Kisah Sang Panglima Api Manggala Agni, Pantang Pulang Sebelum Karhutla Padam

- Manggala Agni Daops XIV Sumatra siaga menangani karhutla Ogan Ilir sejak April, dengan dua regu bergiliran tinggal di pos Pegayut dan pantang pulang sebelum api padam.
- Mat Junani, kepala regu yang bertugas sejak 2006, menekankan jiwa korsa, kekompakan tim, serta dukungan logistik sebagai modal menghadapi medan dan risiko pemadaman.
- Selain memantau kondisi fisik-psikologis personel, Mat mengaku waktu bersama keluarga berkurang; apresiasi warga saat kebakaran Desa Ibul 1 juga menambah semangat tim.
Ogan Ilir, IDN Times – Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana ekologis yang terjadi setiap tahun di Sumatra Selatan. Di balik itu, kehadiran Manggala Agni dan tim gabungan lainnya menjadi garda terdepan dalam proses pemadaman dan menjaga lahan agar tetap jauh dari kobaran si jago merah.
Tentunya pekerjaan penuh risiko dan tantangan ini menuntut pengorbanan besar bagi tim Manggala Agni. Seperti yang diungkapkan Mat Junani, Kepala Regu IV, Daops XIV Sumatra wilayah kerja Banyuasin. Pria yang juga Komandan Api di lapangan ini terpaksa tinggal di zona rawan bersama tim demi penanggulangan awal kebakaran.
Saat ini Mat, sapaan akrabnya, tengah berjibaku menangani Karhutla di Kabupaten Ogan Ilir, salah satu titik rawan Karhutla di Sumsel. Bahkan setelah keluarnya informasi BMKG terkait kemarau, timnya sudah siaga penuh sejak April kemarin. Bagi mereka, pantang pulang sebelum karhutla padam.
"Kalau di Ogan Ilir itu pos kita di Pegayut, sengaja ngontrak rumah di sana selama masa penanganan karhutla ini. Dulu sempat pasang tenda, tapi karena dirasa cukup lama di sana, jadi kami memilih cari kontrakan," ujarnya.
1. Harus mencintai pekerjaan walau penuh risiko

Ada sekitar dua regu yang siaga di posko Pegayut selama musim kemarau ini. Mereka memilih mengontrak rumah karena sebagian besar personel Manggala Agni bukan warga asli Ogan Ilir.
"Kami ada sistem rolling, jadi ada 4 regu dalam 1 Daops. Nanti giliran, 2 ada yang jaga piket di Daops, lalu 2 lagi ke Ogan Ilir. Ada sistem rolling," jelasnya.
Perjalanan Mat Junani di Manggala Agni bukan sebentar. Sejak 2006, ia sudah berjibaku dengan kebakaran di alam sampai mengantarkannya ke posisi kepala regu. Diakuinya, meski pekerjaan ini penuh risiko, seberat apa pun itu bisa teratasi.
"Kalau sudah mencintai pekerjaan itu, walau berat, kita tetap happy. Dari awal kami dididik jiwa korsa, yang kuat melindungi yang lemah. Jadi sudah ditempa untuk kuat dan menghadapi segala risikonya," ungkapnya.
2. Kekompakan tim menjadi kunci agar kebakaran segera teratasi

Bagi Mat, selama dirinya menjadi bagian dari Manggala Agni, belum ada tantangan berat karena selalu kompak dikerjakan bersama tim. Jika ada permasalahan dan rintangan, maka dengan cepat dicarikan solusi agar segera teratasi.
Mat mengenang tahun 2015, ketika itu kasus Karhutla di Sumsel sangat tinggi, bahkan menjadi sorotan internasional.
"Waktu itu di daerah Leban Serai, kami pakai perahu dan berjalan puluhan kilometer sambil memikul peralatan. Tapi kami tidak patah semangat. Kuncinya adalah kekompakan, sehingga seluruh rasa letih itu bisa dituntaskan," ucapnya.
Terlepas dari itu, Mat mengungkapkan bahwa tantangan teknis di pekerjaan bukan sesuatu yang berat dan menjadi ganjalan selama ia menekuni profesi ini.
"Support dari atasan itu selalu penuh. Yang namanya logistik, konsumsi, dan suplemen tidak pernah putus," tegasnya.
3. Tak hanya personel, keadaan keluarganya pun tak luput dari perhatian

Hanya saja, sebagai kepala regu, ia memiliki tanggung jawab lebih terhadap anggotanya guna memastikan semuanya berjalan lancar. Apalagi, atmosfer pekerjaan yang selalu tinggi berhadapan dengan api dan cuaca tak menentu.
"Ada 4 danru di sini. Kami sebagai leader selalu sharing dan mengamati siapa anggota yang terlihat capek, sakit, dan sebagainya. Maka kami istirahatkan dulu, jangan sampai tensi tinggi memengaruhi kinerja," ujarnya.
Bahkan Mat pun harus memahami kondisi maupun keadaan anggota keluarga personelnya. Karena saat bekerja di lapangan, seseorang harus memiliki kondisi psikologis yang baik tanpa tekanan dari luar.
"Sangat perlu memahami kondisi personel, jadi kita akan mudah mencari solusinya dan mengetahui tekanan dari luar. Saya sering ajak mereka guyon, bersenda gurau agar ketegangan saat memadamkan api hilang. Begitu api sudah padam, kita happy lagi. Intinya di lapangan itu jangan tegang," ujar pria asli Banyuasin ini.
4. Terharu dengan respon masyarakat dan anak-anak

Menurutnya, tidak dipungkiri bahwa wilayah kerja saat ini penuh tantangan. Ia menyebutkan, Ogan Ilir secara bentang alam unik karena di atas permukaan ada api, tapi di bawah masih ada air.
"Kami itu kalau berjalan ke sana ngoyok, setinggi paha ini terbenam. Banyak cacingnya, tapi tetap harus maju jalan. Aksesnya berat. Kendaraan tidak bisa lewat jadi terpaksa memikul peralatan dengan jarak cukup jauh. Terdengar ekstrem, tapi karena kami sudah terbiasa, jadi tidak terlalu berat," terangnya.
Mat menceritakan bahwa respons positif dari masyarakat merupakan salah satu sistem support terbaik yang mereka terima selama pemadaman.
Seperti yang terjadi saat pemadaman di Desa Ibul 1 baru-baru ini. Saat itu, 10 hektare lahan terbakar dan hampir merembet ke permukiman. Tim langsung bergerak melakukan penanganan di sana yang berpotensi besar masuk permukiman.
"Reaksi ibu-ibu di sana sungguh membuat kami terharu, karena mereka berulang kali mengucapkan terima kasih dan sangat bersyukur atas kehadiran kami. Apalagi, anak-anak bersorak gembira meneriakkan 'Hore, Manggala Agni datang!'. Mendapat respons itu membuat kami terharu dan tambah semangat bekerja," ucap Mat.
5. Jarang membersamai keluarga, namun diidolakan sang anak

Namun, Mat mengakui sisi terharu lainnya selama menjadi bagian dari Manggala Agni adalah kurangnya waktu untuk membersamai keluarga. Apalagi, musim kemarau bertepatan dengan tahun ajaran baru, ketika anak-anak butuh pendamping ekstra dari orang tuanya.
"Orang rumah (istri) mengurus seluruh keperluan sekolah anak. Saya tidak bisa membantu, karena ditangguhkan. Istri juga pengertian, kadang antar-sekolah anak sendiri walau saya tidak ada. Waktu liburan yang singkat terpaksa dialihkan karena saya sedang bertugas. Itulah yang membuat saya terharu," ungkap ayah 5 anak ini.
Anak-anak Mat pun sudah paham pekerjaan ayahnya yang penuh risiko dan sering di lapangan. Bahkan dengan bangga menyaksikan Mat di televisi saat bertugas.
"Ada anak saya yang ingin seperti bapaknya. Karena setiap anak itu kan pasti mengidolakan bapaknya. Tentunya kita sebagai orang tua mengharapkan yang terbaik untuk anak-anak," ucap Mat.




















