Palembang, IDN Times - Pandemik COVID-19 yang terjadi secara global berdampak terhadap semua sektor terutama industri bisnis. Akibat perkembangan virus corona, aktivitas ekonomi mati suri hingga perputaran keuangan terseok-seok karena pemerintah menerapkan sejumlah pembatasan.
Pembatasan yang terjadi tentu memengaruhi pertumbuhan ekonomi di Sumatra Selatan (Sumsel). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Sumsel mengalami kontraksi ekonomi pada kuartal II, yakni minus 1,37 persen secara year on year (yoy) jika dibandingkan kuartal sebelumnya, kontraksi lebih besar hingga minus 2,30 persen.
Sementara berdasarkan catatan Bank Indonesia, Sumsel mengalami deflasi 0,28 persen pada Juli 2020, yang dipengaruhi rendahnya daya beli masyarakat terhadap sejumlah komoditas. Permintaan dan penawaran atau supply and demand juga ikut merosot.
Padahal data kuartal ketiga tahun 2019 menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Sumsel yang mengalami inflasi lebih tinggi dari nasional mencapai 5,7 persen. Sedangkan ekonomi Indonesia hanya bergerak dari 5,1 menjadi 5,5 persen. Perlambatan ekonomi tahun lalu dipengaruhi beberapa faktor, seperti turunnya suku bunga dan membuat kondisi inflasi tak mampu terselamatkan.
Menurut Pengamat Ekonomi Sumsel, Amidi, pelemahan ekonomi terjadi karena pandemik COVID-19 memengaruhi bisnis lokal dan regional. Geliat ekonomi tahun 2020 tampak stagnan karena karakteristik Indonesia khususnya Sumsel, mendominasi pergerakkan ekonomi melalui usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
"Konsumen yang masih ragu-ragu dan tidak percaya untuk membeli, membuat ekonomi Sumsel anjlok. Penopang kita sebagian besar dari UMKM," ujar Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) ini kepada IDN Times, Senin (5/10/2020).
![[WANSUS] Pemulihan Resesi Ekonomi Sumsel di Tengah Pandemik COVID-19](https://image.idntimes.com/post/20201005/img-20201003-101153-c4e2841c802025ef6818121488b01796.jpg)