Comscore Tracker

Demi Jaga Tradisi Palembang, Mamad Teruskan Bikin Mainan Telok Abang

Simbol persembahan untuk Ratu Belanda

Palembang, IDN Times - Jelang perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, jenis mainan telok abang khas Palembang akan membanjiri di setiap penjuru kota.

Mainan yang hanya dijual satu tahun sekali itu, menjadi pembeda perayaan hari kemerdekaan di Kota Palembang. Apalagi, bentuk dari rupa dan warna beragam mainan telok abang tersebut membuat orang tertarik untuk membeli. 

Sebenarnya, yang dijual itu adalah mainan dari kayu gabus dengan bentuk rupa bermacam-macam. Mulai dari kapal layar, pesawat terbang, hingga mobil. Nah, pada bagian tengah mainan tersebut ditusukkan telok abang (telur merah). 

Namun, wong Palembang sendiri terbiasa menyebut mainan yang hanya muncul menjelang HUT RI itu, dengan sebutan telok abang.  Biasanya, setiap dua pekan sebelum tanggal 17 Agustus, penjual telok abang mulai ramai.

1. Telok abang sebagai simbol perayaan ulang tahun Ratu Belanda

Demi Jaga Tradisi Palembang, Mamad Teruskan Bikin Mainan Telok AbangIDN Times/Rangga Erfizal

Sedikit berkisah tentang telok abang, Budayawan Palembang, Vebri Al-Lintani mengatakan, sejarah telok abang ini sudah dimulai saat jaman penjajahan belanda. Mainan-mainan tersebut awalnya hanya satu jenis, yakni dalam bentuk kapal-kapal yang sudah dihias untuk persembahan ke pada ratu Belanda kala itu Ratu Wihelmina.

"Jadi dulu telok abang ini sebagai simbol perayaan ulang tahun ratu Belanda, Ratu Wihelmina," kata dia.

Seiring perjalanan waktu, terlebih saat memasuki masa kemerdekaan, semangatnya pun berubah. Telur Abang sendiri memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat. Bentuknya juga beragam, tidak hanya kapal, tapi ada pesawat hingga mobil.

"Tradisi itu berubah setelah kemerdekaan. Telur yang diwarnai warna merah itu maknanya keberanian, putih telur di dalamnya merupakan kesucian. Jadi keberanian yang membalut kesucian. Pengrajin berubah, kreativitas bertambah. Tidak hanya kapal, saat ini banyak ragam jenisnya," jelas dia.

2. Usaha pembuat telok abang sudah turun temurun

Demi Jaga Tradisi Palembang, Mamad Teruskan Bikin Mainan Telok AbangIDN Times/Rangga Erfizal

Sementara, pembuat telok abang, Ahmad Zakaria alias Mamad (45) menuturkan, bahwa sudah menjalani usaha membuat mainan telok abang ini sejak tahun 2002. Mamad sendiri merupakan generasi ke-3 dari pengrajin mainan tersebut. Menurutnya, usaha turun temurun ini dimulai dari neneknya pada tahun 70an dan bertahan hingga kini.

"Dulu saya tidak tepikir kalau mau ngelanjutinnya, cuma karena sering lihat nenek dan ibu saya membikin telok abang, baru kepikiran kenapa tidak saya lanjutin. Sayang juga sudah jadi tradisi," ujar Mamad, saat ditemui IDN TImes di kediamannya Jalan Silaberanti, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang. 

Dalam sehari, ungkap Mamad, mereka mampu membuat 10 hingga 20 mainan berbagai jenis. Mainan tersebut dirancang mulai dari menggambar desain dan bentuknya sesuai ukuran.

"Bentuknya sama pesawat baling-baling, mobil atau pun kapal layar. Untuk sehari, saya bikin bisa 10 sampai 20 mainan, ya kalau dihitung setengah jam untuk 1 mainan," ungkap dia.

3. Terbuat dari pohon kayu gabus

Demi Jaga Tradisi Palembang, Mamad Teruskan Bikin Mainan Telok AbangIDN Times/Rangga Erfizal

Untuk bahan dasar mainan telok abang sendiri, terang Mamad, dibuat dari bahan akar pohon gabus yang didapat di Kota Prabumulih. Karena bahan gabus ini sudah sangat sulit ditemukan di wilayah Palembang.

"Bahannya kita buat dari akar gabus ini. Kita ambil dari Prabumulih, biasa kita pesan Rp250.000 per karung. Untuk satu karung gabus itu bisa kita bikin 100 mainan," terang dia.

Untuk harga mainan yang telah jadi, Mamad mematok harga Rp20.000, dan setiap tahun dapat menjual hingga 1000 mainan dengan beragam jenis bentuk.

"Saya jual dari pengrajin Rp20.000, dan nanti biasanya sudah ada yang memesan untuk dijual kembali. Kalau sudah dipasaran harganya Rp30.000 sampai Rp40.000 per mainan," jelas dia.

Baca Juga: Terjemahan Alquran Berbahasa Palembang, Ide - Tantangan & Local Wisdom

4. Tetap pertahankan cita rasa akar gabus

Demi Jaga Tradisi Palembang, Mamad Teruskan Bikin Mainan Telok AbangIDN Times/Rangga Erfizal

Mainan telok abang masih diminati masyarakat namun, seiring berubahnya jaman banyak juga pengrajin mainan yang mulai memodifikasi mainan dengan bahan-bahan seperti styrofoam. Menurut Mamad, meski begitu dirinya tetap mempertahankan akar gabus sebagai ciri khas mainan telok abang.

"Kalau Styrofoam memang harganya lebih murah cuma cepat patah. Selain itu saya juga mempertahankan tradisi yang ada. Memang cita rasanya lebih dapat kalau membuatnya pakai akar gabus ini," jelas Mamad.

Topic:

  • Sidratul Muntaha

Berita Terkini Lainnya