Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Titik Panas Turun, Udara Tujuh Wilayah Sumsel Masih Tak Sehat

Kota Palembang
3 min read
Titik Panas Turun, Udara Tujuh Wilayah Sumsel Masih Tak Sehat
Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)
  • Tujuh dari delapan wilayah Sumsel mencatat kualitas udara tidak sehat pada 22 September 2026 pagi, sementara Muara Enim berada pada kategori sedang dengan ISPU 60.

  • PALI menjadi wilayah dengan udara terburuk, berstatus sangat tidak sehat dengan ISPU dan PM2,5 mencapai 237; PM10 tercatat 150.

  • Titik panas turun 83 persen dari 4.170 menjadi 713 dalam sepekan, sedangkan karhutla berkurang dari 96 menjadi 68 kejadian namun masih terjadi setiap hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Jumlah titik panas di Sumatra Selatan (Sumsel) menunjukkan penurunan sepekan terakhir. Namun, kondisi udara di sebagian besar wilayah yang terpantau masih berada dalam kategori tidak sehat.

Berdasarkan laporan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Sumsel, Selasa (22/9/2026) pukul 06.00 WIB, tujuh wilayah masuk kategori tidak sehat. Bahkan, PALI berada pada kategori sangat tidak sehat.

Di sisi lain, jumlah titik panas dan kejadian karhutla juga mengalami perubahan dalam tujuh hari terakhir.

Berikut kondisi terbaru ISPU dan karhutla di Sumsel pagi ini dirangkum IDN Times dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel.

  1. 1. PALI paling buruk, PM2,5 mencapai 237

    Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
    Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    PALI menjadi wilayah dengan kondisi udara paling buruk pada Selasa pagi. Angka ISPU di daerah tersebut mencapai 237 dan masuk kategori sangat tidak sehat.

    Konsentrasi PM2,5 tercatat mencapai 237, sedangkan PM10 berada di angka 150. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain yang terpantau.

    Kondisi ini membuat PALI menjadi satu-satunya daerah yang masuk kategori sangat tidak sehat pada laporan tersebut.

  2. 2. Enam wilayah lainnya masih catat udara tidak sehat

    Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
    Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Selain PALI, enam wilayah juga berada dalam kategori tidak sehat. Palembang mencatat angka ISPU 171, Ogan Ilir 141, Prabumulih 158, Musi Banyuasin 115, Musi Rawas 113, dan Lahat 108.

    Artinya, dari delapan wilayah yang memiliki data, tujuh masih berada dalam kategori tidak sehat. Sementara itu, Muara Enim menjadi satu-satunya wilayah yang berada dalam kategori sedang, dengan angka ISPU 60.

  3. 3. Titik panas turun dari 4.170 menjadi 713

    Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
    Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Di tengah kondisi udara yang masih kurang baik, jumlah titik panas di Sumsel justru menunjukkan tren penurunan cukup tajam. Pada 15 September tercatat 4.170 titik panas.

    Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 3.201 pada 16 September, 2.283 pada 17 September, dan 1.659 pada 18 September. Penurunan berlanjut menjadi 1.205 titik pada 19 September.

    Sempat naik menjadi 1.378 pada 20 September, jumlahnya kembali turun tajam menjadi 713 titik pada 21 September. Jika dibandingkan 15 September, jumlah titik panas pada 21 September telah turun sekitar 83 persen.

  4. 4. Karhutla juga turun, tetapi masih terjadi setiap hari

    Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang
    Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

    Kejadian karhutla di Sumsel juga tercatat lebih rendah pada akhir periode tersebut, meski angkanya masih berubah-ubah setiap hari.

    Pada 15 September terdapat 96 kejadian, kemudian turun menjadi 61 pada 16 September. Jumlahnya kembali naik menjadi 116 pada 17 September, sebelum turun ke 88 pada 18 September dan 76 pada 19 September.

    Pada 20 September tercatat 86 kejadian dan kembali turun menjadi 68 kejadian pada 21 September.

    Data tersebut menunjukkan penurunan kejadian karhutla dari 96 menjadi 68 dalam sepekan, atau sekitar 29 persen. Namun, kejadian kebakaran masih tercatat setiap hari.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More