Herman Deru Soroti Rendemen Gabah Bulog Berbeda-beda, Ada Apa?

Gubernur Sumsel Herman Deru mempertanyakan rendemen gabah Bulog yang 51 persen di Palembang, sementara wilayah lain 48-49 persen meski kualitas padi dinilai sama.
Deru meminta Bulog menelusuri perbedaan rendemen karena memengaruhi hasil penggilingan, serta menyatakan siap menjadi saksi untuk memastikan penyebabnya.
Harga gabah petani Sumsel mencapai Rp7.500-Rp7.700 per kilogram, di atas HPP Rp6.500; produksi beras 2,1 juta ton dinilai masih surplus meski pedagang luar daerah bersaing menyerap gabah.
Palembang, IDN Times - Gubernur Sumsel Herman Deru mempertanyakan perbedaan rendemen gabah Bulog yang mencapai 51 persen di Palembang, sementara di wilayah lain hanya 48-49 persen. Perbedaan itu dipertanyakan Deru karena kualitas padi yang digiling dinilainya relatif sama.
"Kenapa di salah satu wilayah lain di Sumatra Selatan ini ada yang 49 persen, 48 atau 49 persen? Kok ada beda? Sementara padi kita kualitasnya sama," ungkap Deru, Rabu (23/9/2026).
1. Minta bulog perhatikan rendemen

Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal) Deru menilai perbedaan rendemen tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut karena berkaitan dengan hasil yang diperoleh dari proses penggilingan gabah.
Ia meminta persoalan tersebut dikomunikasikan dengan Bulog. Deru juga menyatakan siap menjadi saksi untuk memastikan perbedaan rendemen tersebut dapat diperiksa dan diketahui penyebabnya.
"Saran saya kepada Bulog, rendemen juga harus diperhatikan," ujarnya.
2. Harga gabah di atas HPP

Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal) Sorotan mengenai rendemen tersebut muncul ketika penyerapan gabah petani di Sumsel tengah menghadapi persaingan harga. Sejumlah pedagang dan penggilingan dari luar daerah disebut ikut membeli gabah petani Sumsel dengan harga di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Saat ini, harga gabah di tingkat petani bahkan mencapai Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram. Harga tersebut berada di atas HPP gabah yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Deru menilai tingginya harga tersebut pada dasarnya memberikan keuntungan bagi petani.
"Kalau dia di atas Rp 6.500, artinya HPP kita Rp 6.500, dan ada yang menawarkan lebih tinggi dari situ, tentu menguntungkan petani," katanya.
3. Pedagang dari luar daerah mampu serap gabah dengan harga tinggi

Perum BULOG menegaskan bahwa stok beras yang saat ini mencapai sekitar 5,25 juta ton per 9 Agustus 2026 yang tersebar di jaringan gudang BULOG di seluruh Indonesia. Besarnya stok tersebut merupakan hasil akumulasi penguasaan stok awal tahun dan penyerapan gabah petani dalam negeri yang terus dilakukan sepanjang 2026, sekaligus mencerminkan kuatnya kapasitas BULOG dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. (Dok. BULOG) Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel, Bambang Pramono, mengatakan produksi beras Sumsel masih mencukupi kebutuhan masyarakat meski sebagian gabah diserap pedagang dari luar daerah.
Menurut Bambang, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Sumsel yang berpenduduk hampir 9 juta jiwa mencapai sekitar 72 ribu ton per bulan atau sekitar 850 ribu ton per tahun.
"Produksi beras Sumsel tahun lalu mencapai sekitar 2,1 juta ton. Sumsel masih surplus beras," jelasnya.
Di sisi lain, masuknya pedagang dari luar daerah membuat persaingan dalam penyerapan gabah semakin tinggi. Salah satunya berasal dari Sumatra Barat (Sumbar) di mana para pedagang mampu menghargai gabah lebih tinggi.
"Pedagang-pedagang dari luar Sumsel itu masih mampu membelinya karena mereka punya harga jual yang lebih tinggi," kata Bambang.


















