Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sepekan Karhutla Muara Medak Belum Padam, Lais Catat Hotspot Terbanyak
Kondisi kebakaran lahan di Muara Medak, Bayung Lencir. (Dok. BPBD Muba)
  • Kecamatan Lais mencatat 47 hotspot, tertinggi di Musi Banyuasin hingga 29 Juli 2026; total kabupaten mencapai 253 titik, dengan lonjakan 121 titik pada Juli.
  • Kebakaran lahan gambut seluas sekitar 20 hektare di Dusun V, Desa Muara Medak, Bayung Lencir, belum padam sejak 24 Juli meski pemadaman dan pendinginan terus dilakukan.
  • Tim gabungan mengerahkan pompa, water bombing helikopter, serta sekat bakar; tanah gambut tebal, api bawah permukaan, akses sumber api, dan minimnya hujan menghambat penanganan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Musi Banyuasin, IDN Times – Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menjadi wilayah dengan penyumbang titik panas (hotspot) terbanyak pada musim kemarau tahun ini. Tercatat, terdapat 47 hotspot pada periode 1 Januari hingga 29 Juli 2026.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muba, selain Lais, ada Kecamatan Batang Hari Leko yang menyumbang 44 titik, Sungai Keruh 30 titik, Tungkal Jaya 28 titik, dan Bayung Lencir 25 titik. Bahkan di wilayah Muara Medak, Bayung Lencir, kebakaran lahan gambut seluas 20 hektar masih belum padam sejak 24 Juli 2026.

1. Wilayah dengan hotspot tinggi menjadi prioritas pemantauan dan patroli

Rekap hotspot di Kabupaten Muba periode Januari-Juli. (Dok. BPBD Muba)

Kepala BPBD Muba, Marko Susanto, mengatakan sejumlah wilayah menjadi perhatian khusus karena mencatat hotspot cukup tinggi. Salah satunya adalah Kecamatan Lais yang hingga 29 Juli 2026 menjadi penyumbang hotspot terbanyak di Kabupaten Muba.

"Selama periode tersebut terdeteksi 253 hotspot, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada Juli yang mencapai 121 titik. Lais menjadi salah satu wilayah hotspot yang tercatat melalui satelit dan ground check," ujarnya, Rabu (29/7/2026).

Saat ini wilayah dengan hotspot tinggi menjadi prioritas pemantauan dan patroli. Pihaknya terus berkoordinasi dengan TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kecamatan hingga desa untuk mencegah hotspot berkembang menjadi kebakaran.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Jika menemukan titik api, segera laporkan kepada aparat setempat atau BPBD agar bisa segera ditangani sebelum meluas," imbaunya.

2. Kondisi lahan gambut membuat api bertahan di bawah permukaan tanah

Kondisi kebakaran lahan di Muara Medak, Bayung Lencir. (Dok. BPBD Muba)

Sementara itu, sekitar 20 hektare lahan di Dusun V Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir masih terbakar hingga Rabu (29/7/2026). Sampai sekarang api masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Tim gabungan hingga saat ini masih berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan karena kebakaran terjadi di lahan gambut tebal yang menyulitkan penanganan.

Marko menambahkan, upaya pemadaman sebenarnya telah dilakukan sejak 24 Juli 2026. Namun, kondisi lahan gambut membuat bara api masih bertahan di bawah permukaan tanah.

"Hingga saat ini, api masih belum padam sehingga upaya pemadaman akan kembali dilanjutkan bersama seluruh unsur yang terlibat," jelasnya.

Lanjutnya, proses pemadaman melibatkan personel TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni Daops Muba, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Masyarakat Peduli Api (MPA), Regu Pemadam Kebakaran (RPK) perusahaan, dan masyarakat.

"Pada proses pemadaman dan pendinginan menggunakan pompa jinjing atau mini strike. Selain itu, pemadaman udara melalui water bombing menggunakan helikopter PT Sinarmas juga dikerahkan. Untuk mencegah api meluas, empat unit alat berat perusahaan diturunkan untuk membuat sekat bakar," terangnya.

3. Area yang terbakar didominasi vegetasi semak belukar

Kondisi kebakaran lahan di Muara Medak, Bayung Lencir. (Dok. BPBD Muba)

Menurutnya, area yang terbakar didominasi vegetasi semak belukar dengan kondisi tanah gambut tebal dan sumber air berasal dari kanal di sekitar lokasi.

"Kendala yang kami hadapi adalah tanah gambut yang tebal, sumber api yang sulit dijangkau, serta keterbatasan personel dan peralatan. Karena itu, seluruh tim masih terus berupaya agar api dapat segera dipadamkan dan tidak meluas," ucap Marko.

Meski sebagian wilayah Kecamatan Bayung Lencir diguyur hujan, hujan tidak turun di lokasi kebakaran sehingga proses pemadaman belum maksimal.

"Kita terus berupaya melakukan pemadaman sampai api benar-benar padam sepenuhnya. Selain itu, masyarakat dan perusahaan agar terus berkontribusi dalam pemadaman," terangnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article