Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bukan Karena Perang, Sebagian Warga Sumsel Kurangi Plastik Demi Bumi

Bukan Karena Perang, Sebagian Warga Sumsel Kurangi Plastik Demi Bumi
Ilustrasi daur ulang plastik (pexels.com/SHVETS production)
Intinya Sih
  • Sejumlah retail dan minimarket sangat sulit mendapati kantong kresek sekali pakai

  • Masyarakat mulai berkomitmen mengurangi limbah plastik secara bertahap

  • Pemerintah harus berinovasi dan mencarikan solusi agar ada pengganti plastik yang ekonomis

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini rupanya disambut positif oleh sebagian masyarakat. Alasannya bukan karena dampak konflik global di Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku. Melainkan karena memang sudah saatnya mengurangi limbah plastik terutama sekali pakai yang semakin mencemari Bumi.

Perubahan pola hidup yang mengubah kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai ini ternyata sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat di Sumsel, terutama di Kota Palembang. Maka, di sejumlah retail dan minimarket sangat sulit mendapati kantong kresek sekali pakai yang disediakan untuk konsumen.

Jika dulunya berbayar, saat ini sama sekali tidak tersedia dan diganti dengan kantong belanja ramah lingkungan.

1. Masyarakat mulai berkomitmen mengurangi limbah plastik secara bertahap

Ilustrasi limbah plastik
Ilustrasi limbah plastik (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Novita, salah satu warga Jakabaring ini, mengaku memang sulit mengubah pola hidup yang bergantung pada plastik. Namun, setelah beberapa kali ia melihat kampanye lingkungan hidup di media sosial, karyawan swasta ini mulai berkomitmen untuk mengurangi limbah plastik secara bertahap.

"Dulu malas sekali bawa tumbler atau botol minum. Alasannya karena repot dan di kantor selalu beli air mineral kemasan. Tapi setelah dipaksakan, akhirnya jadi kebiasaan bawa tumbler ke mana-mana. Selain hemat, kita juga tidak menyumbang sampah botol plastik sekali pakai," ujarnya.

Tak hanya itu, saat berbelanja ke pasar pun ia berusaha untuk meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai. Maka itu, Novita selalu membawa wadah plastik atau stainless dari rumah untuk bahan pangan basah.

"Misalnya, beli ayam dan ikan, setelah ditimbang dan dibersihkan, langsung masuk thinwall. Beli telur langsung sama papan kartonnya. Kemudian bahan pangan kering seperti bumbu sachet, buah, sayur, semuanya langsung masuk ke tas belanja," ucapnya.

2. Masih banyak masyarakat yang tak mau repot membawa tinwall atau food kontainer

ilustrasi sampah plastik
ilustrasi sampah plastik (pexels.com/ Julia M Cameron)

Novita tak menampik bahwa penggunaan plastik sekali pakai sulit ditinggalkan, terutama untuk bahan yang basah. Selain itu, masih banyak masyarakat yang tak mau repot membawa tinwall atau food kontainer ke pasar atau ke warung makan karena dinilai tidak praktis.

"Kuncinya adalah konsistensi dan komitmen pada diri sendiri. Saya pernah ditertawakan oleh tukang jual tahu di pasar karena beli tahu menolak diwadahi plastik, langsung masuk tinwall. Tapi tak masalah. Pada akhirnya semua akan paham jika cara ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan," ungkapnya.

3. Pemerintah harus mencarikan solusi agar ada pengganti plastik yang ekonomis

Gambar sedotan plastik
Gambar sedotan plastik (unsplash.com/engin akyurt)

Sama halnya dengan Lasma, guru SD di Sekayu, Kabupaten Muba, ini mulai membiasakan diri mengurangi plastik. Tak heran jika eco bag atau tote bag selalu tersedia di jok motornya.

"Kalau belanja ke Indomaret, beli satu atau dua barang, okelah masuk tas. Tapi kalau banyak repot, makanya ke mana-mana bawa tote bag. Konsekuensinya, kalau ketinggalan ya terpaksa beli," jelasnya.

Menurutnya, kenaikan harga plastik karena perang Timur Tengah yang saat ini bergejolak harus dijadikan momentum bagi masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Tinggal bagaimana caranya pemerintah berinovasi dan mencarikan solusi agar ada pengganti plastik yang ekonomis dan tidak merepotkan.

"Saya dengar ada wacana harga barang naik karena plastik ini. Sebetulnya, yang harus dicarikan solusi itu bukan kenaikan harga produk, namun mengedukasi masyarakat baik itu pedagang dan konsumen untuk menyiasati pengganti plastik. Contohnya, bawa kotak bekal kosong ke mana pun bepergian agar bisa beli jajan tanpa plastik. Atau bisa juga buat tas belanja ramah lingkungan dan awet," ucapnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More