Hujan Mulai Turun, BMKG Sebut Hotspot Karhutla di Sumsel Menurun

Hujan sporadis mulai turun di sejumlah wilayah Sumsel setelah kekeringan panjang, membantu membasahi lahan dan menekan potensi karhutla.
BMKG menyebut dinamika atmosfer, Operasi Modifikasi Cuaca 19–23 September, gelombang Rosby, konvergensi, dan belokan angin mendukung pembentukan awan hujan.
Hujan berpotensi sedang hingga lebat di beberapa wilayah dalam tiga hari, tetapi warga tetap diminta memantau prakiraan karena cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi masih mungkin terjadi.
Palembang, IDN Times - Hujan mulai turun di sejumlah wilayah di Sumatra Selatan (Sumsel) sejak Selasa (22/9/2026) malam, setelah daerah ini dilanda periode kekeringan panjang. Kondisi tersebut turut membantu membasahi lahan yang sebelumnya mengalami kekeringan dan menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir tidak terjadi secara merata. Sejumlah wilayah mengalami hujan secara sporadis seiring dengan kondisi atmosfer yang mulai mendukung pertumbuhan awan.
"Bahwa beberapa kejadian hujan yang terjadi secara sporadis di wilayah Sumsel termasuk di Kota Palembang, di samping karena kondisi dinamika atmosfernya mendukung untuk pembentukan awan hujan," ungkap Siswanto, Rabu (23/9/2026).
1. OMC membantu pembentukan awan hujan

ilustrasi hujan deras (pexels.com/BLACK IBEX) Selain faktor atmosfer, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumsel pada 19–23 September 2026 juga disebut memberikan pengaruh terhadap pembentukan awan hujan. Salah satu faktor yang mendukungnya adalah aktivitas gelombang Rossby yang diprakirakan aktif di wilayah Sumsel pada 24–25 September 2026.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan. Pola konvergensi serta belokan angin di sekitar Sumsel juga menjadi faktor lain yang mendukung terbentuknya awan konvektif.
"Tentu, trigger dari kegiatan OMC Sumsel periode 19 sampai 23 September 2026 ini juga memperkuat pembentukan awan hujan yang terjadi di Sumsel," jelasnya.
2. Hujan berpengaruh dalam mengurangi dampak kekeringan

ilustrasi hujan (pexels.com/Tien Nguyen) Siswanto menyebut, pada tiga hari mendatang, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi pada siang sampai sore di OKU, OKU Selatan, Muara Enim, Ogan Ilir, dan Lahat. Sementara hujan pada malam hingga dini hari berpeluang terjadi di Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, dan PALI.
Namun, peluang hujan tersebut diprakirakan kembali menurun setelah periode tersebut. BMKG memperkirakan Sumsel kembali didominasi cuaca berawan hingga hujan ringan pada 27 September hingga 1 Oktober 2026.
Kondisi ini membuat hujan yang turun saat ini belum serta-merta menandai berakhirnya periode kering di Sumsel. Meski demikian, hujan tetap memberikan dampak terhadap kondisi karhutla, terutama dengan berkurangnya titik panas.
"Pastinya, adanya hujan mampu mengurangi dampak kekeringan dan karhutla, terlihat dari penurunan jumlah hotspot," ujarnya.
3. Masyarakat diingatkan potensi cuaca ekstrem

Ilustrasi hujan (pexels.com/Optical Chemist) Masyarakat tetap diminta mengikuti perkembangan cuaca meski hujan sudah mulai turun. BMKG mengingatkan bahwa perubahan kondisi atmosfer masih dapat memicu cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.
"Masyarakat juga diminta memantau prakiraan cuaca secara berkala, terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Informasi prakiraan cuaca hingga tingkat desa/kelurahan dapat dipantau melalui situs resmi BMKG dan aplikasi InfoBMKG," jelasnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















