BP3MI Sumsel Catat ada 16 Warga Sumsel Berada di Asia Barat

- BP3MI Sumsel mencatat 16 pekerja migran asal Sumsel berada di kawasan konflik Asia Barat seperti Kuwait, Dubai, Arab Saudi, dan Oman berdasarkan data tahun 2024–2025.
- Pemerintah siap memfasilitasi evakuasi jika situasi memburuk serta meminta warga melapor bila memiliki keluarga yang bekerja di wilayah terdampak konflik untuk mempercepat pendataan.
- Kemenag Sumsel mengimbau calon jemaah umrah menunda keberangkatan sementara demi keselamatan, menyusul ketegangan geopolitik akibat agresi militer di Timur Tengah.
Palembang, IDN Times - Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatra Selatan (Sumsel) mencatat ada 16 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang saat ini berada di wilayah konflik Asia Barat. Data tersebut dihimpun BP3MI Sumsel dari data 2024 dan 2025 silam, di mana para pekerja tersebar di berbagai daerah di Semenanjung Arab.
"Di antaranya ada di Kuwait, Abu Dhabi, Dubai, Arab Saudi, dan Oman," ungkap Kepala BP3MI Provinsi Sumsel, Waydinsyah, Rabu (4/3/2026).
1. Para pekerja migran akan dievakuasi ketika eskalasi meningkat

Waydinsyah memastikan, berdasarkan pendataan yang ada, hingga saat ini tidak terdapat pekerja migran asal Sumsel yang bekerja di Amerika Serikat, Israel, maupun Iran. Ia juga mengatakan, akan berupaya melakukan pemulangan pekerja migran asal Sumsel apabila eskalasi ketegangan terus meningkat dan membahayakan keselamatan mereka.
"Apabila terjadi eskalasi peperangan yang meluas di wilayah Timur Tengah, BP3MI Sumsel melalui koordinasi dengan perwakilan Kementerian Luar Negeri akan memfasilitasi jalur evakuasi bagi PMI asal Sumsel untuk kembali ke Indonesia," jelas dia.
2. Minta warga Sumsel informasikan jika ada keluarga di Asia Barat

Tak hanya mempersiapkan prosedur evakuasi, BP3MI Sumsel meminta kepada warga Sumsel untuk menginformasikan bila ada keluarga yang bekerja di wilayah terdampak konflik. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan PMI asal Sumsel.
"Langkah ini dilakukan untuk memudahkan pendataan serta percepatan penanganan apabila situasi keamanan memburuk," jelas dia.
3. Jemaah umrah diminta untuk tahan kepergian ibadah

Sebelumnya, Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kanwil Kemenkaj) Sumsel mengimbau masyarakat yang hendak melakukan ibadah umrah melakukan penundaan perjalanan. Hal ini dilakukan guna keselamatan jiwa para peserta umrah mengingat kondisi Asia Barat yang belum stabil akibat konflik bersenjata.
"Kami mengimbau seluruh jemaah umrah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat agar menunda keberangkatan sementara hingga kondisi di Timur Tengah stabil," ungkap Plt Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Selatan, Arkan Nurwahiddin, Selasa (3/3/2026).
Arkan menjelaskan, saat ini kondisi geopolitik global tengah memanas akibat agresi militer yang dilakukan Amerika dan Israel ke wilayah Iran. Untuk diperlukan upaya preventif agar para jemaah umrah dapat menghindari risiko yang tidak diinginkan.
"Kita berharap situasi segera membaik dan seluruh rangkaian ibadah, baik umrah maupun haji 2026, dapat berjalan lancar," jelas dia.
















