Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kala Sungai Musi Surut, Pantai Pasir Timbul dan Embung Makin Kering

Kab. Musi Banyuasin
Kala Sungai Musi Surut, Pantai Pasir Timbul dan Embung Makin Kering
Kondisi Sungai Musi di Sekayu, Kabupaten Muba mengalami penyusutan drastis pada Minggu ke-3 Agustus 2026. (IDN Times/Yuliani)
  • Beberapa kota dan kabupaten yang dilintasi sungai dilaporkan mengalami penyusutan tajam Tinggi Muka Air

  • Debit air baku yang berasal dari Sungai Musi dan embung saat ini memang mengalami penurunan

  • Khusus di wilayah perairan yang terhubung dengan laut seperti Muara Musi, perubahan pasang dapat memengaruhi TMA sungai

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Musi Banyuasin, IDN Times - Raut bahagia dan penuh semangat terpancar jelas di puluhan wajah anak-anak yang mencoba turun ke tengah Sungai Musi, tepatnya di area Waterfront Sekayu, Musi Banyuasin (Muba). Mereka asyik bermain pasir di tepian sungai yang dangkal akibat surut selama kemarau sejak Juni 2026. Warga lokal menyebutnya bongen atau pasir. Kapan lagi, pikir mereka, bisa bermain di tengah sungai yang hanya setinggi betis orang dewasa tersebut tanpa takut terseret arus.

Bukan fenomena baru jika Sungai Musi yang mengalir di jantung Kota Sekayu ini menyusut tajam dan menimbulkan hamparan pasir putih bak pantai. Setiap Agustus, warga selalu antusias menantikan momen untuk mandi bongen. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muba bahkan membuat agenda rutin wisata tahunan agar Pantai Bongen menjadi destinasi alam menarik untuk dikunjungi.

Salah satu warga Sekayu, Ekot, mengatakan surutnya sungai membawa berkah bagi mereka, para pedagang kecil. Sebab dengan ramainya pengunjung yang datang ke Bongen Sungai Musi, pendapatannya ikut meningkat.

"Tahun ini cukup lama bongen muncul. Biasanya kalau air pasang tingginya hanya berjarak setengah meter dari badan jalan. Kali ini jarak menurunnya cukup jauh dari bibir sungai," ungkap penjual minuman dingin ini.

  1. 1. Tinggi muka air Sungai Musi mengalami susut sampai 1,5-2 meter

    Warga Sekayu saat bermain di Pantai Bongen, atau Sungai Musi yang surut akibat kemarau.
    Warga Sekayu saat bermain di Pantai Bongen, atau Sungai Musi yang surut akibat kemarau. (IDN Times/Yuliani)

    Hanya saja, di balik euforia Pantai Bongen, kali ini musim kemarau sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kemunculan fenomena 'El Nino Godzilla' membuat musim kemarau di Indonesia lebih panjang dan kering. Tak terkecuali di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel). Beberapa kota dan kabupaten yang dilintasi sungai dilaporkan mengalami penyusutan tajam Tinggi Muka Air (TMA).

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muba melaporkan, untuk ukuran kondisi TMA Sungai Musi biasanya mulai dilaksanakan pengukuran ketika debit air di atas permukaan tebing sungai. Saat ini TMA Sungai Musi di Sekayu mengalami penyusutan drastis hingga mencapai sekitar 1,5 hingga 2 meter akibat musim kemarau.

    "Beberapa wilayah ada yang sampai kekeringan, bahkan tim pemadam Karhutla sempat terkendala karena tidak ada sumber mata air," ujar Kalaksa BPBD Muba, Marko Susanto.

    Namun, untuk kondisi saat ini, pihaknya tidak lagi melaksanakan pengukuran karena kondisi air sungai sudah sangat surut, bahkan di beberapa tempat sudah terlihat dasar yang mengering berupa pasir atau bongen.

    "Penurunan debit air ini dipengaruhi oleh minimnya curah hujan selama musim kemarau, sehingga pasokan air dari wilayah hulu berkurang. Fenomena ini umum terjadi saat musim kemarau. Meski demikian, kondisi tersebut masih terus kami pantau untuk mengantisipasi dampak yang dapat ditimbulkan," ucapnya.

  2. 2. Embung kering, 9 PDAM hentikan aliran air lewat pipa

    Kondisi Sungai Musi di Sekayu, Kabupaten Muba mengalami penyusutan drastis pada Minggu ke-3 Agustus 2026.
    Kondisi Sungai Musi di Sekayu, Kabupaten Muba mengalami penyusutan drastis pada Minggu ke-3 Agustus 2026. (IDN Times/Yuliani)

    Dampak kekeringan ini sudah mulai dirasakan di wilayah yang mengandalkan embung sebagai sumber air bersih. Hal ini diakui Direktur Utama Perumda PDAM Tirta Randik Muna, Azmi Julian. Ia mengatakan debit air baku yang berasal dari Sungai Musi dan embung saat ini memang mengalami penurunan.

    "Sejauh ini masih normal untuk suplai ke masyarakat, karena pipa kita berada jauh di bawah titik air. Kami memastikan pasokan air bersih kepada pelanggan hingga kini masih aman," ucapnya.

    Pihaknya kini mengandalkan sumber dari sungai yang memang masih tersedia. Sebab daerah yang menggunakan sumber air baku dari embung sebagian sudah tidak dapat beroperasi lagi karena kekeringan.

    "Tercatat sebanyak 9 PDAM yang menggunakan embung tidak bisa lagi mengirim air lewat perpipaan. Beberapa embung yang kering itu seperti PDAM Lokajaya, Bukit Pangkuasan, Air Putih Ilir, Warga Mulya, Sidorahayu, Bukit Indah, Kramat Jaya, Jirak, Sinar Jaya. Air bakunya hanya bisa untuk stok di gron PDAM tersebut dan bisa digunakan untuk masyarakat atau pelanggan yang mengambilnya langsung," ujarnya.

  3. 3. Air ledeng masih mengalir normal ke rumah warga namun kecil

    Kondisi air PDAM di Sekayu, Kabupaten Muba yang mengecil selama musim kemarau 2026.
    Kondisi air PDAM di Sekayu, Kabupaten Muba yang mengecil selama musim kemarau 2026. (IDN Times/Yuliani)

    Azmi menyebutkan, pemantauan kualitas air baku terus dilakukan. Pada musim kemarau tingkat kekeruhan air Sungai Musi menurun karena tingkat keasaman (pH) cenderung ikut turun selama musim kemarau yang berlangsung panjang.

    "Sebagai langkah antisipasi, kita telah menyediakan layanan pengambilan air bersih secara gratis bagi masyarakat terdampak. Warga cukup membawa jeriken ke kantor unit PDAM terdekat tanpa dikenakan biaya. Masyarakat juga kita imbau menggunakan air secara hemat dan mematikan keran jika tidak digunakan," ungkap Azmi.

    Meski distribusi air bersih ke rumah masih berjalan, namun diakui Rama (35) warga Perumahan Griya Bumi Lestari Kelurahan Balai Agung Sekayu, aliran air sangat lemah. Bahkan air sudah tak mampu lagi mengisi toren (tandon air) jika tak dibantu pompa.

    "Alhamdulillah air hidup terus, tapi sejak awal Agustus alirannya kecil. Beberapa hari lalu sempat keruh, lalu jernih lagi. Jam hidupnya juga tak menentu, kadang tengah malam atau menjelang sore," ujarnya.

  4. 4. Pasang surut Muara Musi dapat diramalkan karena sifatnya yang periodik

    Tabel prakiraan pasang surut Muara Musi.
    Tabel prakiraan pasang surut Muara Musi. (Dok. BMKG Sumsel)

    Sementara, dari laporan Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, prakiraan pasang surut Muara Musi pada Sabtu (22/8/2026) menunjukkan grafik ketinggian yang diukur pada surut terendah atau Lowest Astronomical Tide (LAT). Bersumber dari Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL, tinggi maksimum di angka 3,1 meter terjadi pada pukul 16.00 WIB. Sedangkan tinggi minimum di angka 0,8 meter pada pukul 05.00 WIB.

    BMKG menjelaskan bahwa pasang surut dapat diramalkan karena sifatnya yang periodik. Hal ini dipengaruhi terutama oleh gaya gravitasi bulan dan matahari, sehingga tetap dapat terjadi ketika cuaca sedang kering. Fenomena tersebut berkaitan dengan pasang surut yang berbeda dengan kenaikan muka air akibat hujan.

    Khusus di wilayah perairan yang terhubung dengan laut seperti Muara Musi, perubahan pasang tersebut dapat memengaruhi TMA sungai. Dalam kondisi tertentu, pasang yang tinggi dapat berkontribusi terhadap genangan apabila bersamaan dengan faktor lain, seperti hujan lebat, drainase yang tidak optimal, atau kondisi muka air yang sudah tinggi.

    Diketahui batas surut wajar harian akibat pasang surut alami biasanya turun hingga kisaran 0,3 sampai 0,6 meter. Namun, saat puncak musim kemarau, TMA dapat turun di bawah 1 meter dari batas normal yang biasanya di atas 3 meter dan sudah dikategorikan sebagai surut ekstrem di bawah normal.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More