Kesaksian Korban Selamat Bus ALS Maut, Ajak Istri Lompat Jendela Bus

Sepanjang perjalanan, bus beberapa kali mengalami gangguan teknis
Korban berupaya memanjat untuk keluar jendela agar selamat
Sejak awal perjalanan korban merasakan firasat kurang baik
Musi Rawas Utara, IDN Times -Kecelakaan yang merenggut 16 korban jiwa di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Musi Rawas Utara (Muratara) menyisakan trauma bagi korban selamat. Dalam insiden ini, 4 penumpang berhasil menyelamatkan diri dengan cara melompat keluar melalui jendela bus sebelum kendaraan hangus terbakar.
Empat penumpang yang selamat masing-masing atas nama Ngadiono (44) dan istrinya Jumiatun (34), warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kemudian M Tahrul Hubaidi (31). Sedangkan korban luka ringan, yakni kernet Bus ALS, M Fadli (30) warga Riau.
1. Sepanjang perjalanan, bus beberapa kali mengalami gangguan teknis

Saat kejadian, Ngadiono tidak mengetahui secara pasti kronologis tabrakan Bus ALS yang ditumpanginya dengan truk tangki minyak. Namun sepanjang perjalanan, bus yang ia ditumpangi beberapa kali mengalami gangguan teknis. Mulai dari kekurangan air radiator hingga kebocoran yang menyebabkan cairan berceceran.
Kerusakan tersebut sempat diatasi sopir hingga kenek bus, sehingga bus terus melaju menuju Kabupaten Muratara. Kekhawatiran Ngadiono terjadi. Bus tiba-tiba menghantam sesuatu, dan langsung disusul ledakan besar.
"Saya hanya merasakan ada benturan keras disusul kobaran api yang dengan cepat membesar membakar bus. Kemudian saya dan istri langsung memanjat keluar lewat jendela untuk menyelamatkan diri," ujarnya.
2. Korban berupaya memanjat untuk keluar jendela agar selamat

Beberapa saat setelah keluar dari bus, ia dan istrinya melihat ada satu penumpang lain berhasil menyusul melompat ke luar. Setelah berhasil keluar, Ngadiono mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa melihat kobaran api semakin membesar disertai suara ledakan dari kendaraan.
"Saya sempat mendengar jeritan penumpang, lalu suara itu hilang saat api membakar seluruh badan kendaraan. Setelah itu saya pingsan dan begitu bangun sudah di rumah sakit," ungkapnya.
Kendati selamat, Ngadiono mengalami luka bakar pada bagian wajah dan tangan. Sementara korban Jumiatun dan Tahrul Hubaidi masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU akibat luka bakar yang dideritanya.
3. Sejak awal perjalanan korban merasakan firasat kurang baik

Atas tragedi tersebut, Ngadiono mengaku masih syok karena sejak awal perjalanan ia merasakan firasat kurang baik. Apalagi kondisi bus yang ditumpanginya tidak layak jalan. Meski sudah ada firasat, ia dan tetap melanjutkan perjalanan menuju Medan dengan alasan tiket yang telah dibeli tidak bisa dikembalikan. Sementara untuk membeli tiket baru, ia tidak memiliki cukup biaya.
"Sepanjang perjalanan, saya merasakan mobil (bus) tersebut tidak layak jalan. Sempat mengalami kendala pada bagian mesin dan radiator yang panas. Saat itu langsung diperbaiki dan jalan lagi," terangnya.
Sebelumnya, dalam laporan kepolisian, jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas ini berjumlah 16 orang. Rinciannya 14 orang dari bus ALS dan 2 orang dari mobil tangki BBM. Sementara terdata adalah sopir dan kernet Bus ALS, kemudian sopir dan kernet truk tangki. Sopir Bus ALS yang tewas terbakar adalah Alif (44) warga Jawa Tengah, sedangkan kernetnya adalah Saf (50) warga Medan, Sumatera Utara. Kemudian sopir truk tangki, Yanto, dan kernetnya Martini.
















