persen pada periode sebelumnya menjadi 92,47 persen atau berkurang 0,91 poin persentase.

    "Artinya, pergerakan harga tidak sepenuhnya seragam. Kenaikan CPO menjadi faktor positif, sementara penurunan harga inti sawit dan indeks K menjadi faktor penahan," ujar Rudi.

    Meski terdapat penurunan pada harga inti sawit dan indeks K, harga TBS secara keseluruhan tetap menguat. Kondisi ini menunjukkan pergerakan harga TBS tidak hanya ditentukan oleh satu indikator, melainkan merupakan hasil perhitungan dari sejumlah komponen.

    Bagi petani, kenaikan harga TBS tentu menjadi kabar baik. Namun, harga yang lebih tinggi belum cukup jika tidak diikuti dengan kualitas buah dan produktivitas kebun yang baik.

    Rudi menilai kualitas bahan tanaman menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pekebun, terutama petani swadaya.

    "Pesannya jelas, kualitas bahan tanaman dan potensi rendemen bukan persoalan kecil," katanya.

  2. 2. Hal-hal yang mempengaruhi kenaikan TBS

    Ilustrasi pekerja memanen tandan buah segar kelapa sawit di perkebunan rakyat
    Ilustrasi pekerja melakukan pemanenan kelapa sawit di perkebunan rakyat. Gangguan pasokan solar di Sumatra mulai memengaruhi ritme panen dan operasional petani sawit. (dok. BPDP/bpdp.or.id)

    Perbedaan nilai TBS berdasarkan umur tanaman juga terlihat dalam penetapan periode ini. Tanaman umur tiga tahun dihargai Rp3.207,80 per kilogram, sedangkan umur 10-20 tahun mencapai Rp3.809,12 per kilogram.

    Namun, harga tersebut kembali turun pada tanaman berumur 30 tahun yang ditetapkan Rp3.353,79 per kilogram.

    Artinya, semakin tua tanaman tidak otomatis membuat harga TBS semakin tinggi. Produktivitas, kualitas buah, dan kemampuan tanaman menghasilkan rendemen ikut menentukan nilai TBS.

    "Umur tanaman saja tidak cukup. Produktivitas, varietas, pemeliharaan kebun, kualitas buah dan rendemen tetap menjadi faktor penting dalam membangun nilai ekonomi kebun sawit," ujar Rudi.

  3. 3. Petani harus perhatikan berbagai komponen

    antarafoto-pemerintah-aceh-tetapkan-harga-tbs-kelapa-sawit-1784532136.jpg
    Petani melakukan aktivitas bongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit hasil panen miliknya di Desa Cot Darat, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Jumat (17/7). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

    Menurut Rudi, harga TBS pada periode berikutnya masih akan dipengaruhi oleh perubahan harga CPO, inti sawit dan komponen lainnya. Di sisi lain, petani juga perlu memperhatikan kualitas buah agar kenaikan harga TBS benar-benar berdampak pada hasil yang diterima.

    "Harga bukan sekadar angka di papan pengumuman. Yang harus diperhatikan adalah harga, rendemen, potongan, berat bersih, dan hasil akhir yang diterima petani," kata Rudi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More