Tren Hotspot Sumsel Menurun, Pesawat OMC Semai 1 Ton NaCl di Muba

Untuk bulan Agustus 2026 jumlah hotspot di Sumsel mencapai 17.088 titik, dan merupakan jumlah hotspot bulanan tertinggi sejak tahun 2015
Hingga 1 September 2026, angka kejadian karhutla di Sumsel mencapai 2.175 kasus
Pesawat C208B milik PT Makson Sukses Pratama melaksanakan penyemaian awan di wilayah Muba dengan membawa bahan semai berupa NaCl
Musi Banyuasin, IDN Times - Tren hotspot (titik panas) di Sumatra Selatan (Sumsel) dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan yang signifikan. Sebelumnya sempat terdata ribuan titik pada Agustus 2026, kini hotspot yang terdeteksi di Sumsel melandai angkanya menjadi ratusan titik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel melaporkan, jumlah hotspot pada Rabu (2/9/2026) pukul 05.00 WIB terdeteksi 659 titik. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) masih menjadi penyumbang hotspot terbanyak, yakni 192 titik, lalu Banyuasin 167 titik, Muara Enim 72 titik, Musi Banyuasin (Muba) 61 titik, dan Ogan Ilir 54 titik.
1. Agustus 2026 jumlah hotspot di Sumsel mencapai 17.088 titik

Peta sebaran hotspot Indonesia pada Sabtu (29/8/2026). (Dok. SiPongi kemenhut) Kabid Penanganan Darurat dan Logistik BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan beberapa wilayah di Sumsel sudah diguyur hujan ringan. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab jumlah hotspot ikut menyusut.
"Sebelumnya, pada Agustus 2026 menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu lebih dari satu dekade. Untuk bulan Agustus 2026, jumlah hotspot di Sumsel mencapai 17.088 titik dan merupakan jumlah hotspot bulanan tertinggi sejak tahun 2015," ujarnya.
Berdasarkan data rekapitulasi yang ada di BPBD Sumsel, hotspot bulanan tertinggi pernah tercatat sebanyak 11.584 titik pada September 2015. Saat itu, akumulasi hotspot yang terdeteksi sepanjang Januari-Desember sebanyak 27.043 titik dan menjadi yang tertinggi hingga kini.
2. Angka kejadian karhutla di Sumsel mencapai 2.175 kasus

Tim Manggala Agni Daops Sumatra XV/Muba saat mencari sumber air untuk pemadaman karhutla di Muara Medak. (Dok. Manggala Agni) Peningkatan hotspot pada Agustus juga seiring dengan semakin tingginya jumlah kejadian karhutla di Sumsel. Hingga 1 September 2026, angka kejadian karhutla di Sumsel mencapai 2.175 dengan indikasi luas karhutla mencapai 1.926,2 hektare.
"Hasil patroli udara dan tim darat pada 1 September, ditemukan karhutla sebanyak 45 kejadian dan Kabupaten OKI terbanyak dengan 12 firespot (titik api). Upaya pemadaman menggunakan helikopter water bombing serta operasi darat oleh satgas gabungan," ungkap Sudirman.
3. Potensi Awan Hujan Muncul, Pesawat OMC Semai 1 Ton NaCl di Muba

Tim OMC usai melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Selasa (1/9/2026). (Dok. BPBD Muba) Sementara itu, potensi awan hujan yang muncul di wilayah Kabupaten Muba dimanfaatkan untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Selasa (1/9/2026). Pesawat C208B milik PT Makson Sukses Pratama melaksanakan penyemaian awan di wilayah Muba dengan membawa bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 1.000 kilogram.
Kepala BPBD Muba, Marko Susanto, mengatakan pelaksanaan OMC dilakukan karena terdapat potensi awan hujan yang terpantau di wilayah Muba. Pelaksanaan penyemaian dilakukan pada Selasa sore dan selesai sekitar pukul 18.30 WIB.
Berdasarkan laporan pergerakan pesawat, misi OMC Sumsel tersebut dilakukan pada area blocking dengan radial 270-330 pada jarak 60-90 nautical mile (nm), dengan wilayah semai mencakup Muba.
"Kita berharap pelaksanaan OMC tersebut dapat membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah Muba, terutama di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung dan meningkatnya ancaman kebakaran hutan, kebun dan lahan (karhutbunla)," ungkapnya.

















