Penghasil Kopi Terbesar, Sumsel Butuh Regenerasi Varietas Berkualitas

Palembang, IDN Times - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023, kebun kopi di Sumatra Selatan (Sumsel) menjadi penghasil biji terbesar di Indonesia, dengan produksi 26 persen. Sayangnya, produksi kopi di Sumsel masih kalah saing dari daerah lain karena beberapa faktor.
Faktor utama yang kini perlu menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) adalah menghasilkan biji dari varietas atau jenis kopi berkualitas.
1. Kopi ranau menjadi salah satu jenis kopi yang berpotensi bersaing global

Penjabat (Pj) Gubernur Sumsel Elen Setiadi mengatakan, kebun kopi di sejumlah kabupaten dengan produksi tertinggi seperti Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, khususnya kopi ranau, perlu rebranding dan mematenkan merek dagang agar mampu bersaing global mengalahkan wilayah lain.
"Kopi yang ada di Sumsel harusnya bisa regenerasi dengan varietas unggul berkualitas yang digemari dunia," kata dia.
2. Usia kebun kopi di Sumsel sudah tua

Selain persoalan varietas yang kurang berkualitas secara global, hambatan kopi Sumsel naik kelas adalah minim pembinaan terhadap kelompok tani. Kemudian modal usaha pemasaran yang juga tak memadai hingga masalah ketersediaan pupuk bersubsidi yang sulit mendorong perkembangan kebun kopi sekaligus jadi agrowisata.
Padahal dengan total luas lahan kebun kopi di Sumsel yang mencapai 200 hektare (ha) lebih sehingga seharusnya mampu memproduksi varietas terbaik dan Sumsel berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari komoditas kopi.
"Kebanyakan kebun kopi Sumsel sudah tua yang semestinya bisa dilakukan peremajaan dengan cara replanting," timpalnya.
3. Vietnam dan Brazil merupakan pesaing penghasil kopi nasional

Peluang kopi Sumsel memiliki merek dagang sebenarnya cukup tinggi, dilihat dari harga kopi yang sempat melambung. Selain itu, peluang ini disokong produksi kopi lokal yang juga melimpah. Belum lagi ketersediaan kopi dari negara lain, seperti Vietnam dan Brasil, sebagai pesaing produsen menurun pada sebulan belakang faktor peralihan musim.
"Brasil menutup ekspor kopi lantaran terkena badai paling parah sehingga, harga kopi dunia menjadi naik," kata Head Gerai Hutan Kopi Roasteri, Reza.
Kenaikan harga kopi tidak hanya terjadi di Sumsel dan hampir terjadi di seluruh dunia. Penyebabnya, gagal panen di kawasan daerah penghasil kopi akibat cuaca dan sangat wajar apabila pengusaha kopi ikut menaikkan harga jual kopi kemasan dan kopi seduh, karena komoditas kopi di Sumsel mencapai nilai tertinggi diangma Rp70 ribu per kilogram.



















