Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hama Penyakit Rugikan Petani, Karantina Dorong Penguatan Biosekuriti

Kota Palembang
2 min read
Hama Penyakit Rugikan Petani, Karantina Dorong Penguatan Biosekuriti
Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
  • Badan Karantina Indonesia mendorong mahasiswa dan pemangku kepentingan pertanian memperkuat biosecurity untuk menekan dampak perubahan iklim serta penyebaran hama dan penyakit tanaman.

  • FAO mencatat hama dan penyakit menyebabkan hilangnya hingga 40 persen produksi tanaman global tiap tahun, dengan kerugian pertanian melebihi 220 miliar dolar AS.

  • Karantina menjalankan pengawasan pre-border, border, dan post-border untuk mencegah penyebaran penyakit, sambil mendorong pertanian adaptif, berbasis teknologi, dan konservasi tanah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Hama dan penyakit pada tanaman dapat menjadi sebab utama sektor pertanian maupun petani mengalami kerugian. Akibat kondisi ini, Badan Karantina Indonesia terus mendorong stakeholder terkait, termasuk para mahasiswa pertanian, untuk memahami dan memperkuat biosekuriti sektor tersebut.

"Saat ini, tantangan untuk mahasiswa pertanian dan stakeholder pertanian agar bisa mengurangi dampak perubahan iklim dan mencari solusi dari bagaimana mengurangi kecepatan penyebaran penyakit tanaman," ujar Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding dalam orasi ilmiah Dies Natalis ke-63 Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Kamis (24/9/2026).

  1. 1. Penyakit tanaman merugikan pertanian hingga 220 miliar dolar AS

    Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding menyampaikan kuliah umum di hadapan peserta Universitas Sriwijaya.
    Suasana kuliah umum oleh Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding di Universitas Sriwijaya (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

    Kondisi sektor pertanian merugi akibat hama dan penyakit tanaman, salah satunya adalah organisme pengganggu tanaman (OPT). Bahkan, berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization of the United Nations/FAO), produksi tanaman global hilang hingga 40 persen setiap tahun akibat serangan hama dan penyakit.

    Selain produksi tanaman global hilang, hama dan penyakit tanaman bisa merugikan pertanian hingga lebih dari 220 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.300 triliun per tahun.

    "Karena itu, kita harus (penguatan biosecurity), terutama karantina, memiliki kemampuan peringatan dini dan respons yang cepat," katanya.

  2. 2. Biosekuriti lewat tiga tahapan

    Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding dalam potret dokumentasi media IDN Times.
    Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

    Kadir mengatakan penguatan biosecurity menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan. Upaya tersebut tidak terlepas dari peran Badan Karantina Indonesia yang memiliki kewenangan dalam mencegah masuk dan menyebarnya hama serta penyakit.

    Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 dan Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2023, Karantina menjalankan pengawasan melalui tiga tahapan, yakni pre-border, border, dan post-border.

    Pada tahap pre-border, pengawasan dilakukan untuk mencegah risiko masuknya hama dan penyakit sebelum produk hewan, ikan, dan tumbuhan masuk ke Indonesia. Selanjutnya, border merupakan pengendalian di pintu masuk dan keluar negara, sedangkan post-border dilakukan melalui pengawasan setelah komoditas beredar.

  3. 3. Harus mampu beradaptasi

    Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding menyampaikan kuliah umum di Universitas Sriwijaya.
    Suasana kuliah umum oleh Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding di Universitas Sriwijaya (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

    Kadir mencontohkan ancaman penyakit pada tanaman karet, seperti penyakit gugur daun, yang dapat berdampak pada produksi. Jika tidak dicegah dan ditangani dengan cepat, gangguan penyakit pada satu komoditas dapat meluas dan memengaruhi produktivitas.

    Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pertanian yang tangguh harus mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, menghadapi serangan penyakit, serta mengikuti perkembangan teknologi.

    "Ketangguhan itu juga perlu dibangun melalui upaya menjaga dan mengonservasi tanah agar peningkatan produksi tidak mengorbankan keberlanjutan sumber daya pertanian," jelas dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More