Unsri Buka Peluang MBG Masuk Kampus, Rektor: Saya Tidak Alergi

- Universitas Sriwijaya membuka peluang program Makanan Bergizi Gratis (MBG) masuk kampus karena memiliki program studi gizi yang relevan dengan kebutuhan Badan Gizi Nasional.
- Rektor Unsri Taufik Marwa menegaskan tidak menolak rencana dapur MBG, namun pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing perguruan tinggi.
- Taufik menilai penerapan MBG di kampus sah-sah saja selama sesuai dengan jurusan terkait seperti gizi atau kesehatan lingkungan, serta bertujuan membantu pemenuhan gizi mahasiswa.
Palembang, IDN Times - Universitas Sriwijaya (Unsri) membuka peluang program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk masuk kampus. Apalagi, Unsri memiliki program studi ahli gizi di bawah naungan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yang relevan dengan kebutuhan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam mewujudkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
"Saya tidak alergi terhadap perlu mengelola MBG atau tidak. Saya tidak seperti itu (menolak). Kalau misalnya punya kemampuan, kenapa tidak," ujar Rektor Unsri Taufik Marwa, Senin (25/5/2026).
1. MBG masuk kampus harus disesuaikan dengan kemampuan

Lebih lanjut, ia menegaskan soal rencana dapur MBG masuk Unsri dalam waktu dekat; dirinya tak menutup kemungkinan. Bisa ada, bisa tidak. Sebab, semua potensi bisa saja dikembangkan asal sesuai kebutuhan.
"Semuanya mungkin. Jadi dilihat dari kesesuaian, kemudian juga pada kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing perguruan tinggi," jelasnya.
2. Sebut MBG masuk kampus merupakan hal wajar

Taufik menyampaikan bahwa maksud dari dapur MBG masuk ke kampus harus menyesuaikan dengan kemampuan, yaitu kesesuaian yang diperlukan. Ia memberi contoh seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sejalan dengan program MBG, karena kampus memiliki jurusan tata boga.
"Juga memiliki fakultas atau program studi, misalnya kesehatan lingkungan, gizi. Itu menurut saya wajar-wajar saja memiliki itu (MBG masuk kampus). Karena memang sangat sesuai, kemudian memang ada program gizi," kata dia.
3. Berusaha memberi yang terbaik bila memang ada MBG di kampus

Dirinya melanjutkan, tidak ada yang salah dengan program MBG yang masuk dalam lingkungan perguruan tinggi. Tetapi harus dilihat dari kesesuaian dan tiap jurusan tidak harus sepenuhnya merealisasikan penyediaan dapur MBG.
"Kita pertimbangkan, kalau misalnya nanti, kalau memang dirasakan perlu (MBG di kampus) untuk membantu, prinsipnya kita berusaha untuk memberikan yang terbaik," jelas Taufik.

















