4 Kota di Sumsel Punya Julukan Unik, dari Kota Pempek hingga Besemah

Palembang dijuluki Kota Pempek dan Bumi Sriwijaya, mencerminkan kuliner khas, sejarah Kerajaan Sriwijaya, Sungai Musi, serta Jembatan Ampera.
Prabumulih dikenal sebagai Kota Nanas karena komoditas unggulan yang dibudidayakan sejak 1970-an, serta memiliki sebutan Bumi Seinggok Sepemunyian yang menekankan kebersamaan.
Pagar Alam identik dengan budaya Besemah, Gunung Dempo, perkebunan, dan situs megalitikum; Lubuk Linggau dikenal melalui semboyan Sebiduk Semare serta wisata Air Terjun Temam, Bukit Sulap, dan Sungai Kelingi.
Palembang, IDN Times – Sumatra Selatan (Sumsel) memiliki empat kota dengan karakteristik dan identitas yang berbeda. Setiap daerah mempunyai kekhasan tersendiri, mulai dari kekayaan sejarah, kuliner tradisional, hasil perkebunan, hingga potensi wisata alam.
Keunikan tersebut membuat sejumlah kota di Sumsel dikenal dengan julukan yang melekat hingga sekarang. Sebutan itu bukan sekadar identitas, tetapi juga menggambarkan sejarah dan kehidupan masyarakat setempat.
Empat kota di Sumsel yang memiliki julukan khas tersebut yakni Palembang, Prabumulih, Pagar Alam, dan Lubuk Linggau. Berikut kekhasan dan julukan dari masing-masing kota yang dirangkum oleh IDN Times.
1. Palembang dikenal sebagai Kota Pempek dan Bumi Sriwijaya

Pengunjung Wisata Tower Ampera Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Palembang merupakan ibu kota Provinsi Sumsel yang memiliki sejarah panjang. Kota ini dikenal sebagai pusat kejayaan Kerajaan Sriwijaya, kerajaan maritim besar yang berkembang sekitar abad ke-7 hingga abad ke-12.
Latar belakang sejarah tersebut membuat Palembang juga dikenal dengan julukan Bumi Sriwijaya. Keberadaan Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di wilayah Palembang menjadi salah satu bukti penting sejarah perkembangan Sriwijaya.
Selain sejarahnya, Palembang juga populer dengan julukan Kota Pempek. Makanan berbahan dasar ikan dan tepung sagu ini menjadi kuliner khas yang identik dengan kehidupan masyarakat setempat. Pempek biasanya disajikan bersama kuah cuko bercita rasa asam, manis, dan pedas. Kuliner ini memiliki beragam bentuk dan jenis, seperti kapal selam, lenjer, adaan, kulit, dan keriting.
Kekhasan Palembang juga tidak terlepas dari Sungai Musi yang membelah kota menjadi kawasan Seberang Ilir dan Seberang Ulu. Keberadaan Jembatan Ampera semakin memperkuat identitas Palembang sebagai kota yang lekat dengan kehidupan sungai.
2. Prabumulih dijuluki Kota Nanas

Ikon Nanas di Jembatan Pasar Tradisional Kota Prabumulih Berbeda dengan Palembang, Kota Prabumulih dikenal dengan julukan Kota Nanas. Sebutan ini berkaitan dengan komoditas perkebunan yang telah lama dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Nanas Prabumulih memiliki cita rasa manis dengan tekstur daging buah yang khas. Komoditas ini menjadi salah satu produk unggulan daerah dan identitas yang mudah dikenali oleh masyarakat luar.
Budidaya nanas di Prabumulih mulai berkembang sejak sekitar 1970-an. Pada awalnya, tanaman tersebut ditanam sebagai tanaman sela di antara perkebunan karet yang belum menghasilkan. Seiring waktu, nanas semakin dikenal dan menjadi salah satu komoditas pertanian andalan masyarakat. Bahkan, buah ini dikembangkan menjadi berbagai produk olahan.
Selain Kota Nanas, Prabumulih juga dikenal dengan sebutan Bumi Seinggok Sepemunyian. Istilah tersebut menggambarkan semangat kebersamaan, gotong royong, serta kehidupan masyarakat yang menjunjung persatuan.
3. Pagar Alam identik dengan Besemah dan Gunung Dempo

Konten kreator asal Pagar Alam Sumatra Selatan, Rahmad Zilhakim (IDN Times/istimewa) Kota Pagar Alam memiliki karakteristik yang berbeda karena berada di kawasan dataran tinggi. Wilayah ini dikenal dengan panorama pegunungan, udara sejuk, serta hamparan perkebunan teh. Salah satu ikon paling terkenal di Pagar Alam adalah Gunung Dempo. Gunung ini menjadi daya tarik wisata alam sekaligus bagian penting dari identitas daerah.
Pagar Alam juga lekat dengan kebudayaan Besemah. Identitas tersebut merujuk pada masyarakat dan kebudayaan lokal yang berkembang di kawasan sekitar Gunung Dempo dan wilayah sekitarnya.
Kekayaan budaya Besemah dapat dilihat dari peninggalan megalitikum yang tersebar di sejumlah kawasan. Peninggalan berupa arca, batu bergambar, dan situs megalitikum menjadi bukti panjangnya sejarah peradaban masyarakat di wilayah tersebut.
Selain wisata sejarah, Pagar Alam juga terkenal dengan perkebunan teh dan kopi. Kondisi geografis dataran tinggi membuat daerah ini memiliki potensi besar dalam sektor perkebunan dan pariwisata.
4. Lubuk Linggau dikenal dengan julukan Sebiduk Semare

Air Terjun Temam di Kota Lubuk Linggau. (Dok. Giwang Sumsel) Lubuk Linggau merupakan salah satu kota di bagian barat Sumsel yang memiliki posisi strategis sebagai jalur penghubung menuju sejumlah wilayah di Sumatra.
Kota ini dikenal dengan semboyan Sebiduk Semare yang mencerminkan semangat kebersamaan dan persatuan masyarakat. Istilah tersebut menjadi identitas daerah yang menggambarkan kehidupan masyarakat yang menjunjung kerukunan.
Selain julukannya, Lubuk Linggau juga mempunyai kekayaan wisata alam. Sejumlah destinasi yang dikenal masyarakat antara lain Air Terjun Temam, Bukit Sulap, dan kawasan Sungai Kelingi.
Air Terjun Temam menjadi salah satu ikon wisata yang sering dikunjungi karena memiliki bentang alam berupa aliran air yang jatuh melewati bebatuan. Sementara itu, Bukit Sulap menawarkan panorama kawasan perkotaan dari ketinggian.
Keberadaan Sungai Kelingi juga menjadi bagian dari sejarah dan identitas wilayah Lubuk Linggau. Nama kota ini sendiri memiliki kaitan dengan kondisi geografis berupa lubuk atau bagian sungai yang dalam.
Keempat kota di Sumsel tersebut memiliki kekhasan yang tidak sama. Palembang dengan sejarah Sriwijaya dan pempeknya, Prabumulih dengan nanas, Pagar Alam dengan budaya Besemah dan Gunung Dempo, serta Lubuk Linggau dengan semboyan Sebiduk Semare dan wisata alamnya.





















