Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kisah Pedagang Baju Bekas, Dagangan dan Rumah Dilahap Si Jago Merah

Kota Palembang
3 min read
Kisah Pedagang Baju Bekas, Dagangan dan Rumah Dilahap Si Jago Merah
Kebakaran di rumah Rena pedagang baju bekas di Lorong Sabar (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Kebakaran di Lorong Sabar, 8 Ulu Palembang, Senin 19 Oktober 2026, menghanguskan rumah Rena; ia hanya membawa satu tas dan memprioritaskan keselamatan keluarga.

  • Rena sempat panik mencari dua anak serta orang tuanya saat api membesar, namun seluruh anggota keluarga akhirnya berhasil selamat dari kebakaran.

  • Seluruh stok pakaian untuk usaha daring yang dirintis sejak 2018 ikut terbakar; Rena belum mengetahui nilai kerugian, kelanjutan usaha, dan pemenuhan kebutuhan sekolah anak-anaknya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times – Rena tak sempat menyelamatkan banyak barang berharga miliknya ketika si jago merah mulai membesar dan melahap belasan rumah di Lorong Sabar kawasan 8 Ulu, Palembang. Sesuai nama lorong tempatnya tinggal, Rena harus banyak bersabar lantaran kebakaran menghanguskan rumah tempatnya tinggal sekaligus tempat berdagangnya, Senin (19/10/2026).

Di tengah kepanikan, ia hanya membawa sebuah tas saat bergegas keluar rumah. Pikirannya saat itu tertuju pada keselamatan keluarga, terutama kedua anaknya yang sempat tidak diketahui keberadaannya.

"Saya hanya menyelamatkan tas sikok (satu tas) ini. Sudah itu tidak tahu mau mengambil apa lagi," cerita Rena kepada IDN Times, Selasa (20/10/2026).

  1. 1. Sempat panik saat awal kebakaran

    Kebakaran di rumah Rena pedagang baju bekas di Lorong Sabar
    Kebakaran di rumah Rena pedagang baju bekas di Lorong Sabar (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Awalnya Rena tak mengira ada kebakaran yang mengarah ke tempat tinggalnya. Dirinya yang berada di dalam rumah sempat mengira ada keributan di luar rumah sehingga bergegas untuk mengunci rumah dari dalam.

    Namun, setelah melihat kondisi di luar, situasinya ternyata berbeda dari yang mereka bayangkan. Api sudah membesar dan membuat Rena harus segera menyelamatkan diri.

    "Ternyata bukan orang bebalah (berkelahi) tapi api sudah membesar," jelasnya.

    Di tengah situasi tersebut, Rena juga sempat panik mencari anak-anaknya. Ia belum mengetahui apakah kedua anaknya sudah berhasil keluar dari rumah atau masih berada di dalam. Sementara itu, orang tuanya masih berada di lantai dua.

    Belakangan, ia mengetahui anak-anaknya sudah lebih dahulu keluar. Rena pun bersyukur seluruh anggota keluarganya selamat dari kebakaran tersebut.

    "Saya panik karena anak-anak gak ada di dalam rumah, saya sempat mencari keluar. Lalu saya ingat orang tua masih ada pucuk situ (lantai 2)," jelasnya.

  2. 2. Barang dagangan yang dikumpulkan sejak 2018 tak terselamatkan

    Kebakaran di rumah Rena pedagang baju bekas di Lorong Sabar
    Kebakaran di rumah Rena pedagang baju bekas di Lorong Sabar (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Di balik rasa lega karena keluarganya selamat, Rena menghadapi kenyataan pahit seluruh barang dagangannya tidak berhasil diselamatkan. Pakaian yang selama ini dijualnya secara daring tersimpan di rumah tersebut.

    Usaha itu telah dijalaninya sejak 2018. Selama bertahun-tahun, rumah bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tempat Rena menyimpan stok pakaian sekaligus menjalankan aktivitas jual beli.

    Saat api membesar, ia tak lagi sempat memikirkan barang dagangan yang tertinggal. Menurutnya, keselamatan keluarga menjadi hal terpenting, terlebih ia belum mengetahui keberadaan anak-anaknya.

    "Untuk barang dagangan gak ada lagi yang bisa selamat," ujarnya.

  3. 3. Tas yang diselamatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

    Kebakaran di rumah Rena pedagang baju bekas di Lorong Sabar
    Kebakaran di rumah Rena pedagang baju bekas di Lorong Sabar (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Bagi Rena, tas yang berhasil dibawanya keluar rumah menjadi salah satu barang yang sempat diselamatkan ketika kebakaran terjadi. Namun, ia menjelaskan bahwa tas tersebut bukan sekadar barang yang dibawa saat menyelamatkan diri.

    Tas itu berkaitan dengan kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.

    "Tas ini hanya untuk kita makan. Untuk makan hari-hari," ungkapnya.

    Kebakaran tersebut membuat Rena kehilangan barang dagangan yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga. Sementara itu, ia belum mengetahui bagaimana harus melanjutkan usaha setelah seluruh stok pakaiannya tidak terselamatkan.

    Rena juga belum bisa memperkirakan besarnya kerugian karena masih berusaha memahami situasi yang dihadapinya setelah kebakaran.

    "Kalau kerugian tidak tahu berapa. Belum terpikir mau gimana ke depannya," jelasnya.

  4. 4. Memikirkan kelanjutan usaha dan sekolah kedua anaknya

    Korban kebakaran di kawasan padat penduduk 8 Ulu Palembang
    Korban kebakaran di kawasan padat penduduk 8 Ulu Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Kebingungan Rena tak berhenti pada hilangnya barang dagangan. Ia juga harus memikirkan kebutuhan keluarga setelah musibah tersebut, termasuk pendidikan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

    Selama ini, usaha pakaian yang dijalankannya dari rumah menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, setelah kebakaran, ia belum mengetahui bagaimana bisa kembali berjualan.

    "Saat ini kita masih memikirikan bagaimana anak-anak ke depannya. Anak saya ada dua, satu masih SMP dan satunya SD," jelasnya.

    Bagi Rena, kebakaran itu bukan hanya membuat barang dagangan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun tidak terselamatkan. Musibah tersebut juga membuatnya harus memikirkan kembali bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga dan melanjutkan usaha yang telah dirintis sejak 2018.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More