Usai Asian Games, Usai Jugakah Jakabaring Sport City?

Palembang, IDN Times - Kemegahan kompleks olahraga terbesar di Indonesia yang berada di Jakabaring Sport City (JSC), yang mendunia saat gelaran Asian Games 2018 berlangsung, sedikit demi sedikit kehilangan sentuhan.
Ya, usai perhelatan pesta olahraga antar negara-negara Asia tersebut, beberapa venue yang ada di kompleks ini menyisakan cerita sunyi. Meski kawasan JSC kerap digunakan masyarakat untuk berolahraga pagi dan atlet-atlet KONI Sumsel untuk berlatih, namun tidak banyak yang tahu kalau ada venue yang terbengkalai, ada bangunan rusak, hingga tidak terawat. Bahkan, baru-baru ini JSC tersangkut masalah tunggakan pembayaran listrik ke PLN.
Imbas dari persoalan tersebut, membuat atlet, dan pelatih yang menggunakan venue turut mengeluh dengan kondisi yang memprihatinkan itu. Muaranya, porsi latihan atlet Sumsel yang dipersiapkan untuk PON 2020 Papua itu menjadi terganggu.
1. Kolam renang berlumut, gatal, dan berbau

Pantauan IDN Times di venue Aquatic Stadium, Rabu (3/7), terlihat kondisi kolam renangnya memang cukup memprihatinkan. Normalnya, air kolam renang ini jernih. Tapi kini terlihat menghijau dan berbau.
Pelatih Loncat Indah, Meirizal Usra, yang juga berada di lokasi mengatakan, bahwa kondisi kolam renang di Aquatic Stadium JSC ini sudah terjadi dalam dua bulan terakhir. Bahkan, sejak dua bulan terakhir itulah, pemeliharaan kolam terhenti. Meirizal Usra sendiri yang sehari-hari melatih anak didiknya di Aquatic Stadium, hanya bisa memaksimalkan tempat yang ada.
"Kita kesulitan semua, listrik harus gunakan genset. Genset bisa kita sediakan sendiri bahkan kita baru pakai 5 hari. Kondisi Aquatic Jakabaring ini memprihatinkan, suasana tempat latihan, air tidak layak. Tapi kita paksakan karena tidak ada tempat lain. Kondisi ini sudah terjadi sejak sebelum puasa, bahkan selepas Asian games sudah mulai terkendala. Kira-kira dua bulan lalu masih dibersihin. Hanya saja karena terkendala listrik dan obatnya mahal sehingga tidak dilanjutkan," ujar Usra, Rabu (3/7) saat dibincangi saat melatih di Aquatic Stadium Jakabaring.
2. Atlet renang Sumsel mengalami gatal-gatal dan diare

Apa yang disampaikan Usra tersebut, merupakan sebagian keluhan dari para anak didiknya, yang tak lain atlet Sumsel. Karena, rata-rata atlet-atlet renang ini mengalami alergi usai berlatih loncat indah. Itu karena kolam sudah dipenuhi lumut dan kotor.
Meski begitu, Usra tetap memaksakan 12 atletnya untuk terus berlatih di tengah keterbatasan yang ada saat ini.
"Ya karena banyak atlet yang kulitnya sensitif dan gatal-gatal. Mereka terminum airnya, jadi diare. Saya menyarankan ke anak-anak untuk minum air panas usai berlatih untuk menghindari diare. Saya tetap latih mereka di sini karena memang tidak ada tempat lain. Saya sebagai pelatih dan organisasi sudah melapor ke KONI Sumsel. KONI juga tidak bisa berbuat banyak, karena masalah ini balik ke pengelola," jelas dia.
3. Dilema atlet renang, dihadapkan pada penyakit dan tuntutan harus berlatih

Atlet loncat Indah Sumsel, Hamanah Habenati, membenarkan kalau dirinya kerap gatal-gatal akibat berlatih di kolam Aquatic Stadium. Dia sering merasakan gatal-gatal itu setelah selesai latihan.
"Ya saya biasa saja cuma agak kaget lihat (air) kolamnya. Kulit saya suka gatal-gatal kalau sudah berlatih. Tapi tidak bisa berbuat banyak, jadi harus tetap berlatih. Apa lagi sebentar lagi ada seleksi untuk Pra PON Papua. Target kita lolos," ujar dia.
Senada dengan atlet renang Sumsel lainnya, M Ridho, yang mengaku prihatin dengan kondisi Aquatic Stadium saat ini. Masalah yang ada saat ini sangat mengganggu, terutama bagi kulit sebab sering membuat kulit gatal.
"Cuma masalah kulit, sama waktu latihan berkurang. Kadang, gara-gara berenang di sana suka timbul panu, gatal-gatal dan kurap. Sebenarnya saya agak takut, tapi dengan keadaan begini harus tetap latihan," keluhnya.
4. Kondisi Athletic Stadium juga mengalami kerusakan

Selain kondisi Aquatic Stadium, IDN Times juga menuju ke Athletic Stadium, yang jaraknya hanya sekitar 500 meter. Di area ini, didapati kondisi tribun penonton dan salah satu ruangan di Athletic Stadium juga memprihatinkan. Bahkan, kondisi atap stadion yang hancur akibat terjangan angin puting beliung Oktober 2018 lalu, masih belum jelas kapan direnovasi.
Pada satu ruangan di Athletic Stadium itu, ada satu ruangan yang tidak terkunci dan ada beberapa aset yang hancur lantaran tidak terurus. begitu juga pada bagian plafon ruangan yang jebol. Komputer dan pendingin ruangan juga ikut hancur berantakan. Mirisnya, tidak ada satu orang pun di area Athletic Stadium, bahkan petugas pengaman pun tidak terlihat sore itu.
5. PT JSC Akui banyak kendala memperbaiki venue yang rusak

Menanggapi kondisi JSC ini, Coorporate Secretary PT Jakabaring Sport City, Mirza menuturkan, tidak terurusnya kondisi pada beberapa venue ini, karena masih menunggu proses perbaikan. Seperti venue Aquatic, yang diakuinya mengalami kerusakan pada bagian atap, sehingga pihaknya belum dapat melakukan perbaikan, lantaran menunggu bahan impor dari luar negeri. Karena untuk atap sendiri tidak menggunakan bahan lokal.
"Untuk Aquatic Stadium kami masih harus menunggu, karena atapnya harus impor. Sedangkan untuk air kolam, memang kami masih terkendala listrik, jadi untuk menghidupkan pompa membutuhkan listrik yang besar. Namun semua sudah kita kordinasikan, kalau listrik sudah aman akan segera dibersihkan," ujar dia.
Mirza melanjutkan, beberapa kerusakan yang ada itu disebabkan oleh faktor alam yang terjadi usai Asian Games. Misalnya, ada beberapa venue yang rusak lantaran angin puting beliung. "Benar ada kerusakan pada beberapa venue, untuk fisik lebih dikarenakan musibah puting beliung yang melanda kawasan JSC pada Oktober 2018 lalu," sambungnya.
6. PT JSC gandeng BUMN lakukan perbaikan

Mirza menambahkan, untuk perbaikan Jakabaring Sport City kini memang menjadi tanggung jawab dari manajemen PT JSC. Meski saat ini tidak ada lagi bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov Sumsel), pihaknya tetap akan melakukan perbaikan dengan satu opsi menggandeng BUMN.
"Kami masih menunggu, sejumlah venue memang ada perbaikannya yang akan dilanjutkan oleh BUMN, meskipun secara umum menjadi tanggung jawab pengelola. Kalau untuk penyewaan gedung, jika akan digunakan sementara waktu akan kita cover dengan genset karena listrik masih ditangani," tandasnya.


















