Palembang, IDN Times - Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Selatan, Alex K. Eddy, mengeluhkan kondisi industri karet di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Menurutnya, imbas perang itu dikhawatirkan mendorong lonjakan biaya produksi. Sebab, dalam produksi karet dibutuhkan bahan baku penolong utama seperti plastik.
"Akibat perang dan penutupan Selat Hormuz berdampak langsung terhadap harga minyak dan pelemahan rupiah. Ini mengakibatkan biaya produksi membengkak, terutama naiknya harga bahan baku penolong utama seperti plastik," ujarnya, Senin (6/4/2026).
