Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Blackout Sumatra, STuEB: Bukti Rapuhnya Sistem Kelistrikan Berbasis Batu Bara

Blackout Sumatra, STuEB: Bukti Rapuhnya Sistem Kelistrikan Berbasis Batu Bara
ilustrasi mati lampu (pexels.com/Thirdman)
Intinya Sih
  • Pemadaman listrik massal di berbagai wilayah Sumatra lebih dari 24 jam menunjukkan rapuhnya sistem kelistrikan terpusat yang masih bergantung pada energi fosil, terutama batu bara.
  • Blackout menyebabkan kerugian ekonomi besar hingga triliunan rupiah dan menimbulkan korban jiwa akibat penggunaan genset, serta mengganggu layanan publik seperti rumah sakit dan transportasi.
  • STuEB mendesak pemerintah menerapkan desentralisasi energi berbasis daerah dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan seperti surya, air, dan panas bumi untuk memperkuat ketahanan listrik Sumatra.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Palembang, IDN Times – Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB) menyoroti pemadaman listrik massal atau blackout yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra pada Jumat (22/5/2026). Pemadaman yang berlangsung lebih dari 24 jam itu dinilai menunjukkan rapuhnya sistem kelistrikan terpusat yang masih bergantung pada energi fosil.

Blackout terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Jambi, sebagian Sumatra Selatan, Bengkulu, hingga Lampung. PT PLN menyebut gangguan dipicu masalah pada jaringan transmisi 275 kV di wilayah Jambi.

STuEB menilai insiden tersebut bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, blackout serupa juga melanda Sumatra pada Juni 2024 akibat gangguan transmisi jalur Lubuk Linggau-Lahat.

1. Aktivis soroti ketergantungan pada batu bara

PT PLN Indonesia Power UBP PLTU Pangkalan Susu
PT PLN Indonesia Power UBP PLTU Pangkalan Susu (Dok. IDN Times)

Konsolidator STuEB dari Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, menilai sistem kelistrikan saat ini tetap dipertahankan meski dianggap rapuh karena berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan politik. Menurutnya, blackout berulang seharusnya menjadi momentum untuk mendorong demokratisasi energi dan mengurangi dominasi batu bara.

Sementara itu, Syahwan dari Yayasan Anak Padi Lahat menilai eksploitasi batu bara justru membawa dampak buruk bagi masyarakat sekitar tambang.

“Warga lingkar tambang menjadi tumbal dari praktik industri ekstraktif,” ujarnya.

Ia menilai blackout di Sumatra menjadi bukti bahwa ketergantungan terhadap energi batubara belum mampu menjamin ketahanan listrik.

2. Rugi triliunan rupiah, sebabkan korban jiwa

Kemacetan panjang terjadi di pertigaan Jalan Jamin Ginting - dr Mansur (USU) karena pemadaman listrik
Kemacetan panjang terjadi di pertigaan Jalan Jamin Ginting - dr Mansur (USU) karena pemadaman listrik. (IDN Times/Prayugo Utomo)

STuEB menilai sistem kelistrikan terpusat membuat seluruh wilayah lumpuh ketika satu jalur transmisi mengalami gangguan. Kadin Sumatra Selatan memperkirakan kerugian dunia usaha akibat blackout mencapai Rp2 triliun hanya di Sumatra Selatan.

Koalisi menilai kerugian di seluruh Sumatra bisa jauh lebih besar karena banyak industri dan pelaku usaha kehilangan produktivitas selama listrik padam. Ketika satu titik transmisi utama rusak, seluruh pulau ikut lumpuh.

Koalisi menilai dampak blackout tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu korban jiwa dan kerugian ekonomi besar. Di Kabupaten Batubara, Sumatra Utara, dua pekerja toko aksesori ponsel ditemukan meninggal dunia, diduga akibat keracunan asap genset saat listrik padam.

Korban lain juga dilaporkan di Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Dua pelajar meninggal dunia akibat diduga menghirup asap genset selama pemadaman berlangsung.

Selain itu, blackout disebut menyebabkan terganggunya jaringan komunikasi, layanan rumah sakit, transportasi publik, aktivitas hotel, ATM, hingga industri.

3. STuEB dorong sistem energi berbasis daerah, harus manfaatkan energi terbarukan

Ilustrasi energi terbarukan
Ilustrasi energi terbarukan (unsplash.com/American Public Power Association)

Koalisi mendesak pemerintah dan PLN segera menerapkan desentralisasi sistem kelistrikan berbasis energi bersih di masing-masing daerah. Menurut STuEB, sistem tersebut dinilai lebih aman karena gangguan di satu wilayah tidak akan memengaruhi daerah lain.

Anggota STuEB dari Apel Green Aceh, Syukur Tadu, mengatakan blackout menjadi bukti lemahnya ketergantungan pada sistem energi terpusat.

“Di tengah ancaman krisis iklim dan ketidakpastian energi fosil, desakan menuju kemandirian energi berbasis masyarakat semakin menguat,” katanya.

Ia menilai potensi energi terbarukan seperti mikrohidro, tenaga surya, hingga energi berbasis komunitas bisa menjadi solusi jangka panjang.

STuEB pun menyebut Sumatra memiliki potensi energi terbarukan yang besar, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, biomassa, hingga angin. Di Sumatra Selatan, misalnya, potensi energi terbarukan disebut mencapai 21 gigawatt (GW). Sementara Sumatra Utara memiliki potensi sekitar 19 GW dan Sumatra Barat sekitar 12,9 GW.

Namun, hingga kini pemanfaatannya dinilai masih minim dibandingkan dengan ketergantungan pada energi fosil dan PLTU batu bara.

Share Article
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika

Latest News Sumatera Selatan

See More