Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
241 Hotspot di Sumsel Tertinggi Tahun Ini, Udara 3 Daerah Tidak Sehat
BPBD Sumsel dan tim pemadam saat memadamkan darat di Indralaya Utara. (Dok. BPBD Sumsel)
  • BPBD Sumsel mencatat 241 hotspot pada 8 Agustus 2026, tertinggi tahun ini, tersebar di 12 kabupaten/kota. Hotspot masih perlu diverifikasi karena belum tentu merupakan titik api.
  • OKI mencatat hotspot terbanyak dengan 79 titik, mayoritas di lahan gambut. Total 166 titik berada di lahan mineral dan 76 di gambut, di tengah puncak musim kemarau.
  • Sejak Januari hingga 8 Agustus, tercatat 909 kejadian karhutla dengan indikasi luas 664,87 hektare. Udara Musi Rawas, PALI, dan Lahat masuk kategori tidak sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan (Sumsel) melaporkan saat ini jumlah titik panas atau hotspot di Sumsel melonjak di angka tertinggi tahun ini. Berdasarkan pemantauan Sipongi Kemenhut pada 8 Agustus 2026, tercatat 241 titik hotspot tersebar di sejumlah wilayah Sumsel.

Selain itu, kondisi udara (ISPU PM2.5) dari DLHP Sumsel menunjukkan tiga wilayah berada di warna merah alias kategori tidak sehat. Ketiganya yakni Kabupaten Musi Rawas di angka 103, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) di angka 110, dan Lahat di angka 102.

1. Sebaran ratusan titik panas terpantau di 12 kabupaten/kota

Situasi karhutla Sumsel pada Minggu (8/8/2026). (Dok. BPBD Sumsel)

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan sebaran ratusan titik panas tersebut terpantau di 12 kabupaten/kota, baik di lahan mineral maupun di lahan gambut.

"Dari hasil pemantauan pada 8 Agustus, tercatat sebanyak 241 titik hotspot terdeteksi di Sumsel. Angka itu tertinggi sepanjang 2026 ini," ujarnya.

Ia menegaskan, keberadaan hotspot tidak serta-merta berarti telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikator awal yang perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan apakah terdapat api atau tidak.

"Hotspot belum tentu merupakan titik api. Karena itu, setiap titik yang terpantau harus dilakukan pengecekan dan verifikasi di lapangan," ungkapnya.

2. OKI jadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak

Tim Manggala Agni Daops Sum-XVII/OKI saat berjibaku melakukan pemadaman. (Dok. Manggala Agni)

Sudirman menambahkan, dari jumlah tersebut, sebanyak 166 titik di antaranya terpantau berada di lahan mineral. Sementara sisanya, 76 titik berada di lahan gambut. Daerah dengan jumlah hotspot terbanyak berada di Ogan Komering Ilir (OKI), yakni mencapai 79 titik. Dari jumlah itu, 62 titik di antaranya berada di lahan gambut dan 17 titik di lahan mineral.

Selain di OKI, hotspot juga terpantau di 11 wilayah lain. Yakni di Muara Enim 33 titik, Muba 27 titik, OKU Timur 22 titik, Banyuasin 16 titik dan Ogan Ilir 16 titik. Kemudian di OKU 12 titik, Lahat 11 titik, Muratara 8 titik, PALI 7 titik. Sementara Mura dan OKU Selatan masing-masing 5 titik.

"Tingginya jumlah hotspot ini menjadi perhatian karena Sumsel saat ini masih menghadapi kondisi puncak musim kemarau. Kondisi itu meningkatkan potensi terjadinya karhutla yang meluas apabila tidak segera ditangani," terangnya.

3. Kabut asap sedang menyelimuti sebagian OKI, OKU, dan Muara Enim

Kapolres Ogan Ilir turun langsung memimpin kegiatan mitigasi Karhutla dan pengaturan lalu lintas di Jalinsum Indralaya Desa Semambu. (Dok Polres Ogan Ilir)

Saat ini, tercatat sudah 909 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 8 Agustus 2026. Indikasi luas karhutla Sumsel mencapai 664,87 hektare berdasarkan Sipongi KLH.

"Berdasarkan pantauan Regional Haze Situation, terdeteksi kabut asap sedang (moderate haze) di sebagian OKI, OKU, dan Muara Enim. Dengan kondisi cuaca cerah berawan dan potensi hujan ringan dari pagi hingga sore hari," kata Sudirman.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan adanya asap atau titik api.

"Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan. Kalau melihat ada titik api, segera laporkan supaya bisa dilakukan penanganan secepat mungkin," tegasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article