Industri Karet Sumsel Tertekan Dampak Harga Plastik Naik

- Ketua Gapkindo Sumsel, Alex K Eddy, menyebut konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan biaya produksi karet akibat naiknya harga minyak dan bahan baku plastik.
- Kenaikan harga bahan baku utama membuat pabrik harus efisiensi, sementara petani ikut terdampak karena persaingan pembelian meningkat meski harga karet internasional naik belum sepenuhnya menguntungkan produsen.
- Gapkindo khawatir perang berkepanjangan bisa menekan ekonomi negara tujuan ekspor seperti AS, Eropa, Jepang, India, dan Korea Selatan, meski ekspor karet Sumsel masih berjalan stabil tanpa penundaan pengiriman.
Palembang, IDN Times - Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Selatan, Alex K. Eddy, mengeluhkan kondisi industri karet di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Menurutnya, imbas perang itu dikhawatirkan mendorong lonjakan biaya produksi. Sebab, dalam produksi karet dibutuhkan bahan baku penolong utama seperti plastik.
"Akibat perang dan penutupan Selat Hormuz berdampak langsung terhadap harga minyak dan pelemahan rupiah. Ini mengakibatkan biaya produksi membengkak, terutama naiknya harga bahan baku penolong utama seperti plastik," ujarnya, Senin (6/4/2026).
1. Kondisi harga karet saat ini belum menguntungkan produsen

Alex mengatakan, akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz memicu industri karet Sumsel mengalami lonjakan biaya produksi yang diperkirakan dapat menembus lebih dari 10 persen.
Kata dia, dampak perang tidak hanya memicu kenaikan harga energi, tetapi juga mengerek harga bahan baku penolong utama seperti plastik yang digunakan dalam proses produksi karet.
"Walaupun harga karet alam internasional mengalami kenaikan, kondisi ini belum sepenuhnya menguntungkan produsen," jelas dia.
2. Khawatir pabrik karet luar negeri mengurangi jumlah bahan baku dari Sumsel

Adanya kenaikan harga bahan baku utama plastik, lanjut Alex, dari sisi petani juga berimbas dan ikut terdorong kenaikan biaya produksi seiring kompetisi pembelian antarpabrik. Ia mengaku kenaikan harga karet secara internasional memicu lonjakan harga beli bahan baku dari petani.
"Di tengah persaingan pembelian bahan baku, pabrik-pabrik betul-betul harus melakukan efisiensi dan pengetatan anggaran agar bisa tetap eksis,” katanya.
Belum lagi lanjut Alex, ancaman yang lebih besar turut datang dari sisi permintaan global apabila perang berlangsung panjang dan potensi melibatkan lebih banyak negara terlibat.
Gapkindo kata dia, sangat mengkhawatirkan kondisi tersebut bisa melemahkan ekonomi negara-negara tujuan ekspor. Sehingga jelasnya, belanja masyarakat menurun dan pabrik ban dunia mengurangi kapasitas produksi.
“Kalau perang berkelanjutan dan menarik banyak negara ikut berperang, kami khawatir ekonomi negara-negara tersebut melemah dan pabrik-pabrik ban mengurangi produksi mereka. Ini tentu akan berdampak terhadap permintaan karet alam kita,” kata dia.
3. Secara umum ekspor karet belum mengalami keterlambatan kirim

Alex menyebut, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global di tiap negara di dunia melewati kawasan tersebut. Gangguan pada jalur ini, jelasnya, telah memicu kekhawatiran pasar internasional.
"Walaupun mengkhawatirkan, secara umum sampai saat ini belum ada laporan delay shipment, terhadap pergerakan ekspor karet," katanya.
Alex menambahkan, komposisi pasar tujuan ekspor Sumsel juga masih relatif stabil tanpa perubahan signifikan. Adapun negaranya yaitu, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, India, dan Korea Selatan.
Sementara itu, berdasarkan data Gapkindo Sumsel, produksi karet Sumsel pada Januari 2026 turun menjadi 58.742 ton atau sebesar 14,1 persen dibandingkan Januari 2025 yang tercatat sebesar 68.367 ton.
Kemudian pada Februari 2026, produksi juga menurun menjadi 63.674 ton atau 7 persen dibandingkan Februari 2025 yang berada di level 68.466 ton.


















