Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

147 Hotspot Terdeteksi di Sumsel, 11 Daerah Berstatus Siaga Karhutla

Kota Palembang
147 Hotspot Terdeteksi di Sumsel, 11 Daerah Berstatus Siaga Karhutla
Petugas Manggal Agni saat memadamkan api di Pemulutan, Ogan Ilir. (Dok. Manggala Agni)
Intinya Sih
  • BPBD Sumsel mendeteksi 147 hotspot pada 29 Juli 2026 di 14 kabupaten; total hotspot Januari-Juli mencapai 1.834, tertinggi sepanjang tahun.
  • Hingga 28 Juli, tercatat 383 kejadian karhutla dengan indikasi lahan terbakar 664,87 hektare. Sebagian besar wilayah Sumsel berstatus risiko kebakaran sangat tinggi.
  • Lahat menjadi kabupaten ke-11 berstatus siaga karhutla hingga 30 November 2026. BPBD memprioritaskan mitigasi di daerah dengan lebih dari 30 kejadian dan mengimbau warga tidak membakar lahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan (Sumsel) melaporkan 147 titik panas (hotspot) terdeteksi pada Rabu (29/7/2026). Angka tersebut dideteksi oleh Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kemenhut dan diperbarui pukul 05.00 WIB.

Selain itu, Lahat akhirnya resmi mengeluarkan Surat Keputusan (SK) penetapan status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ditandatangani bupati dan berlaku hingga 30 November 2026.

Dengan demikian, sudah 11 kabupaten di Sumsel yang berstatus siaga darurat karhutla menjelang musim kering yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.

1. Indikasi luas area terbakar sampai Juli sudah 664,87 hektare

Mat Junani, Kepala Regu IV, Daops XIV Sumatra wilayah kerja Banyuasin dan tim saat berjibaku memadamkan api. (Dok. Manggala Agni)
Mat Junani, Kepala Regu IV, Daops XIV Sumatra wilayah kerja Banyuasin dan tim saat berjibaku memadamkan api. (Dok. Manggala Agni)

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan sebaran hotspot berada di 14 kabupaten, dengan Musi Banyuasin (Muba) terdeteksi paling banyak, yakni 28 titik. Disusul Banyuasin dan Muara Enim 21 titik, Lahat 17 titik, Ogan Ilir 16 titik, Ogan Komering Ilir (OKI) 9 titik, Musi Rawas, OKU Selatan dan OKU 6 titik. Kemudian OKU Timur dan PALI 4 titik, Muratara 3 titik, dan Kota Pagar Alam 1 titik.

"Total jumlah hotspot sampai bulan ini sebanyak 1.834. Angka tersebut tertinggi sejak Januari 2026," ujarnya.

Sedangkan tren peristiwa karhutla ikut meroket tinggi sebanyak 383 sampai dengan 28 Juli. Dengan indikasi luas area terbakar 664,87 hektare.

"Sebagian besar wilayah Sumsel saat ini berpotensi mengalami kebakaran yang sangat mudah terbakar atau "very high". Kondisi ini membutuhkan perhatian dan kerja sama seluruh pihak untuk mencegah meluasnya karhutla," jelasnya.

2. Penetapan status siaga bertujuan memperkuat kesiapsiagaan pemda

Petugas Manggala Agni saat memadamkan api di Desa Embacang Kecamatan Kelekar, Muara Enim.
Petugas Manggala Agni saat memadamkan api di Desa Embacang Kecamatan Kelekar, Muara Enim. (Dok. Manggala Agni)

Sudirman menambahkan, untuk 11 kabupaten yang telah menetapkan status siaga karhutla, yakni Kabupaten OKU Selatan, Muara Enim, Banyuasin, Muba, Ogan Ilir, OKI, PALI, OKU, Muratara, Musi Rawas, dan Kabupaten Lahat. Penetapan status siaga bertujuan memperkuat kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

BPBD Sumsel juga terus mendorong kabupaten dan kota lainnya agar segera menetapkan status siaga, termasuk daerah yang tidak masuk kategori rawan karhutla.

"Kesiapan tersebut meliputi pengerahan personel, penyediaan peralatan, koordinasi lintas instansi, hingga dukungan anggaran untuk penanganan karhutla," jelasnya.

3. Sejumlah daerah masuk kategori rawan karhutla

Kondisi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan pada Rabu, 29 Juli 2026, berdasarkan dokumentasi BPBD Sumsel.
Situasi karhutla Sumsel pada Rabu (29/7/2026). (Dok. BPBD Sumsel)

Sementara itu, BPBD Sumsel telah mengklasifikasikan sejumlah daerah sebagai zona rawan karhutla berdasarkan jumlah kejadian yang tinggi, yakni lebih dari 30 kasus. Penetapan zona ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan prioritas penanganan dan mitigasi kebakaran.

"Untuk wilayah yang masuk kategori zona atau memiliki lebih dari 30 kejadian meliputi Muba, Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Musi Rawas Utara, PALI, dan Kota Palembang," jelasnya.

Tak lupa, pihaknya mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar karena kondisi cuaca yang semakin kering berpotensi memicu kebakaran lebih luas dan sulit dipadamkan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More