Ukuran Tahu-Tempe Menciut, Warga Muba Pusing Rp100 Ribu Cuma Cukup 3 Hari

Harga plastik naik, bungkus tempe disiasati daun pisang
Pengrajin kurangi volume produksi harian demi tekan biaya operasional
Warga keluhkan lauk paling ekonomis ikut mahal imbas melemahnya rupiah
Musi Banyuasin, IDN Times - Para pedagang di Pasar Randik Sekayu, yang merupakan pasar tradisional sekaligus pusat grosir terbesar di Musi Banyuasin (Muba) mulai mengeluhkan harga modal yang kian melejit dalam sebulan terakhir. Salah satunya adalah pengrajin tahu-tempe yang selama ini bergantung pada bahan baku kedelai.
Kenaikan harga kedelai membuat para pedagang harus putar otak menekan biaya produksi agar barang tetap laku. Belum lagi harga plastik yang ikut naik drastis dari biasanya. Alhasil, demi mempertahankan harga jual kepada konsumen, ukuran tahu tempe dibuat mengecil.
1. Warga keluhkan lauk paling ekonomis ikut mahal

Masyitoh, warga Sekayu, mengeluhkan harga kebutuhan bahan pokok saat ini yang membuatnya sakit kepala. Bahkan untuk lauk ekonomis sekelas tahu tempe saja terimbas.
"Harganya masih normal meski ukurannya mengecil. Itu baru tempe, belum harga ayam, ikan, telur, sampai cabai dan bawang. Semuanya naik," ungkapnya.
IRT ini pun geram dengan pernyataan Presiden terkait melemahnya rupiah terhadap dolar yang tidak berpengaruh kepada warga desa seperti dirinya. Ia mencontohkan bahwa dulu membawa uang Rp100 ribu ke pasar bisa mencukupi bahan pangan selama 5 hari.
"Sekarang bawa Rp100 ribu cuma bisa makan 3 hari. Belum dihitung beras dan minyak goreng yang harganya melejit. Kami warga di kampung ini juga merasakan dampaknya," ucapnya.
2. Tahu dan tempe paling laku karena lauk andalan di rumah

Husna, salah satu pedagang di Pasar Randik, mengaku selama ini berjualan tahu dan tempe paling laku karena andalan warga untuk lauk di rumah. Dengan mahalnya harga bahan baku kedelai, mereka khawatir daya beli menurun jika harus menaikkan harga dari sebelumnya.
"Biasanya dijual per potong Rp5 ribu. Kalau ukuran pilih itu 3 potong, Rp10 ribu. Sekarang ini ukurannya memang mengecil, tapi harganya tetap sama," ujarnya, Senin (8/6/2026).
3. Harga plastik naik, bungkus tempe disiasati daun pisang

Belum lagi persoalan harga plastik untuk bungkus tempe yang ikut naik. Karena untuk pembungkus tempe dibutuhkan plastik tebal agar proses fermentasi padat dan bagus. Namun, sebelumnya harga plastik Rp10 ribu per pak kini naik menjadi Rp13 ribu–Rp15 ribu per pak.
"Biasanya pengrajin tempe mensiasati dengan bungkus daun pisang agar lebih hemat. Soal ukuran yang mengecil, sebenarnya ada pembeli yang sadar dan ada yang tidak. Namun, sejauh ini tidak ada protes karena semuanya juga tahu harga barang naik. Sudah syukur kalau tempe dan tahu ini bisa habis terjual karena tak bisa disimpan lama," ungkapnya.
4. Kurangi volume produksi harian demi tekan biaya operasional

Pengrajin tahu tempe lain, Jamal, menyebutkan saat ini harga kedelai menyentuh Rp11 ribu per kilogram. Mereka bahkan mengurangi volume produksi harian untuk menekan biaya operasional.
"Kalau sampai berhenti produksi itu tidaklah, karena di pasar tahu tempe masih laku. Kami juga masih punya stok kedelai. Tapi tolonglah kepada pemerintah, kalau kedelai impor harganya mahal maka stoknya di dalam negeri harus banyak," ujarnya
Menurutnya, kenaikan ini berdampak langsung pada ongkos produksi. Banyak pengusaha yang kesulitan mempertahankan margin keuntungan mereka. Maka mereka memilih untuk bertahan meskipun harus mengurangi ukuran tahu atau menurunkan skala produksi.
"Sempat khawatir juga lihat kabar banyak pabrik tahu tempe tutup di daerah lain. Bagaimana tak tutup kalau biaya produksi bengkak sementara keuntungan menipis bahkan habis modal. Maka itu kami berharap pemerintah harus serius menanganinya persoalan impor kedali ini," tegasnya.


















